JAKARTA – Kekhawatiran masyarakat bahwa penggunaan kompor listrik dan kendaraan listrik akan membuat tagihan listrik melonjak mulai dijawab oleh kalangan akademisi. Sejumlah perguruan tinggi menyatakan transisi menuju energi bersih berbasis listrik justru lebih efisien dan berpotensi menghemat pengeluaran energi rumah tangga dalam jangka Panjang.
Dukungan tersebut memperkuat langkah Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia yang tengah mempercepat program transisi energi nasional guna mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap energi fosil impor yang rentan terhadap gejolak harga global.
Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto mengatakan perguruan tinggi diminta aktif mendukung percepatan transisi energi melalui riset dan inovasi teknologi.
Arahan tersebut disampaikan setelah rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Kamis, 5 Maret 2026
Menurut Brian, riset kampus akan difokuskan pada pengembangan energi baru dan terbarukan, terutama pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dan teknologi solar cell yang dinilai lebih murah dibandingkan pembangkit listrik diesel.
“Perguruan tinggi diminta mempercepat kajian dan penelitian untuk mendukung pemanfaatan PLTS, terutama sebagai pengganti pembangkit diesel yang biaya operasionalnya masih mahal,” ujarnya.
Sejumlah kajian energi menunjukkan penggunaan listrik memiliki efisiensi yang jauh lebih tinggi dibandingkan bahan bakar fosil.
Dalam sektor transportasi, kendaraan listrik mampu mengubah sekitar 70–80% energi menjadi tenaga gerak, sementara kendaraan berbahan bakar minyak hanya memanfaatkan sekitar 20–30% energi mesin.
Artinya, biaya operasional kendaraan listrik dalam jangka panjang dapat lebih rendah dibandingkan kendaraan konvensional.
Hal yang sama juga berlaku pada sektor rumah tangga. Kompor listrik dinilai memiliki efisiensi panas yang lebih tinggi dibandingkan kompor gas, sehingga penggunaan energi dapat lebih optimal.
Pemerintah menilai percepatan penggunaan listrik dalam sektor transportasi dan rumah tangga merupakan strategi penting untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi fosil.
Menurut Brian, fluktuasi harga BBM global selama ini menjadi salah satu faktor yang memicu tekanan terhadap perekonomian nasional.
“Harga BBM sangat dipengaruhi dinamika global. Karena itu Presiden meminta percepatan langkah-langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor energi,” jelasnya.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah mempercepat konversi kendaraan berbahan bakar minyak menuju kendaraan listrik.
Selain sektor transportasi, pemerintah juga mendorong penggunaan kompor listrik sebagai alternatif kompor LPG.
Langkah ini dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap LPG impor yang selama ini menjadi salah satu beban besar dalam anggaran subsidi energi.
Dengan berkurangnya konsumsi LPG subsidi, stabilitas Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) diharapkan dapat lebih terjaga.
Brian menegaskan bahwa dukungan perguruan tinggi akan memastikan setiap kebijakan transisi energi memiliki landasan ilmiah yang kuat. Bagi para akademisi, transisi energi bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga strategi ekonomi nasional.
Dengan memanfaatkan listrik dari sumber energi terbarukan seperti matahari, Indonesia berpeluang membangun sistem energi yang lebih stabil, lebih murah, dan lebih mandiri.
Dukungan riset dari perguruan tinggi diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat bahwa penggunaan listrik—baik untuk kendaraan maupun kebutuhan rumah tangga—justru menjadi solusi energi masa depan yang lebih hemat dan lebih berkelanjutan.