By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: Anak Terlalu Lama Main Gawai? Psikolog UI Sarankan Aktivitas Alternatif di Rumah
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Anak Terlalu Lama Main Gawai? Psikolog UI Sarankan Aktivitas Alternatif di Rumah

KesehatanPendidikan

Anak Terlalu Lama Main Gawai? Psikolog UI Sarankan Aktivitas Alternatif di Rumah

Jack
By
Jack
4 months ago
Share
4 Min Read
Ilustrasi - Sejumlah ayah menemani anaknya dalam berkarya yang membantu tumbuh kembang anak. (Foto: Antaranews)
SHARE

INVERSI.ID – Guru Besar Fakultas Psikologi dari Universitas Indonesia, Rose Mini Agoes Salim, menekankan pentingnya peran keluarga dalam mengurangi penggunaan gawai secara berlebihan pada anak. Menurutnya, lingkungan keluarga menjadi faktor utama yang dapat membantu anak membangun kebiasaan digital yang lebih sehat.

Psikolog yang akrab disapa Romi itu menilai kebijakan pemerintah yang membatasi akses anak di bawah usia 16 tahun terhadap berbagai platform digital merupakan langkah positif. Namun demikian, upaya tersebut tidak akan efektif tanpa dukungan dari keluarga sebagai lingkungan terdekat anak.

“Tapi tetap saja tanggung jawab dalam hal ini (membatasi penggunaan gawai) ada juga di dalam orang-orang terdekat anak yaitu keluarga,” kata dia di Jakarta, Kamis.

Romi menjelaskan bahwa kondisi keluarga dalam kehidupan sehari-hari sangat beragam dan dinamis. Tidak sedikit orang tua yang sama-sama bekerja sehingga waktu untuk mengawasi anak menjadi terbatas.

Meski demikian, keluarga tetap dapat membuat berbagai aktivitas sederhana di rumah agar anak tidak terlalu bergantung pada gawai. Program kecil seperti ini dinilai penting agar anak dapat menerima aturan tersebut tanpa merasa tertekan.

Ia menambahkan, kegiatan pengganti penggunaan gawai dapat disesuaikan dengan kondisi masing-masing keluarga. Pendampingan terhadap anak bisa dilakukan oleh ayah, ibu, atau keduanya secara bergantian.

Dalam situasi tertentu, pengawasan juga dapat dilimpahkan kepada orang yang dipercaya, misalnya pengasuh atau anggota keluarga lain. Namun, kegiatan yang dilakukan tetap sebaiknya mengikuti program yang telah dirancang oleh orang tua.

“Pada waktu ada orang yang menjaga anak kita, kita dari awal sudah bikin program. Misalnya dibuat tebak-tebakan atau apa atau membuat suatu proyek bersama kakak dan adik. Program ini harus dibuat sedemikian rupa supaya anak tertarik,” imbuh dia.

Menurut Romi, sekadar melarang anak menggunakan gawai tanpa menyediakan aktivitas alternatif bukanlah solusi yang efektif. Anak membutuhkan kegiatan lain yang tidak kalah menarik agar perhatian mereka tidak kembali ke layar gawai.

Baca Juga :

Prediksi Skor Timnas Indonesia vs Australia: Berharap Mukjizat Pemain Muda
BI Pangkas Batas Beli Dolar Tanpa Dokumen Jadi 25 Ribu Dolar AS

Karena itu, orang tua disarankan menciptakan aktivitas kreatif yang bisa dilakukan bersama anak di rumah. Misalnya membuat proyek kecil seperti karya sederhana, eksperimen ringan, atau kegiatan menulis.

Salah satu contoh yang bisa dilakukan adalah mengajak anak menulis tentang binatang melata dengan mengumpulkan ide tulisan serta mencari foto-foto hewan yang ada di sekitar rumah. Aktivitas seperti ini dapat merangsang rasa ingin tahu anak sekaligus membuat mereka lebih aktif bergerak.

“Orang tua berada dekat anak tapi tidak ikut involve (terlibat), itu pasti akan membuat anak enggak nyaman. Jangan hanya duduk secara fisik, tetapi juga memberikan stimulasi tertentu. Itu akan jadi menantang juga untuk anak,” imbuh dia.

Romi menekankan bahwa keterlibatan emosional antara orang tua dan anak juga sangat penting. Anak perlu merasakan bahwa aturan yang diberikan orang tua bertujuan untuk kebaikan mereka.

Karena itu, meskipun memiliki kesibukan, orang tua tetap dianjurkan meluangkan waktu untuk membangun kedekatan dengan anak melalui berbagai aktivitas bersama.

Ia menambahkan bahwa penggunaan gawai sebenarnya tidak selalu berdampak negatif jika dimanfaatkan secara bijak, misalnya untuk menambah pengetahuan atau belajar bersama anak. Namun penggunaan tersebut tetap harus berada dalam pengawasan.

“Pada anak usia dini terutama, apa yang dilakukan secara langsung itu menstimulasi, seperti motorik halusnya, kemampuan emosinya, kemampuan kognitifnya, itu jauh lebih baik dengan langsung daripada virtual,” tutur dia.

Sebelumnya, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia juga mengajak keluarga menghadirkan waktu berkualitas bersama anak melalui gerakan #SatuJamBerkualitas di tengah meningkatnya penggunaan gawai dan media sosial pada anak dan remaja.

Selain itu, Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia telah menerbitkan Peraturan Menteri Nomor 9 Tahun 2026 yang mengatur pembatasan akses platform digital bagi anak di bawah usia 16 tahun.

You Might Also Like

Waspada Stroke Iskemik! Intervensi Vaskular Jadi Solusi Minim Sayatan untuk Kurangi Risiko
Beasiswa Garuda Tak Sekadar Kuliah, Mahasiswa Diminta Bangun Ekosistem Riset Nasional
Program Sekolah Rakyat Dikebut, Kemensos Ingatkan Pentingnya Tata Kelola yang Transparan
Prabowo Dukung Kampus IIT dan IIM Berdiri di Indonesia, Perkuat Pendidikan Nasional
Seminggu Belum Padam! Ancaman Bahaya Kebakaran TPA Jatiwaringin Kian Meluas
TAGGED:Kesehatan Mental AnakPenggunaan Gawai
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Jelang Mudik Lebaran, Vaksin Campak Gratis Diserbu Orang Tua
Next Article FOMO hingga Rendah Diri, Ini Risiko Medsos Berlebihan bagi Remaja
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Bahlil Selamatkan Harga Sawit, Petani Bisa Lega!

Gaikindo Ketok Palu! B50 Dipastikan Aman, Mesin Diesel Tak Perlu Khawatir

BBM Nelayan Rp15 Ribu Disahkan! Jurus Bahlil Lindungi Dompet Tanpa Sentuh APBN

Jakarta Darurat Judol. Ribuan Warga Pilih Jalan Spekulasi demi Bertahan Hidup

Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo

Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!

Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat

Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya

Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia

Hadapi Musim Kemarau, Pemerintah Pastikan Stok Pangan Nasional Tetap Aman

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Kesehatan

Daftar 12 Obat Herbal Ilegal Temuan BPOM, Mengandung Bahan Kimia yang Berbahaya bagi Kesehatan

2 weeks ago
Kesehatan

Sakit Kepala Terus-Menerus Bisa Jadi Tanda Tumor Otak, Dokter Ungkap Gejala yang Perlu Diwaspadai

2 weeks ago
Pendidikan

Beasiswa LPDP Tahap II 2026 Resmi Dibuka, Ini Jadwal, Program, dan Syarat Terbarunya

2 weeks ago
EventKesehatan

Pengunjung Jakarta Fair 2026 Bisa Cek Kesehatan Gratis di Booth Kimia Farma Apotek

2 weeks ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index