By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Anak Muda Rentan Obesitas, Pola Makan dan Iklan Digital Jadi Faktor Penyebabnya
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Anak Muda Rentan Obesitas, Pola Makan dan Iklan Digital Jadi Faktor Penyebabnya

Kesehatan

Anak Muda Rentan Obesitas, Pola Makan dan Iklan Digital Jadi Faktor Penyebabnya

Jack
By
Jack
12 months ago
Share
5 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Kasus anak obesitas di Indonesia terus meningkat dalam dua dekade terakhir, seiring tren yang sama di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Berdasarkan data terbaru, satu dari lima anak Indonesia usia 5–12 tahun mengalami overweight atau obesitas, sementara di rentang remaja 13–18 tahun, angkanya mencapai satu dari tujuh.

Contents
Iklan Digital Dorong Anak Pilih Makanan Tidak SehatPeran Influencer dan Selebritas dalam Pola MakanRegulasi Masih Lemah, Perlu DiperbaikiTantangan ke Depan

Fenomena obesitas pada anak ini didorong oleh banyak faktor, namun yang paling dominan adalah pola makan yang kurang sehat. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, menyebut masyarakat ekonomi menengah ke bawah kini lebih banyak mengonsumsi makanan ultraproses dan instan siap saji.

“Alasannya karena lebih mudah didapat dan harganya jauh lebih murah dibanding buah dan sayuran,” ujarnya.

Makanan cepat saji dan minuman manis kini bahkan lebih terjangkau dan lebih mudah diakses ketimbang pangan segar bergizi. Padahal pemerintah telah menyusun pedoman gizi seimbang bagi masyarakat. Namun kenyataannya, banyak anak muda masih kesulitan memperoleh pilihan makanan yang sehat karena faktor ekonomi dan lingkungan.

Iklan Digital Dorong Anak Pilih Makanan Tidak Sehat

Selain pola konsumsi, faktor lain yang memperparah masalah obesitas adalah maraknya iklan makanan tidak sehat di media sosial. Riset dari Inisiatif Fix My Food Indonesia (FIF) dengan dukungan UNICEF membuktikan bahwa iklan digital memengaruhi persepsi anak muda terhadap pilihan makanan.

Penelitian ini melibatkan partisipan berusia 14–29 tahun yang mayoritas tinggal di perkotaan. Hasil analisis FIF menunjukkan tiga alasan utama anak muda memilih makanan tidak sehat:

  • 43 persen memilih berdasarkan tampilan, aroma, dan cara penyajian makanan.
  • 27 persen lebih mempertimbangkan harga murah dan kesenangan saat mengonsumsi, ketimbang kandungan gizi.
  • 13 persen hanya memilih berdasarkan apa yang tersedia di lingkungan mereka.

Selain itu, sebanyak 11 persen responden mengaku sering tergoda promo hemat atau buy one get one, sehingga makan lebih banyak dari yang direncanakan sebelumnya. Kandungan gizi jarang menjadi prioritas utama.

Peran Influencer dan Selebritas dalam Pola Makan

Iklan digital yang menampilkan influencer mempengaruhi pola makan generasi muda hingga sebabkan obesitas.

Pakar gizi UNICEF Indonesia, David Colozza, juga menyoroti temuan serupa dari survei mereka pada Juli–Agustus 2024 terhadap lebih dari 7.000 responden. Mayoritas responden adalah perempuan dari kelompok usia 10–24 tahun.

David menjelaskan, iklan digital yang menampilkan figur publik sangat berpengaruh terhadap perilaku makan generasi muda.

Baca Juga :

Wamenkop Ajak Anak Muda Teladani Tjokroaminoto Dalam Membangun Kemandirian Ekonomi
Tren Gemini AI, Edit Foto Berjas di Lift yang Lagi Viral di Sosmed

“Sekitar 60 persen responden telah melihat iklan makanan tidak sehat yang menampilkan atlet, selebritas, atau influencer,” ungkapnya dalam webinar hasil diseminasi pemasaran makanan tidak sehat, Kamis (10/7).

Jika dirinci, 67 persen responden terpengaruh influencer, diikuti selebritas (66 persen), dan atlet (24 persen).

Fenomena ini menjadi tantangan tersendiri, mengingat banyak produk makanan dan minuman tinggi gula, garam, serta lemak jenuh yang dipromosikan secara masif di media sosial tanpa kontrol ketat.

Regulasi Masih Lemah, Perlu Diperbaiki

Melihat kondisi ini, UNICEF mendorong pemerintah untuk memperkuat regulasi terkait pemasaran makanan tidak sehat. David menyebut regulasi saat ini belum cukup memadai untuk melindungi anak-anak dari paparan iklan yang masif.

Menurutnya, Indonesia perlu belajar dari negara-negara yang sudah lebih maju dalam hal perlindungan anak dari pemasaran digital yang tidak sehat.

“Memperkuat pemantauan dan penegakan hukum dengan mengacu pada praktik terbaik global sangat penting. Misalnya pelarangan total pemasaran makanan tidak sehat kepada anak seperti yang diterapkan di Inggris dan Norwegia,” paparnya.

Selain itu, UNICEF juga merekomendasikan evaluasi ulang terhadap model profil gizi untuk menentukan kategori makanan mana yang layak dipasarkan kepada anak, sesuai dengan standar WHO.

Tantangan ke Depan

Tingginya angka obesitas pada anak Indonesia menunjukkan bahwa edukasi gizi sehat masih harus ditingkatkan. Keterjangkauan makanan sehat seperti buah dan sayur juga perlu menjadi prioritas pemerintah, agar masyarakat ekonomi menengah ke bawah tidak lagi hanya bergantung pada makanan cepat saji.

Selain itu, industri media sosial dan para pelaku pemasaran juga diharapkan lebih bertanggung jawab dengan tidak terus-menerus mempromosikan produk yang berpotensi merugikan kesehatan generasi muda. Edukasi literasi digital juga penting untuk membekali anak-anak dengan kemampuan menyaring informasi dan iklan yang mereka konsumsi setiap hari.

Pemerintah pun diharapkan memperkuat kerja sama lintas sektor untuk memastikan anak Indonesia tumbuh sehat, aktif, dan terhindar dari masalah kesehatan kronis di masa depan.***

You Might Also Like

Dokter Ungkap Gejala Stroke yang Sering Tak Disadari, Salah Satunya Vertigo Mendadak
Dokter Ungkap Waktu Terbaik dan Manfaat Olahraga bagi Ibu Hamil
IDAI: Polusi Udara Sebabkan 7 Juta Kematian Dini, Anak Jadi Kelompok Paling Rentan
Rupiah Melemah, Harga Obat Bakal Melambung: Ketahanan Kesehatan RI Diuji
Dokter Ingatkan Bahaya Flu Singapura, Vaksinasi Jadi Perlindungan Penting
TAGGED:Anak MudaObesitasPola Makan
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Marina Beauty Journey 2025 Ajak Gen Z Bangkitkan Kepercayaan Diri Lewat Ruang Kreatif
Next Article ‘Palum’ Lawan Kata ‘Haus’ yang Resmi Masuk KBBI
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat

Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Kesehatan

Waspada! Diare Tak Kunjung Sembuh Bisa Jadi Gejala Radang Usus Kronis

4 weeks ago
Kesehatan

Ahli Sebut COVID-19 Masih Ada, Tapi Dampaknya Tak Separah Masa Pandemi

1 month ago
Kesehatan

Warga Mulai Khawatir Hantavirus, DPRD DKI Desak Pemerintah Perkuat Edukasi

1 month ago
Kesehatan

Kemenhut: Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim

1 month ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index