By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Karier Bukan Segalanya, Ini Prioritas Utama Gen Z di Dunia Kerja
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Karier Bukan Segalanya, Ini Prioritas Utama Gen Z di Dunia Kerja

LifeStyle

Karier Bukan Segalanya, Ini Prioritas Utama Gen Z di Dunia Kerja

Jack
By
Jack
9 months ago
Share
5 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Fenomena menarik muncul dari survei global Deloitte 2025 tentang Gen Z di dunia kerja. Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa hanya 6 persen Gen Z yang bercita-cita menjadi pemimpin puncak dalam karier mereka. Sebaliknya, generasi muda ini lebih memprioritaskan keseimbangan antara penghasilan, makna dalam pekerjaan, dan kesehatan mental Gen Z, alih-alih mengejar jabatan tinggi seperti generasi sebelumnya.

Contents
Gen Z Tidak Lagi Terpaku pada Jabatan PuncakUang, Makna, dan Kesehatan Mental Jadi PrioritasKeterampilan Lunak Lebih Dihargai di Era AITantangan bagi Perusahaan: Menyesuaikan Budaya KerjaMembaca Peluang di Tengah Perubahan

Survei ini juga mengungkap bahwa prioritas Gen Z saat ini dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global yang tidak menentu, tekanan sosial, hingga meningkatnya kesadaran terhadap kesejahteraan diri. Gen Z dan milenial memilih untuk realistis dalam merancang masa depan karier mereka, menyesuaikan diri dengan dinamika teknologi dan tuntutan hidup modern.

Elizabeth Faber, Chief People & Purpose Officer Deloitte Global, menyebut tren ini sebagai cerminan cara berpikir baru generasi muda.

“Generasi ini tumbuh di tengah krisis ekonomi, pandemi, hingga ketidakpastian global. Wajar jika mereka lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan karier dan menempatkan diri mereka sendiri sebagai prioritas,” ujarnya, Jumat (4/7).

Gen Z Tidak Lagi Terpaku pada Jabatan Puncak

Dari ribuan responden Gen Z di seluruh dunia yang terlibat dalam survei Deloitte, mayoritas menyebut bahwa jabatan tinggi bukan lagi definisi sukses yang utama. Hanya 6 persen yang menargetkan posisi puncak di perusahaan sebagai tujuan karier, jauh lebih rendah dibanding generasi sebelumnya pada usia yang sama.

Sebaliknya, sebagian besar Gen Z lebih menghargai keseimbangan hidup, keamanan finansial, dan makna di balik pekerjaan yang mereka jalani. Artinya, gaji besar tetap penting, tetapi harus dibarengi dengan lingkungan kerja yang sehat dan pekerjaan yang tidak merusak kesehatan mental mereka.

Generasi ini juga lebih vokal menyuarakan hak-haknya. Mereka menuntut perusahaan untuk menyediakan waktu kerja fleksibel, cuti kesehatan mental, serta budaya kerja yang inklusif dan empatik.

Uang, Makna, dan Kesehatan Mental Jadi Prioritas

Prioritas utama Gen Z dalam bekerja.

Survei Deloitte 2025 menyebut bahwa hampir separuh Gen Z lebih memilih pekerjaan dengan penghasilan cukup tetapi memberi ruang untuk hidup yang seimbang, dibanding posisi bergaji tinggi namun penuh tekanan. Bagi mereka, kualitas hidup lebih penting daripada titel jabatan.

Kesehatan mental menjadi faktor utama lain yang memengaruhi prioritas Gen Z di dunia kerja. Banyak dari mereka tumbuh menyaksikan dampak burnout pada orang tua mereka, sehingga lebih berhati-hati dalam memilih karier yang sesuai dengan nilai hidup mereka.

Baca Juga :

Biodata Tiara Andini, Artis Jebolan Indonesian Idol
Sidang Cerai Na Daehoon Ditunda Karena Jule Tidak Hadir

Selain itu, Gen Z juga menuntut pekerjaan yang punya makna sosial. Mereka lebih termotivasi bekerja pada perusahaan dengan visi keberlanjutan, tanggung jawab sosial, dan dampak positif bagi masyarakat. Hal ini selaras dengan meningkatnya kepedulian generasi muda terhadap isu lingkungan dan sosial.

Keterampilan Lunak Lebih Dihargai di Era AI

Survei juga menemukan bahwa Gen Z semakin menganggap keterampilan lunak seperti empati, komunikasi, dan kemampuan memimpin sebagai hal yang penting, bahkan lebih dari keterampilan teknis. Hal ini didorong oleh pesatnya penggunaan Generative AI (GenAI) di berbagai industri, yang otomatis menggantikan banyak tugas teknis.

Meskipun banyak yang menyambut penggunaan AI, sebagian juga mulai memilih jalur karier yang dianggap lebih “aman” dari disrupsi teknologi. Misalnya, profesi berbasis human touch seperti psikolog, guru, hingga konsultan.

“Teknologi akan terus berkembang, tetapi peran manusia yang bisa memahami emosi, menjalin relasi, dan membuat keputusan etis tetap tak tergantikan,” ungkap Elizabeth.

Tantangan bagi Perusahaan: Menyesuaikan Budaya Kerja

Tren baru ini jadi tantangan tersendiri bagi perusahaan. Jika ingin menarik dan mempertahankan talenta muda, organisasi harus mampu beradaptasi dengan nilai-nilai generasi ini. Budaya kerja lama yang terlalu kaku, hierarkis, dan tidak memperhatikan kesejahteraan karyawan dipandang usang oleh Gen Z.

Perusahaan disarankan untuk mengimplementasikan kebijakan ramah keluarga, jadwal kerja fleksibel, kesempatan pengembangan diri, dan keterlibatan sosial yang nyata. Lingkungan kerja yang menghargai kesehatan mental dan memberi ruang untuk tumbuh akan menjadi magnet bagi talenta muda.

Gen Z juga lebih selektif dalam memilih tempat kerja. Mereka melakukan riset tentang reputasi perusahaan di media sosial, membaca review karyawan di platform seperti Glassdoor, dan memperhatikan nilai-nilai perusahaan sebelum melamar.

Membaca Peluang di Tengah Perubahan

Meski tren ini menantang, perusahaan yang mampu bertransformasi bisa menuai banyak manfaat. Gen Z dikenal adaptif, kreatif, dan mahir teknologi, sehingga bisa menjadi motor inovasi jika diberi ruang yang tepat.

Bagi Gen Z sendiri, tren ini juga menguntungkan dalam jangka panjang. Kesadaran sejak dini terhadap kesehatan mental, makna hidup, dan keadilan sosial akan membantu mereka membangun karier yang lebih berkelanjutan dan memuaskan.

Kini, saatnya dunia kerja menyadari: jabatan tinggi bukan satu-satunya ukuran sukses, dan generasi muda mengajarkan kita cara baru memaknai karier.***

You Might Also Like

Target Wisman Naik Tajam, Kemenpar Optimistis Indonesia Dikunjungi 19,1 Juta Turis Asing pada 2027
Bandara Soekarno-Hatta Tambah Rute Baru ke Tiongkok, Spring Airlines Resmi Terbang ke Jakarta
Pamer Liburan, Tapi Keluhkan Pertamax? Fenomena yang Memicu Perdebatan di Medsos
Harga Avtur Melonjak, Kemenpar dan Kemenhub Cari Cara Jaga Tiket Pesawat Tetap Terjangkau
Tak Hanya Bali, Kemenpar Genjot 10 Destinasi Prioritas untuk Tarik Wisatawan Mancanegara
TAGGED:gen zkarirkerjaPrioritas
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Krisis Pekerjaan untuk Fresh Graduate di AS Bikin Banyak Anak Muda Jadi Pengangguran
Next Article Waspada! Liquid Vape Berisi Sabu Beredar di Medan, Anak Muda Jadi Sasaran
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

Bahlil Gelontorkan Rp10 Triliun! Ribuan Desa Siap Keluar dari Gelap

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Travel

Beda dengan Wisata Kuliner, Gastronomi Tawarkan Cerita dan Warisan Budaya Nusantara

1 week ago
Travel

Tak Mau Tertinggal dari Vietnam, Indonesia Siapkan Jurus Baru Dongkrak Pariwisata

1 week ago
Travel

Instalasi Sunflower Angel Jadi Magnet Baru di Candi Prambanan, Pengunjung Membludak

2 weeks ago
Travel

Libur Panjang Idul Adha 2026, KAI Layani Lebih dari 1,2 Juta Penumpang

3 weeks ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index