INVERSI.ID – Tak ada yang menyangka, di balik senyumnya yang kini selalu terpancar, Andrea Nesia, siswi SMA GIS yang aktif menyuarakan isu kesehatan mental remaja, pernah melalui masa kelam yang nyaris merenggut nyawanya. Dalam wawancara khusus bersama GIS Channel, Andrea berbagi kisah menyayat hati tentang pengalaman bullying yang dialaminya sejak masih duduk di bangku SD hingga SMA.
“Saya pernah jadi anak yang bahkan takut bilang ‘hadir’ saat absen. Saya terbiasa jadi target, jadi lebih baik diam,” ujar Andrea Nesia lirih.
Andrea Nesia mengaku menjadi korban perundungan verbal, fisik, hingga sosial dari teman-temannya. Luka-luka yang ditorehkan oleh kata-kata kejam dan perlakuan tak adil itu perlahan berubah menjadi luka batin yang membekas hingga ia remaja.
Di masa SMP, Andrea Nesia sempat mengalami self-harm, merasa hampa, bahkan kehilangan arah hidup. Situasi mentalnya terus memburuk karena tidak ada yang benar-benar memahami apa yang ia alami. Namun, semuanya mulai berubah ketika seorang guru menyadari gejala-gejala depresi yang ditunjukkannya.
Luka yang Tak Tampak Tapi Nyata: Dampak Psikologis Bullying pada Remaja
Andrea Nesia menegaskan, bullying bukan sekadar lelucon anak sekolah, seperti yang sering dianggap banyak orang dewasa. Menurutnya, dampaknya jauh lebih serius daripada sekadar ejekan sesaat.
“Waktu kelas 7, saya mulai menyakiti diri sendiri. Itu satu-satunya cara untuk mengalihkan rasa sakit hati dan rasa malu,” kenangnya dengan suara bergetar.
Ia juga sering merasa tidak pantas berada di sekolah, selalu membandingkan diri dengan teman-temannya, hingga muncul pikiran untuk mengakhiri hidup.
Sayangnya, kondisi seperti ini sering diremehkan oleh lingkungan sekitar. Andrea mengaku bahwa keluarga dan teman-temannya sempat menganggap sikap murung dan menarik diri sebagai drama remaja biasa.
“Padahal, saya sedang berjuang bertahan hidup. Setiap hari rasanya seperti perang dengan diri sendiri,” tambahnya.
Peran Guru Sebagai Penyelamat
Di titik terendah, Andrea bertemu sosok guru Bimbingan Konseling (BK) yang memperhatikannya secara khusus. Guru tersebut mulai mengajak Andrea berdialog dari hati ke hati. Bagi Andrea, itulah momen pertama ia merasa “layak” untuk didengar.
“Guru bukan hanya pendidik, tapi juga bisa jadi penyelamat. Kalau bukan karena perhatian mereka, saya mungkin sudah menyerah,” ujarnya.
Dari proses konseling itu, Andrea perlahan belajar menerima diri, berdamai dengan trauma, dan menemukan kekuatan untuk bangkit.
Dari Korban Menjadi Pejuang: Andrea Melawan untuk Sesama
Andrea kini dikenal sebagai salah satu penggerak diskusi mental health pelajar di SMA GIS. Ia rutin mengisi acara podcast sekolah yang membahas isu psikologis remaja, bullying, self-harm, hingga pentingnya support system dari keluarga dan sekolah.
“Saya tidak ingin ada Andrea lain yang merasa sendirian seperti dulu,” tegasnya.
Lewat platform sekolah, ia ikut membangun ruang diskusi aman untuk pelajar. Tak hanya di sekolah, Andrea juga mulai aktif berbicara di forum-forum pelajar tingkat kota hingga komunitas anti-bullying regional.
“Kalau dulu saya bungkam karena takut, sekarang saya bicara karena ingin membantu yang lain,” ujarnya mantap.
Meski begitu, Andrea mengaku perjalanan pemulihan mentalnya belum selesai sepenuhnya. Kadang ia masih dihantui kenangan kelam masa lalu, tapi kini ia memilih untuk tetap melangkah.
Respon Sekolah: Perkuat Sistem Anti-Bullying dan Edukasi Mental Health
Pengakuan Andrea membuka mata banyak pihak tentang seriusnya masalah bullying di sekolah. Kepala SMA GIS dalam pernyataannya menyebut bahwa sekolah kini memperkuat sistem pelaporan bullying secara anonim.
Selain itu, para guru BK juga mendapat pelatihan intensif dalam menangani krisis psikologis pelajar. Kepala sekolah menegaskan bahwa perundungan bukan sekadar masalah disiplin, tapi juga soal keselamatan jiwa.
“Kami ingin setiap siswa merasa aman di sekolah. Jangan sampai ada anak yang merasa sekolah adalah tempat yang paling menakutkan,” tegasnya.
Sekolah juga mengajak orang tua untuk lebih peka pada perubahan perilaku anak, terutama bila anak mulai menarik diri, sering murung, atau terlalu emosional.
“Jangan remehkan anak yang tiba-tiba berubah. Bisa jadi mereka sedang berteriak minta tolong dengan cara mereka sendiri,” tambahnya.
Pentingnya Kesadaran Kesehatan Mental di Sekolah
Kisah Andrea menjadi pengingat penting bagi semua pihak: kesehatan mental remaja tidak bisa diabaikan. Bullying bukan hanya menyakiti fisik, tetapi juga meninggalkan luka psikis yang bisa menghancurkan masa depan.
Lingkungan sekolah, keluarga, dan teman sebaya harus bekerja sama untuk menciptakan ruang aman bagi anak-anak muda. Memberikan telinga untuk mendengar, perhatian, dan dukungan bisa menyelamatkan satu nyawa.
Andrea memilih untuk tidak menyerah. Dari korban perundungan, ia kini menjadi suara bagi mereka yang masih terjebak dalam sunyi. Pesannya sederhana tapi bermakna:
“Kalau kamu sedang merasa tidak baik-baik saja, jangan diam. Ceritakan. Karena selalu ada orang yang siap mendengarkan.”