Inversi Aktivitas seismik kembali terjadi di sejumlah wilayah Indonesia pada Selasa (6/1/2026). Hingga pukul 20.25 WIB, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat setidaknya dua kali gempa bumi mengguncang wilayah Indonesia, masing-masing terjadi di Provinsi Maluku dan Sulawesi Tengah.
Meski berkekuatan relatif kecil, peristiwa ini kembali mengingatkan masyarakat bahwa Indonesia merupakan salah satu negara yang berada di kawasan rawan gempa bumi. Gempa pertama terjadi pada dini hari, tepatnya pukul 03.27.48 WIB, di wilayah Kabupaten Buru Selatan, Provinsi Maluku.
Berdasarkan laporan resmi BMKG, pusat gempa berada di darat dengan jarak sekitar 52 kilometer di timur laut Buru Selatan. Gempa tersebut memiliki kekuatan magnitudo 1,7 dengan kedalaman 10 kilometer. BMKG mencatat episenter gempa berada pada koordinat 3,66 Lintang Selatan dan 128,17 Bujur Timur.
Guncangan gempa ini dirasakan lemah di wilayah Ambon dengan intensitas I–II pada Skala Modified Mercalli Intensity (MMI). Pada skala tersebut, gempa umumnya hanya dirasakan oleh sebagian kecil penduduk dan tidak menimbulkan kerusakan.
Beberapa jam berselang, gempa bumi kembali terjadi pada pagi hari pukul 07.11.32 WIB. Kali ini, wilayah Donggala, Provinsi Sulawesi Tengah, dilaporkan mengalami guncangan. BMKG menyebutkan gempa tersebut memiliki magnitudo 3,5 dengan kedalaman 10 kilometer. Pusat gempa berada di darat, sekitar 21 kilometer di selatan Donggala.
Episenter gempa Donggala terletak pada koordinat 0,61 Lintang Selatan dan 119,84 Bujur Timur. Guncangan gempa dirasakan di wilayah Palu Utara dengan intensitas II–III MMI. Pada tingkat ini, gempa dirasakan nyata di dalam rumah, seolah-olah ada kendaraan berat yang melintas, namun belum menimbulkan dampak kerusakan signifikan.
BMKG memastikan bahwa kedua gempa tersebut tidak berpotensi menimbulkan tsunami. Meski demikian, masyarakat tetap diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.
Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan tingkat aktivitas kegempaan tertinggi di dunia. Kondisi ini disebabkan oleh letak geografis Indonesia yang berada di pertemuan tiga lempeng tektonik utama, yakni Lempeng Indo-Australia, Lempeng Eurasia, dan Lempeng Pasifik. Interaksi antar lempeng tersebut menyebabkan wilayah Indonesia rawan mengalami gempa bumi, baik dengan kekuatan kecil maupun besar.
Menurut BMKG, gempa bumi merupakan peristiwa bergetarnya bumi akibat pelepasan energi secara tiba-tiba di dalam kerak bumi. Energi tersebut dilepaskan akibat pergeseran atau patahan lapisan batuan, aktivitas gunung api, maupun runtuhan batuan. Sementara itu, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menjelaskan bahwa gempa bumi dapat terjadi kapan saja dan berlangsung dalam waktu singkat, tetapi berpotensi menimbulkan dampak besar.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa secara global, gempa bumi menyebabkan sekitar 750 ribu kematian sepanjang periode 1998–2017. Lebih dari 125 juta orang terdampak oleh bencana gempa bumi dalam kurun waktu tersebut. Data ini menunjukkan bahwa gempa bumi merupakan salah satu bencana alam paling mematikan di dunia.
Oleh karena itu, meskipun gempa bumi tidak dapat dicegah, dampaknya dapat diminimalkan melalui kesiapsiagaan dan pemahaman yang baik mengenai langkah-langkah tanggap bencana. Tanggap bencana gempa bumi mencakup kesiapan sebelum, saat, dan setelah gempa terjadi.
Sebelum gempa terjadi, masyarakat disarankan untuk memastikan bahwa bangunan tempat tinggal memiliki struktur yang aman dan sesuai standar ketahanan gempa. Perabotan berat sebaiknya ditempatkan di bagian bawah dan dipasang kuat agar tidak mudah roboh. Selain itu, penting untuk mengenali jalur evakuasi, lokasi tangga darurat, serta tempat berlindung yang aman di dalam rumah atau tempat kerja.
Saat gempa terjadi, masyarakat yang berada di dalam bangunan diimbau untuk melindungi kepala dan tubuh dari reruntuhan, misalnya dengan berlindung di bawah meja yang kokoh. Jika berada di luar ruangan, segera menjauh dari bangunan, tiang listrik, dan pohon. Sementara itu, warga yang berada di wilayah pesisir diminta untuk menjauhi pantai guna mengantisipasi kemungkinan tsunami.
Setelah gempa mereda, masyarakat diimbau keluar dari bangunan secara tertib dan tidak menggunakan lift. Periksa kondisi sekitar, termasuk kemungkinan kebocoran gas, aliran listrik, atau kebakaran. Masyarakat juga diingatkan untuk tetap waspada terhadap gempa susulan dan mengikuti informasi resmi dari BMKG atau instansi berwenang.
Rangkaian gempa yang terjadi pada Selasa (6/1/2026) ini menjadi pengingat penting bagi seluruh masyarakat Indonesia akan perlunya kesiapsiagaan menghadapi bencana. Dengan pemahaman yang baik dan sikap waspada, risiko dan dampak gempa bumi dapat diminimalkan demi keselamatan bersama.