INVERSI.ID – Fenomena tren makanan viral seperti boba, mie pedas, dan makanan instan lainnya kini semakin marak di kalangan remaja dan mahasiswa. Di balik kepopulerannya, tren ini dinilai dapat berdampak buruk pada kesehatan generasi muda.
Hal tersebut disampaikan oleh Roswita Bengang, S.K.M., staf gizi sekaligus pengelola promosi kesehatan di Puskesmas Maliang, Kecamatan Pantar Tengah, Kabupaten Alor. Ia menyebutkan bahwa jenis makanan tersebut sudah menjadi konsumsi harian bagi sebagian besar anak muda.
“Makanan seperti boba, mie pedas, dan makanan instan lainnya menjadi konsumsi harian sebagian besar remaja dan mahasiswa,” ujar Roswita, Kamis (26/6).
Menurutnya, tren ini tidak hanya dipicu oleh pengaruh media sosial, tetapi juga oleh tekanan dari lingkungan pertemanan.
“Teman sebaya bisa saling mempengaruhi untuk mencoba makanan yang sedang tren, tanpa memikirkan dampaknya,” tambahnya.
Roswita menegaskan bahwa kebiasaan mengonsumsi makanan tinggi kalori namun rendah serat dan gizi ini dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan. Di antaranya adalah obesitas, gangguan pencernaan, hingga kekurangan vitamin dan mineral penting.
Dampak tersebut tak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga bisa mengganggu konsentrasi belajar dan menurunkan produktivitas akademik.
“Kalau sudah mengalami gangguan kesehatan, tentu konsentrasi belajar terganggu, prestasi menurun, dan aktivitas kampus pun jadi terganggu,” jelasnya.
Untuk itu, Roswita mengajak anak muda agar lebih bijak dalam memilih makanan. Mengikuti tren, menurutnya, sah-sah saja selama tetap memperhatikan pola makan yang sehat dan bergizi.***