TEHERAN, IRAN – Konflik berskala besar antara Iran melawan koalisi militer Amerika Serikat dan Israel memasuki fase kritis sejak diluncurkannya Operasi Epic Fury pada 28 Februari 2026.
Operasi yang dipandang sebagai serangan terbesar dalam beberapa dekade ini tidak hanya berdampak pada arena militer, tetapi justru membuka luka domestik Iran yang terus membesar — dan dunia kini memperhatikan dengan waspada.
Operasi yang dinamai Epic Fury oleh militer AS–Israel ini dilancarkan sebagai serangan udara dan misil terhadap target-target strategis di Teheran dan kota-kota lain di Iran, termasuk fasilitas militer dan infrastruktur penting. Sumber intelijen, yang dikutip dari Iran Update pada publikasi pada 23 Februari lalu menunjukkan bahwa selain target militer, operasi ini juga bertujuan memanfaatkan ketegangan internal rezim untuk melemahkan dukungan terhadap kepemimpinan Iran.
Api dalam sekam di dalam rezim Iran ini sudah dibahas pada laporan Iran Update yang dipublikasi pada 23 Februari lalu yang mengungkap bagaimana ancaman internal juga menggerogoti tubuh para pemimpin Iran.
Laporan BBC News menggambarkan suasana di kota-kota besar Iran sebagai deeply mixed, benar-benar campur aduk. Beberapa warga terjebak dalam kepanikan mendengar ledakan dan sirene, sementara sebagian lainnya menunjukkan rasa lega dan bahkan merayakan serangan, percaya bahwa ini adalah jalan menuju runtuhnya rezim yang telah berkuasa puluhan tahun.
Seorang warga dilaporkan mengatakan bahwa ledakan terdengar pagi hari saat serangan terjadi, sementara rekaman media sosial menunjukkan sejauh mana ketakutan dan kebingungan menyebar di tengah warga.
Protes Anti-Rezim Meluas: Krisis Internal Iran Memburuk
Analisis dari Institute for the Study of War (ISW) dan Critical Threats Project (CTP), yang dirilis dalam Iran Update 26 Februari 2026, menunjukkan bahwa Iran telah mengalami gelombang protes anti-rezim yang intensif sejak akhir Desember 2025. Paling tidak 32 aksi protes tercatat sejak 21 Februari 2026, mayoritas digerakkan oleh mahasiswa dan generasi muda di banyak provinsi, termasuk aksi besar pada tanggal 26 Februari.
Rutinitas tradisi berkabung 40 hari yang biasanya merupakan acara agama kini justru kerap dimanfaatkan kelompok oposisi sebagai momentum protes anti-pemerintah, memaksa rezim meningkatkan langkah represif seperti penangkapan dan pembatasan aktivitas kampus.
ISW–CTP juga mencatat adanya polarisasi opini publik di Iran terkait serangan ini. Pertama, kelompok anti-rezim melihat intervensi militer sebagai peluang bersejarah untuk menggulingkan rezim yang telah lama berkuasa.
Kedua, pendukung konservatif memperingatkan agar konflik eksternal justru dapat memperburuk kekacauan, mengancam keselamatan warga, dan memicu konflik internal yang lebih parah.
Kedua kelompok ini mencerminkan dilema dalam masyarakat Iran, yakni keinginan untuk perubahan kontra ketakutan akan kekerasan yang lebih luas.
Laporan intelijen juga menyoroti kondisi ekonomi Iran yang memburuk sebagai faktor penyebab meningkatnya ketidakpuasan publik terhadap pemerintah. Nilai mata uang yang merosot dan tekanan internasional telah memperparah ketegangan domestik yang sudah tinggi sejak protes besar pecah pada akhir 2025.
Serangan ini telah memicu serangkaian dampak geopolitik yang lebih luas. Pertama, rudal dan serangan balasan dari Iran ke wilayah Israel dan pangkalan militer AS di kawasan Teluk berpotensi meluaskan perang ke wilayah Persia lainnya. Kedua, aksi protes internasional terhadap perang ini muncul di kota-kota seperti London, menunjukkan simpati global terhadap kondisi rakyat Iran. Dan ketiga, keterlibatan milisi yang didukung Iran, seperti kelompok yang berafiliasi dengan Kataib Hezbollah, meningkatkan kemungkinan konflik berkepanjangan jika rezim merasa terancam eksistensinya.
Konflik Iran vs AS–Israel saat ini menggambarkan dua dimensi yang saling berkaitan. Pertama, dimensi militer, serangan operasi besar yang melibatkan AS dan Israel dengan tujuan strategis terhadap rezim Iran. Kedua, dimensi domestik, ketidakpuasan internal di Iran telah terekspos, dengan protes yang meluas dan sentimen masyarakat yang terbelah tajam.
Kedua dimensi ini memperkuat narasi bahwa perang hari ini bukan sekadar adu kekuatan militer — tetapi juga perang ideologis dan politik yang menantang stabilitas rezim Iran dari dalam dan luar.