Inversi Kawasan Obyek Wisata Alam Guci, Kabupaten Tegal, kembali berdenyut setelah sempat lumpuh akibat banjir bandang. Hujan dengan intensitas tinggi yang dipicu badai Cyclon 93S menyebabkan luapan air dari kawasan pegunungan di sekitar Gunung Slamet menerjang area wisata yang selama ini dikenal sebagai destinasi favorit wisata air panas.
Sejumlah fasilitas rusak, material lumpur menutup area kolam, dan pipa penyuplai air ikut hanyut terbawa arus. Namun sehari pasca kejadian, harapan mulai tumbuh. Air surut, cuaca berangsur membaik, dan gerakan perbaikan langsung digencarkan. Ratusan personel gabungan dari BPBD Kabupaten Tegal, PMI, TNI, Polri, hingga masyarakat sekitar turun bersama membersihkan area wisata, memperbaiki fasilitas yang terdampak, sekaligus memastikan keamanan kawasan bagi pengunjung.
Plt Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Tegal, M Afifudin, memastikan bahwa objek wisata Guci kini kembali siap menerima wisatawan. Menurutnya, pekerjaan perbaikan dilakukan secara cepat dan bersama-sama. Prioritas utama adalah memulihkan fasilitas utama yang menjadi magnet pengunjung, khususnya area pancuran air panas.
“Terutama pancuran air panas diperbaiki secara bersama-sama. Pipa air yang hanyut juga kembali dipasang baru. Dengan perbaikan ini, Guci siap kembali menerima wisatawan terutama saat libur Natal dan Tahun Baru,” ujar Afifudin, Minggu (21/12/2025). Optimisme itu bukan tanpa alasan. Selain pengerjaan perbaikan yang dilakukan intensif, kondisi cuaca juga dinilai mulai stabil.
Afifudin menjelaskan bahwa banjir bandang kemarin merupakan dampak langsung dari badai Cyclon 93S yang saat itu berada tepat di atas kawasan Gunung Slamet. Dampaknya tidak hanya dirasakan di Guci, tetapi juga di sejumlah wilayah lain seperti Sirampog, Brebes, yang mengalami kondisi serupa. Kini, badai telah menjauh sehingga potensi hujan ekstrem dinilai menurun.
“Sekarang badai Cyclon 93S sudah menjauh, kemungkinan tidak ada lagi hujan deras. Kami berharap ini menjadi kondisi yang kondusif agar wisatawan merasa aman dan nyaman,” jelasnya. Meski demikian, kerusakan yang terjadi tidak bisa dianggap ringan. Berdasarkan hasil asesmen, terdapat sejumlah fasilitas utama yang terdampak.
Tiga kolam pancuran air panas mengalami kerusakan berbeda-beda. Pancuran 13tertimbun pasir dan material banjir, Pancuran 5 rusak karena tertimpa cabang pohon besar yang roboh, sementara Kolam Barokah tercemar air keruh sehingga tak bisa langsung digunakan. “Yang rusak parah kemarin memang fasilitas pancuran air panas, khususnya Pancuran 13, Pancuran 5, dan Kolam Barokah,” terang Afifudin.
Selain kerusakan kolam, arus deras banjir juga menghanyutkan pipa penyuplai air panas. Pipa tersebut merupakan jaringan penting yang mengalirkan air panas ke hotel, vila, dan wahana pemandian di kawasan wisata Guci. Kehilangan pipa ini tentu berdampak langsung pada operasional penginapan dan layanan wisata.
Namun, tim tanggap bencana bersama pengelola kawasan segera melakukan pemasangan ulang agar distribusi air panas kembali normal. “Kemudian pipa hanyut terbawa arus. Itu milik hotel, vila, dan kolam air. Tapi sekarang kami lakukan pemasangan baru,” tambahnya. Di tengah upaya pemulihan, Afifudin menegaskan bahwa Pemkab Tegal berkomitmen menjamin keselamatan wisatawan.
Pemerintah memastikan setiap fasilitas yang kembali dibuka telah melalui proses pengecekan, baik dari aspek kebersihan, kelayakan, maupun keamanan. Jika masih ada area yang dinilai berpotensi membahayakan, maka akan tetap ditutup sementara. Harapan besar kini tertuju pada momentum libur Natal dan Tahun Baru, yang selalu menjadi periode peningkatan kunjungan wisata.
Pemerintah daerah optimistis peristiwa banjir bandang tidak akan memberi dampak signifikan terhadap minat wisatawan. Dengan kesiapan fasilitas, dukungan personel lapangan, serta kondisi cuaca yang semakin bersahabat, Guci kembali menyambut wisatawan. Hanya saja, kewaspadaan tetap menjadi hal utama.
Pemerintah dan pengelola wisata memastikan pemantauan kondisi cuaca dan lingkungan terus dilakukan sebagai langkah antisipasi. Pada akhirnya, musibah ini menjadi pengingat bahwa kawasan wisata alam selalu berhadapan langsung dengan dinamika alam itu sendiri.
Namun kesiapsiagaan, kerja cepat, dan koordinasi lintas pihak telah membuktikan bahwa Guci bukan hanya sekadar destinasi, melainkan kawasan yang mampu bangkit dan kembali menghadirkan kehangatan air panas serta keindahan alamnya bagi para pengunjung.