INVERSI.ID – Fenomena menarik muncul dari survei global Deloitte 2025 tentang Gen Z di dunia kerja. Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa hanya 6 persen Gen Z yang bercita-cita menjadi pemimpin puncak dalam karier mereka. Sebaliknya, generasi muda ini lebih memprioritaskan keseimbangan antara penghasilan, makna dalam pekerjaan, dan kesehatan mental Gen Z, alih-alih mengejar jabatan tinggi seperti generasi sebelumnya.
Survei ini juga mengungkap bahwa prioritas Gen Z saat ini dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global yang tidak menentu, tekanan sosial, hingga meningkatnya kesadaran terhadap kesejahteraan diri. Gen Z dan milenial memilih untuk realistis dalam merancang masa depan karier mereka, menyesuaikan diri dengan dinamika teknologi dan tuntutan hidup modern.
Elizabeth Faber, Chief People & Purpose Officer Deloitte Global, menyebut tren ini sebagai cerminan cara berpikir baru generasi muda.
“Generasi ini tumbuh di tengah krisis ekonomi, pandemi, hingga ketidakpastian global. Wajar jika mereka lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan karier dan menempatkan diri mereka sendiri sebagai prioritas,” ujarnya, Jumat (4/7).
Gen Z Tidak Lagi Terpaku pada Jabatan Puncak
Dari ribuan responden Gen Z di seluruh dunia yang terlibat dalam survei Deloitte, mayoritas menyebut bahwa jabatan tinggi bukan lagi definisi sukses yang utama. Hanya 6 persen yang menargetkan posisi puncak di perusahaan sebagai tujuan karier, jauh lebih rendah dibanding generasi sebelumnya pada usia yang sama.
Sebaliknya, sebagian besar Gen Z lebih menghargai keseimbangan hidup, keamanan finansial, dan makna di balik pekerjaan yang mereka jalani. Artinya, gaji besar tetap penting, tetapi harus dibarengi dengan lingkungan kerja yang sehat dan pekerjaan yang tidak merusak kesehatan mental mereka.
Generasi ini juga lebih vokal menyuarakan hak-haknya. Mereka menuntut perusahaan untuk menyediakan waktu kerja fleksibel, cuti kesehatan mental, serta budaya kerja yang inklusif dan empatik.
Uang, Makna, dan Kesehatan Mental Jadi Prioritas
Survei Deloitte 2025 menyebut bahwa hampir separuh Gen Z lebih memilih pekerjaan dengan penghasilan cukup tetapi memberi ruang untuk hidup yang seimbang, dibanding posisi bergaji tinggi namun penuh tekanan. Bagi mereka, kualitas hidup lebih penting daripada titel jabatan.
Kesehatan mental menjadi faktor utama lain yang memengaruhi prioritas Gen Z di dunia kerja. Banyak dari mereka tumbuh menyaksikan dampak burnout pada orang tua mereka, sehingga lebih berhati-hati dalam memilih karier yang sesuai dengan nilai hidup mereka.
Selain itu, Gen Z juga menuntut pekerjaan yang punya makna sosial. Mereka lebih termotivasi bekerja pada perusahaan dengan visi keberlanjutan, tanggung jawab sosial, dan dampak positif bagi masyarakat. Hal ini selaras dengan meningkatnya kepedulian generasi muda terhadap isu lingkungan dan sosial.
Keterampilan Lunak Lebih Dihargai di Era AI
Survei juga menemukan bahwa Gen Z semakin menganggap keterampilan lunak seperti empati, komunikasi, dan kemampuan memimpin sebagai hal yang penting, bahkan lebih dari keterampilan teknis. Hal ini didorong oleh pesatnya penggunaan Generative AI (GenAI) di berbagai industri, yang otomatis menggantikan banyak tugas teknis.
Meskipun banyak yang menyambut penggunaan AI, sebagian juga mulai memilih jalur karier yang dianggap lebih “aman” dari disrupsi teknologi. Misalnya, profesi berbasis human touch seperti psikolog, guru, hingga konsultan.
“Teknologi akan terus berkembang, tetapi peran manusia yang bisa memahami emosi, menjalin relasi, dan membuat keputusan etis tetap tak tergantikan,” ungkap Elizabeth.
Tantangan bagi Perusahaan: Menyesuaikan Budaya Kerja
Tren baru ini jadi tantangan tersendiri bagi perusahaan. Jika ingin menarik dan mempertahankan talenta muda, organisasi harus mampu beradaptasi dengan nilai-nilai generasi ini. Budaya kerja lama yang terlalu kaku, hierarkis, dan tidak memperhatikan kesejahteraan karyawan dipandang usang oleh Gen Z.
Perusahaan disarankan untuk mengimplementasikan kebijakan ramah keluarga, jadwal kerja fleksibel, kesempatan pengembangan diri, dan keterlibatan sosial yang nyata. Lingkungan kerja yang menghargai kesehatan mental dan memberi ruang untuk tumbuh akan menjadi magnet bagi talenta muda.
Gen Z juga lebih selektif dalam memilih tempat kerja. Mereka melakukan riset tentang reputasi perusahaan di media sosial, membaca review karyawan di platform seperti Glassdoor, dan memperhatikan nilai-nilai perusahaan sebelum melamar.
Membaca Peluang di Tengah Perubahan
Meski tren ini menantang, perusahaan yang mampu bertransformasi bisa menuai banyak manfaat. Gen Z dikenal adaptif, kreatif, dan mahir teknologi, sehingga bisa menjadi motor inovasi jika diberi ruang yang tepat.
Bagi Gen Z sendiri, tren ini juga menguntungkan dalam jangka panjang. Kesadaran sejak dini terhadap kesehatan mental, makna hidup, dan keadilan sosial akan membantu mereka membangun karier yang lebih berkelanjutan dan memuaskan.
Kini, saatnya dunia kerja menyadari: jabatan tinggi bukan satu-satunya ukuran sukses, dan generasi muda mengajarkan kita cara baru memaknai karier.***