By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Belanja Demi Redakan Stres? Hati-hati Terjebak Fenomena Doom Spending
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Belanja Demi Redakan Stres? Hati-hati Terjebak Fenomena Doom Spending

Terkini

Belanja Demi Redakan Stres? Hati-hati Terjebak Fenomena Doom Spending

Jack
By
Jack
1 year ago
Share
2 Min Read
Ilustrasi belanja. (Foto: Pixabay)
SHARE

INVERSI.ID – Di tengah tekanan hidup dan ketidakpastian ekonomi, semakin banyak anak muda yang terjebak dalam fenomena doom spending, belanja impulsif sebagai bentuk pelarian emosional. Meskipun memberikan kepuasan sesaat, kebiasaan ini justru berisiko memperburuk kondisi mental dan finansial dalam jangka panjang.

Contents
Kepuasan Semu dan Siklus yang BerulangLangkah Kecil untuk Mengendalikan DiriSolusi Jangka Panjang: Kesehatan Mental di Era Digital

Psikolog Khairunnisa Nuraini R. menjelaskan bahwa doom spending sering muncul ketika seseorang merasa tidak punya kendali atas hidupnya.

“Belanja menjadi bentuk pelarian saat seseorang terus-menerus berada dalam kondisi negatif. Aktivitas ini memberikan efek instan berupa rasa senang, meskipun hanya sementara,” ungkapnya.

Kepuasan Semu dan Siklus yang Berulang

Belanja impulsif memicu pelepasan hormon dopamin di otak, yang membuat seseorang merasa bahagia untuk sesaat. Namun setelah itu, perasaan bersalah atau penyesalan sering kali muncul. Hal inilah yang menciptakan siklus konsumsi yang tidak sehat—belanja untuk merasa lebih baik, lalu merasa buruk, lalu belanja lagi.

Menurut Khairunnisa, kondisi ini diperburuk oleh paparan media sosial. Konten seperti haul video, unboxing, atau promosi besar-besaran sering memunculkan tekanan sosial dan rasa takut tertinggal (FOMO—Fear of Missing Out).

“Banyak yang akhirnya membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan, hanya karena ingin mengikuti tren atau tidak ingin merasa ‘ketinggalan’,” tambahnya.

Langkah Kecil untuk Mengendalikan Diri

Untuk mencegah kebiasaan doom spending, langkah pertama yang disarankan adalah menyadari emosi sebelum melakukan pembelian.

“Tanya pada diri sendiri, apakah ini kebutuhan nyata atau hanya pelampiasan emosi?” kata Khairunnisa.

Kesadaran emosional menjadi kunci. Dengan mengenali perasaan sebelum berbelanja, seseorang dapat membuat keputusan yang lebih rasional, bukan sekadar reaksi atas stres atau tekanan.

Baca Juga :

Survei Polling Institute: Head to head Paslon Prabowo-Gibran Jauh Unggul dari Amin dan Ganjar-Mahfud
Libur Natal Mendekat, Ratusan Ribu Kendaraan Tinggalkan Jabotabek

Solusi Jangka Panjang: Kesehatan Mental di Era Digital

Khairunnisa menekankan pentingnya pendekatan psikologis sebagai solusi jangka panjang. Beberapa teknik coping yang dapat diterapkan antara lain journaling, meditasi, olahraga ringan, hingga berbicara dengan tenaga profesional.

“Ini bukan tentang kuat atau lemah. Ini tentang memahami diri sendiri, mengenali pola yang merugikan, dan menemukan cara yang lebih sehat untuk menghadapinya,” ujarnya.

Fenomena doom spending menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan mental sama pentingnya dengan menjaga stabilitas finansial, terutama di era digital yang serba cepat dan penuh tekanan.***

You Might Also Like

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat
Bola “Meriam” dan Rahasia Banjir Gol di Piala Dunia 2026
Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan
Dramatis! Aljazair Paksa Yordania Angkat Koper Lebih Cepat
Haaland Menggila, Viking Norwegia Meluncur Mulus ke Fase Gugur
TAGGED:Doom SpendingStres
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Gaya Ala Gen Z, Wakil Bupati Kudus yang Tampung Aspirasi Rakyat Via Live TikTok
Next Article Film ‘Pengepungan di Bukit Duri’ Distopia Indonesia yang Terlalu Nyata
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

Bahlil Gelontorkan Rp10 Triliun! Ribuan Desa Siap Keluar dari Gelap

Program BPBL Bahlil Terangi 220 Ribu Rumah, Listrik Gratis Tembus Pelosok

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Pildun 2026Terkini

Tak Cuma Mbappe! Trio Maut Prancis Kirim Sinyal Bahaya ke Semua Rival

9 hours ago
Pildun 2026Terkini

Argentina Tanpa Messi? Jawabannya Mulai Terlihat dan Bikin Suporter Was-was

11 hours ago
Pildun 2026Terkini

Belgia Terancam Pulang Lagi, Iran Bikin Kejutan! Grup G Piala Dunia Makin Brutal

1 day ago
Pildun 2026Terkini

Cape Verde Tinggal Selangkah Ukir Sejarah ke Babak Gugur Piala Dunia

1 day ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index