Inversi Denpasar kembali hidup dalam semangat kreativitas dan kebersamaan dengan digelarnya Denpasar Festival (Denfest) ke-18.
Festival rakyat terbesar di Kota Denpasar itu resmi dibuka Wali Kota Denpasar I Gusti Ngurah Jaya Negara bersama Wakil Wali Kota Denpasar I Kadek Agus Arya Wibawa serta Ketua DPRD Kota Denpasar I Gusti Ngurah Gede, pada Sabtu malam, di kawasan Jalan Gajah Mada, Jalan Veteran, dan Monumen Puputan Badung.
Pembukaan festival ditandai dengan penyalaan api suci dalam sebuah prosesi inaugurasi yang berlangsung khidmat dan penuh makna. Tahun ini, Denfest tidak hanya tampil sebagai ruang hiburan, tetapi juga sebagai panggung apresiasi bagi pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM), pelaku seni, dan kreativitas masyarakat Denpasar.
Lebih dari itu, festival ini juga digagas sebagai role model festival ramah lingkungan dengan konsep Zero Waste Festival. Wali Kota Jaya Negara menegaskan, Denfest ke-18 diharapkan menjadi wahana promosi efektif bagi pelaku usaha dan perajin lokal untuk memperluas jangkauan pasar sekaligus meningkatkan daya saing ekonomi Denpasar.
“Harapan kami, secara berkesinambungan Denfest menjadi wahana kreativitas di berbagai bidang mulai seni, ekonomi kreatif, teknologi, desain, modeling, dan lainnya, yang mampu mendukung kemajuan ekonomi Kota Denpasar,” ujarnya.
Mengangkat tema Mulat Sarira, yang bermakna introspeksi diri, Denfest tahun ini dipandang sebagai momentum kedewasaan festival yang telah memasuki usia ke-18 tahun. Menurut Jaya Negara, usia tersebut menjadi simbol tumbuhnya kesadaran, rasa eling, dan mawas diri masyarakat Denpasar dalam menjaga identitas lokal sekaligus beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Denfest hadir sebagai ruang kota yang merekatkan budaya, tradisi, dan nilai kebersamaan masyarakat yang dikenal dengan semangat Vasudhaiva Kutumbhakam atau menyama braya. Tidak hanya hiburan semata, festival ini dirancang sebagai sarana pembelajaran sosial, budaya, dan lingkungan.
Salah satu hal yang menjadi perhatian serius tahun ini adalah penerapan konsep Zero Waste. Pemerintah Kota Denpasar menggandeng sedikitnya 18 komunitas lingkungan untuk terlibat aktif dalam pengelolaan sampah selama festival berlangsung. Seluruh sampah yang dihasilkan akan dipilah dan diolah langsung di lokasi, termasuk dimanfaatkan menjadi eco enzyme, serta menggunakan mesin pengepresan plastik untuk sampah anorganik.
“Sampah akan diselesaikan di hulu. Tidak ada sampah yang keluar dari arena festival. Selain pengelolaan, komunitas lingkungan juga akan bertugas memberikan edukasi kepada pengunjung agar lebih sadar dan bertanggung jawab dalam membuang sampah,” tegas Jaya Negara. Sebagai bentuk dorongan partisipasi publik, Pemkot Denpasar juga menyiapkan penghargaan bagi pengunjung yang tertib membuang sampah pada tempatnya.
Kepala Dinas Pariwisata Kota Denpasar Luh Putu Ryastiti menjelaskan, Denfest ke-18 melibatkan sebanyak 174 pelaku UMKM yang telah melalui proses seleksi dan kurasi. UMKM yang berpartisipasi berasal dari berbagai sektor, mulai kuliner modern dan tradisional, kopi, kriya, fesyen, kerajinan logam, hingga produk agro.
Untuk memudahkan pengunjung menikmati festival, area pelaksanaan dibagi ke dalam tiga zona utama. Zona pertama berada di Lapangan Puputan dan Wantilan Museum Bali, yang difokuskan untuk agenda pembukaan, panggung musik, panggung budaya, serta stan kuliner kekinian. Wantilan Museum Bali juga difungsikan sebagai lokasi workshop dan lomba fotografi.
Zona kedua berada di kawasan Patung Catur Muka hingga Jalan Gajah Mada barat. Zona ini menampilkan UMKM kuliner heritage, kopi, serta menjadi arena penyelenggaraan fashion show dan cosplay parade. Sementara zona ketiga berada di kawasan Jalan Veteran, yang menampilkan UMKM sektor fesyen, kriya, dan produk agro.
Selain menghadirkan UMKM, Denfest juga menjadi wadah seni pertunjukan. Sebanyak 30 grup musik dan 16 penampilan budaya akan mengisi festival yang berlangsung selama empat hari, mulai 20 hingga 23 Desember. Pada malam pembukaan, pengunjung disuguhkan penampilan spesial dari Tri Utami dan Dewa Budjana yang disusul dengan prosesi inaugurasi artistik berlatar Monumen Puputan Badung.
Ryastiti menegaskan, Denfest adalah milik publik dan bentuk komitmen Pemkot Denpasar dalam menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya dan pengembangan kreativitas modern. Tema Mulat Sarira, Hening Jiwa, Eling Rasadiharapkan menjadi refleksi masyarakat untuk terus membangun kota yang berjati diri, humanis, dan berkelanjutan.
Dengan semangat kolaborasi, keberpihakan pada UMKM, dan kepedulian terhadap lingkungan, Denpasar Festival ke-18 bukan sekadar pesta rakyat, tetapi menjadi simbol komitmen Kota Denpasar dalam menghadirkan ruang kreatif, sehat, dan berbudaya bagi masyarakat.