INVERSI.ID – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyoroti potensi dampak ekonomi apabila Selat Hormuz ditutup akibat eskalasi konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Menurutnya, jalur strategis tersebut memiliki peran krusial dalam arus perdagangan global, termasuk bagi stabilitas ekonomi Jakarta.
Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia. Perairan yang menghubungkan Teluk Persia dan Teluk Oman, serta berada di antara Oman dan Iran ini, menjadi lintasan utama distribusi energi global. Sekitar seperlima ekspor minyak dunia melewati kawasan tersebut, termasuk pasokan dari negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Irak sebelum dikirim ke berbagai negara tujuan.
“Jika Selat Hormuz ditutup pasti akan berdampak pada supply chain atau rantai pengiriman barang dan barang-barang mengalami kenaikan harga,” kata Pramono saat membuka JIS Ramadhan Festival 2026 di Jakarta, Minggu.
Meski demikian, Pramono mengimbau warga Ibu Kota agar tidak bereaksi berlebihan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, kata dia, memprioritaskan pengamanan pasokan kebutuhan pokok, terutama menjelang Idul Fitri yang biasanya diiringi peningkatan konsumsi masyarakat.
Ia menyebut sejumlah komoditas utama yang menjadi perhatian yakni cabai merah, daging, serta beras. Pemprov DKI memastikan stok ketiga kebutuhan tersebut dalam kondisi aman dan mencukupi.
Untuk komoditas daging, ketersediaannya juga dinyatakan masih stabil dan terkendali. Pemerintah daerah akan terus melakukan pemantauan harga di pasar-pasar utama serta mengawasi pergerakan inflasi agar bisa segera mengambil langkah antisipatif bila terjadi lonjakan harga.
“Kami pantau di semua pasar utama di Jakarta belum terjadi kenaikan,” kata dia.
Sementara itu, Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif CORE Indonesia Mohammad Faisal menilai eskalasi konflik di Timur Tengah berpotensi memicu tekanan terhadap harga energi global. Serangan Israel ke Iran yang terjadi pada Sabtu (28/2) disebut dapat memicu lonjakan harga minyak dunia.
Saat dihubungi ANTARA di Jakarta, Minggu, Faisal menjelaskan harga minyak mentah saat ini berada di kisaran 70 dolar AS per barel. Namun, jika ketegangan berlanjut, harga berpeluang naik ke level 80 dolar AS per barel.
Ia menambahkan, apabila distribusi minyak melalui Selat Hormuz terganggu, harga bisa melonjak hingga menembus 100 dolar AS per barel. Jalur ini dilalui sekitar 20 persen perdagangan minyak global, sehingga gangguan sekecil apa pun dapat berdampak signifikan terhadap pasar energi dunia.
“Kalau sudah sampai 100 dolar per barel, itu masuk zona tinggi, rekor. Beberapa tahun terakhir kita tidak mengalami kenaikan setinggi itu, terakhir ketika awal perang Rusia-Ukraina,” katanya.
Kondisi ini menjadi perhatian banyak pihak karena kenaikan harga minyak mentah dunia berpotensi memicu efek berantai, mulai dari biaya logistik hingga harga barang kebutuhan sehari-hari.