Inversi Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera terus menyisakan duka mendalam. Hingga hari ke-38 penanganan pascabencana, jumlah korban meninggal dunia akibat rangkaian bencana di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tercatat mencapai 1.177 jiwa.
Data tersebut disampaikan oleh Kepala Pusat Data dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Abdul Muhari, pada Minggu, 4 Januari 2026.
Abdul Muhari menjelaskan bahwa angka tersebut merupakan hasil pemutakhiran data terbaru yang dilakukan secara berkala oleh BNPB bersama pemerintah daerah dan tim gabungan di lapangan. “Kemarin rekapitulasi kita cut-off pukul 16.00 WIB berada di angka 1.167 korban meninggal dunia. Hari ini bertambah 10 orang, sehingga total menjadi 1.177 jiwa,” ujar Abdul dalam keterangan resminya.
Pemutakhiran Data Korban Terus Dilakukan
BNPB menegaskan bahwa proses pemutakhiran data korban masih terus berlangsung, terutama terkait korban hilang dan identifikasi jenazah. Abdul menyampaikan bahwa pendataan korban bencana merupakan proses yang dinamis, mengingat masih adanya laporan baru serta klarifikasi data dari tingkat desa, kecamatan, hingga keluarga korban.
Ia menjelaskan, pada pembaruan data terbaru terdapat pengurangan sebanyak 17 nama dalam daftar korban hilang. Pengurangan tersebut terjadi setelah dilakukan verifikasi ulang oleh aparat desa, kecamatan, dan keluarga yang sebelumnya melaporkan kehilangan anggota keluarganya.
Dalam beberapa kasus, korban yang semula dinyatakan hilang ditemukan dalam kondisi selamat atau telah tercatat dalam kategori korban meninggal dunia. “Dengan adanya koreksi data tersebut, jumlah korban yang masih masuk dalam daftar pencarian oleh tim SAR gabungan saat ini menjadi 148 jiwa,” kata Abdul.
Operasi SAR Masih Berlangsung
Meski telah memasuki lebih dari satu bulan sejak bencana pertama terjadi, operasi pencarian dan penyelamatan (SAR) masih terus dilakukan di sejumlah titik rawan. Tim SAR gabungan yang terdiri atas Basarnas, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat setempat tetap melakukan pencarian korban yang diduga tertimbun material longsor atau terbawa arus banjir.
Kondisi medan yang berat, cuaca yang tidak menentu, serta tumpukan material lumpur dan bebatuan menjadi tantangan utama dalam proses pencarian. Namun demikian, pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus melanjutkan operasi SAR hingga seluruh korban ditemukan atau hingga batas waktu yang ditentukan berdasarkan evaluasi lapangan.
Jumlah Pengungsi Mulai Mengalami Penurunan
Selain korban jiwa, dampak bencana juga terlihat dari masih tingginya jumlah warga yang harus mengungsi. Abdul Muhari menyampaikan bahwa hingga Minggu (4/1/2026), jumlah pengungsi di tiga provinsi terdampak tercatat sebanyak 242.174 jiwa. Angka ini menunjukkan adanya penurunan dibandingkan hari-hari sebelumnya, khususnya di Provinsi Aceh.
“Di Aceh terdapat pengurangan jumlah pengungsi karena sebagian warga sudah mulai kembali ke rumah masing-masing setelah kondisi dinilai relatif aman,” jelas Abdul.
Meski demikian, ratusan ribu warga masih bertahan di lokasi pengungsian karena rumah mereka mengalami kerusakan berat, berada di zona rawan bencana, atau fasilitas dasar seperti listrik dan air bersih belum sepenuhnya pulih.
Fokus Penanganan Pascabencana
Pemerintah pusat dan daerah kini memfokuskan penanganan pada fase tanggap darurat lanjutan dan pemulihan awal. BNPB bersama kementerian dan lembaga terkait terus menyalurkan bantuan logistik berupa pangan, air bersih, layanan kesehatan, serta kebutuhan dasar lainnya bagi para pengungsi.
Selain itu, perhatian juga diarahkan pada aspek kesehatan dan psikososial korban, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan ibu hamil. Layanan trauma healing dan dukungan psikologis mulai digencarkan untuk membantu para penyintas menghadapi dampak psikologis akibat kehilangan anggota keluarga dan tempat tinggal.
Evaluasi dan Mitigasi Bencana
Bencana banjir dan longsor yang melanda Sumatera ini kembali menegaskan pentingnya upaya mitigasi dan pengurangan risiko bencana. Faktor cuaca ekstrem, perubahan tata guna lahan, serta kondisi geografis wilayah pegunungan menjadi pemicu utama terjadinya bencana dengan skala besar.
BNPB mendorong pemerintah daerah untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem peringatan dini, tata ruang wilayah, serta kesiapsiagaan masyarakat. Edukasi kebencanaan dinilai perlu terus diperkuat agar masyarakat memiliki pemahaman yang lebih baik dalam menghadapi potensi bencana serupa di masa mendatang.
Komitmen Pemerintah
Pemerintah menegaskan komitmennya untuk terus mendampingi masyarakat terdampak hingga fase rehabilitasi dan rekonstruksi. Pembangunan kembali rumah warga, fasilitas umum, serta infrastruktur vital akan dilakukan secara bertahap dengan memperhatikan prinsip pembangunan berbasis risiko bencana.
Dengan masih berlangsungnya proses pendataan dan penanganan, BNPB mengimbau masyarakat untuk tetap mengikuti informasi resmi dan tidak mudah terpengaruh oleh kabar yang belum terverifikasi. Pemerintah berharap, melalui kerja sama semua pihak, proses pemulihan dapat berjalan optimal dan masyarakat dapat kembali menjalani kehidupan secara normal.