INVERSI.ID – Kasus anak obesitas di Indonesia terus meningkat dalam dua dekade terakhir, seiring tren yang sama di kawasan Asia Timur dan Pasifik. Berdasarkan data terbaru, satu dari lima anak Indonesia usia 5–12 tahun mengalami overweight atau obesitas, sementara di rentang remaja 13–18 tahun, angkanya mencapai satu dari tujuh.
Fenomena obesitas pada anak ini didorong oleh banyak faktor, namun yang paling dominan adalah pola makan yang kurang sehat. Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular Kementerian Kesehatan RI, dr. Siti Nadia Tarmizi, menyebut masyarakat ekonomi menengah ke bawah kini lebih banyak mengonsumsi makanan ultraproses dan instan siap saji.
“Alasannya karena lebih mudah didapat dan harganya jauh lebih murah dibanding buah dan sayuran,” ujarnya.
Makanan cepat saji dan minuman manis kini bahkan lebih terjangkau dan lebih mudah diakses ketimbang pangan segar bergizi. Padahal pemerintah telah menyusun pedoman gizi seimbang bagi masyarakat. Namun kenyataannya, banyak anak muda masih kesulitan memperoleh pilihan makanan yang sehat karena faktor ekonomi dan lingkungan.
Iklan Digital Dorong Anak Pilih Makanan Tidak Sehat
Selain pola konsumsi, faktor lain yang memperparah masalah obesitas adalah maraknya iklan makanan tidak sehat di media sosial. Riset dari Inisiatif Fix My Food Indonesia (FIF) dengan dukungan UNICEF membuktikan bahwa iklan digital memengaruhi persepsi anak muda terhadap pilihan makanan.
Penelitian ini melibatkan partisipan berusia 14–29 tahun yang mayoritas tinggal di perkotaan. Hasil analisis FIF menunjukkan tiga alasan utama anak muda memilih makanan tidak sehat:
- 43 persen memilih berdasarkan tampilan, aroma, dan cara penyajian makanan.
- 27 persen lebih mempertimbangkan harga murah dan kesenangan saat mengonsumsi, ketimbang kandungan gizi.
- 13 persen hanya memilih berdasarkan apa yang tersedia di lingkungan mereka.
Selain itu, sebanyak 11 persen responden mengaku sering tergoda promo hemat atau buy one get one, sehingga makan lebih banyak dari yang direncanakan sebelumnya. Kandungan gizi jarang menjadi prioritas utama.
Peran Influencer dan Selebritas dalam Pola Makan
Pakar gizi UNICEF Indonesia, David Colozza, juga menyoroti temuan serupa dari survei mereka pada Juli–Agustus 2024 terhadap lebih dari 7.000 responden. Mayoritas responden adalah perempuan dari kelompok usia 10–24 tahun.
David menjelaskan, iklan digital yang menampilkan figur publik sangat berpengaruh terhadap perilaku makan generasi muda.
“Sekitar 60 persen responden telah melihat iklan makanan tidak sehat yang menampilkan atlet, selebritas, atau influencer,” ungkapnya dalam webinar hasil diseminasi pemasaran makanan tidak sehat, Kamis (10/7).
Jika dirinci, 67 persen responden terpengaruh influencer, diikuti selebritas (66 persen), dan atlet (24 persen).
Fenomena ini menjadi tantangan tersendiri, mengingat banyak produk makanan dan minuman tinggi gula, garam, serta lemak jenuh yang dipromosikan secara masif di media sosial tanpa kontrol ketat.
Regulasi Masih Lemah, Perlu Diperbaiki
Melihat kondisi ini, UNICEF mendorong pemerintah untuk memperkuat regulasi terkait pemasaran makanan tidak sehat. David menyebut regulasi saat ini belum cukup memadai untuk melindungi anak-anak dari paparan iklan yang masif.
Menurutnya, Indonesia perlu belajar dari negara-negara yang sudah lebih maju dalam hal perlindungan anak dari pemasaran digital yang tidak sehat.
“Memperkuat pemantauan dan penegakan hukum dengan mengacu pada praktik terbaik global sangat penting. Misalnya pelarangan total pemasaran makanan tidak sehat kepada anak seperti yang diterapkan di Inggris dan Norwegia,” paparnya.
Selain itu, UNICEF juga merekomendasikan evaluasi ulang terhadap model profil gizi untuk menentukan kategori makanan mana yang layak dipasarkan kepada anak, sesuai dengan standar WHO.
Tantangan ke Depan
Tingginya angka obesitas pada anak Indonesia menunjukkan bahwa edukasi gizi sehat masih harus ditingkatkan. Keterjangkauan makanan sehat seperti buah dan sayur juga perlu menjadi prioritas pemerintah, agar masyarakat ekonomi menengah ke bawah tidak lagi hanya bergantung pada makanan cepat saji.
Selain itu, industri media sosial dan para pelaku pemasaran juga diharapkan lebih bertanggung jawab dengan tidak terus-menerus mempromosikan produk yang berpotensi merugikan kesehatan generasi muda. Edukasi literasi digital juga penting untuk membekali anak-anak dengan kemampuan menyaring informasi dan iklan yang mereka konsumsi setiap hari.
Pemerintah pun diharapkan memperkuat kerja sama lintas sektor untuk memastikan anak Indonesia tumbuh sehat, aktif, dan terhindar dari masalah kesehatan kronis di masa depan.***