INVERSI.ID – Climate Hack, inisiatif tahunan dari Singapore International Foundation (SIF), kembali hadir sebagai wadah kolaborasi pemuda Asia untuk menjawab tantangan krisis iklim. Sejak diluncurkan pada 2021, program ini telah berkembang menjadi platform regional penghasil solusi iklim berbasis teknologi, melibatkan lebih dari 1.000 peserta dari 30 negara.
Berbeda dari sekadar kompetisi inovasi, Climate Hack menjadi gerakan nyata bagi generasi muda lintas negara, budaya, dan disiplin ilmu untuk menciptakan dampak berkelanjutan bagi lingkungan.
“Kami percaya bahwa solusi iklim terbaik lahir dari kolaborasi. Climate Hack adalah ruang di mana semangat lintas budaya dan kreativitas anak muda menghasilkan perubahan yang nyata,” kata Rebecca Boon, Wakil Direktur Kerja Sama Pembangunan Internasional SIF.
Solusi Teknologi dari Asia untuk Masa Depan Bumi
Tahun ini, Climate Hack menyoroti isu-isu strategis seperti pengelolaan limbah, sumber daya alam, transportasi ramah lingkungan, serta pertanian dan kehutanan berkelanjutan. Tema ini sejalan dengan laporan ASEAN mengenai tantangan iklim di kawasan Asia Tenggara.
Salah satu tim yang mencuri perhatian adalah SustainIQ, kolaborasi pemuda dari Indonesia, Pakistan, Malaysia, dan Filipina. Mereka sukses memenangkan Pitch Day Climate Hack lewat solusi berbasis Internet of Things (IoT) untuk pemilahan sampah makanan.
“Sensor kami bisa mendeteksi gas metana dan memilah sampah otomatis, sehingga lebih efisien dan aman bagi lingkungan sekitar,” jelas Mochamad Faisal Rasid, perwakilan SustainIQ dari Indonesia.
Solusi SustainIQ bahkan tengah dijajaki untuk diterapkan di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Pulo Gebang dan RDF Rorotan, Jakarta.
Sementara itu, tim Ecovolve yang terdiri dari pemuda asal Kamboja, Indonesia, dan Singapura, mengembangkan aplikasi edukatif berbasis gim untuk anak-anak. Melalui gim ini, anak-anak diajak memahami pentingnya daur ulang dan keberlanjutan sejak usia dini.
“Anak-anak adalah agen perubahan masa depan. Jika kita ingin perubahan jangka panjang, kita harus mulai dari generasi termuda,” ungkap anggota tim Ecovolve.
Ecovolve memenangkan People’s Choice Award setelah mendapat suara terbanyak dari audiens melalui media sosial.
Lebih dari Kompetisi: Membangun Jaringan Kolaboratif
Tak hanya memberikan panggung bagi ide-ide inovatif, Climate Hack juga membentuk ekosistem berkelanjutan lewat jaringan alumni dan mentor dari berbagai sektor. Peserta, baik yang menang maupun tidak, tetap mendapatkan akses ke peluang kerja sama dan pengembangan lebih lanjut.
“Dampak program ini tidak berhenti di hari Pitch Day. Kami mendampingi peserta untuk terus tumbuh dan berkembang,” tambah Rebecca Boon.
Dalam sesi Pitch Day yang digelar pada 22 Februari lalu, peserta dari berbagai negara seperti Indonesia, Vietnam, dan India membagikan pengalaman mereka menghadapi dampak krisis iklim.
Salah satunya Josiah Enrico dari Indonesia, yang merasa terhubung secara emosional saat mendengar kisah Khanh Tong Le Van dari Vietnam tentang lonjakan penyakit akibat gelombang panas.
“Saya baru sadar kalau isu yang saya alami di Jakarta, juga terjadi di Ho Chi Minh. Kita nggak bisa hadapi ini sendirian,” kata Josiah.
Mendorong Kolaborasi Lintas Negara
Program ini turut mendukung Singapore Green Plan 2030, strategi nasional Singapura untuk pembangunan berkelanjutan. Selain itu, SIF juga membuka peluang kolaborasi lebih luas dengan Indonesia, yang telah menjadi mitra strategis dalam lebih dari 100 inisiatif selama tiga dekade terakhir.
“Kami yakin perubahan dimulai dari kerja sama. Indonesia adalah mitra penting, dan kami ingin memperkuat sinergi,” ujar Rebecca.
Climate Hack 2024 menjadi bukti bahwa dari ide-ide kecil anak muda, dapat lahir inovasi besar yang mengubah dunia. Dengan kolaborasi, teknologi, dan kepedulian, generasi muda Asia menunjukkan bahwa masa depan bumi ada di tangan mereka.***