INVERSI.ID – Fenomena Generasi Z sulit mendapatkan pekerjaan semakin nyata terlihat di berbagai belahan dunia. Ketua Federal Reserve, Jerome Powell, bahkan mengingatkan bahwa banyak lulusan baru akan menghadapi kesulitan saat memasuki dunia kerja. Hal ini ia sampaikan dalam konferensi pers setelah rapat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), yang menyoroti kondisi pasar tenaga kerja global.
Fenomena Generasi Z sulit mendapatkan pekerjaan juga dipertegas Powell dengan pernyataan bahwa anak muda, termasuk fresh graduate dan kelompok minoritas, kini mengalami hambatan signifikan. Meski tingkat pemutusan hubungan kerja (PHK) relatif rendah, kesempatan perekrutan pun ikut melambat. Kondisi ini membuat Generasi Z berada dalam situasi dilematis ketika mereka baru saja menyelesaikan pendidikan tinggi dan bersiap meniti karier.
Fenomena Generasi Z sulit mendapatkan pekerjaan bukan sekadar isu musiman, melainkan tantangan struktural yang dipengaruhi perubahan teknologi, pergeseran ekonomi, hingga dampak revolusi industri keempat. Powell bahkan memperkirakan 50% pekerjaan kerah putih berpotensi hilang. Menurutnya, kemajuan teknologi, termasuk kecerdasan buatan (AI), cenderung menggantikan peran manusia di sejumlah sektor ketimbang menambah lapangan kerja baru.
Kondisi Pasar Kerja yang Mengkhawatirkan
Laporan ketenagakerjaan terbaru menunjukkan bahwa situasi pasar tenaga kerja sedang suram. Kepala Ekonom Apollo Global Management, Torsten Slok, mencatat tren menarik: tingkat pengangguran menurun pada fresh graduate perempuan, tetapi justru meningkat pada fresh graduate laki-laki. Fenomena ini memperlihatkan adanya ketimpangan dalam kesempatan kerja, yang bisa dipengaruhi oleh faktor sosial, kultural, hingga kebutuhan pasar kerja yang lebih condong pada bidang tertentu.
Powell menekankan bahwa perubahan besar dalam struktur pekerjaan tidak bisa dihindari. Pekerjaan level menengah berkurang, sementara posisi baru yang tercipta lebih banyak di sektor teknologi dan digital. Namun, tidak semua Gen Z memiliki keterampilan sesuai kebutuhan pasar. Kesenjangan keterampilan inilah yang memperparah tantangan pencarian kerja.
Fenomena Generasi Z sulit mendapatkan pekerjaan juga sejalan dengan meningkatnya penggunaan AI di berbagai sektor. Banyak perusahaan lebih memilih efisiensi melalui otomatisasi, yang berujung pada pengurangan tenaga kerja manusia. Meski begitu, beberapa analis percaya bahwa teknologi pada akhirnya akan membuka peluang baru. Namun, dalam jangka pendek, Gen Z tetap menghadapi jalan terjal dalam membangun karier mereka.
Dampak Jangka Panjang bagi Gen Z
Fenomena Generasi Z sulit mendapatkan pekerjaan tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga pada stabilitas ekonomi jangka panjang. Studi menunjukkan bahwa memasuki pasar kerja dalam kondisi ekonomi buruk bisa menurunkan pendapatan seumur hidup seseorang. Hal ini berarti Gen Z berpotensi menghadapi kesulitan finansial dalam jangka panjang, mulai dari menunda kepemilikan rumah, membatasi tabungan, hingga menghambat kemandirian ekonomi.
Profesor Harvard, David Ellwood, bahkan memperkenalkan istilah “bekas luka permanen” sejak 1982 untuk menggambarkan dampak jangka panjang pengangguran. Penelitian dari ekonom Olivier Blanchard dan Larry Summers juga memperkuat argumen tersebut, bahwa pengangguran akibat resesi bisa meninggalkan jejak negatif pada karier seseorang selama bertahun-tahun. Dengan kata lain, kesulitan Gen Z memasuki dunia kerja bukan hanya masalah sesaat, melainkan persoalan yang bisa memengaruhi stabilitas hidup mereka di masa depan.
Kondisi ini semakin kompleks karena Gen Z harus bersaing di era yang menuntut adaptasi cepat terhadap teknologi. Mereka dituntut untuk terus meningkatkan keterampilan digital, komunikasi, dan kreativitas agar tetap relevan di pasar kerja. Di sisi lain, pemerintah dan dunia usaha juga memegang peranan penting dalam menciptakan ekosistem yang mendukung kesempatan kerja bagi generasi muda.
Fenomena Generasi Z sulit mendapatkan pekerjaan merupakan persoalan serius yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Tantangan ini muncul akibat kombinasi faktor, mulai dari perubahan struktur ekonomi global, penetrasi teknologi, hingga ketimpangan kesempatan kerja. Jika tidak segera diatasi, kondisi ini dapat meninggalkan dampak jangka panjang, baik bagi individu maupun perekonomian secara keseluruhan.
Oleh karena itu, dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan institusi pendidikan untuk menciptakan solusi nyata. Program pelatihan keterampilan digital, peningkatan literasi keuangan, hingga kebijakan pro-generasi muda perlu dikembangkan agar Gen Z tidak kehilangan momentum membangun karier. Dengan langkah strategis, generasi ini tetap bisa menjadi motor penggerak ekonomi masa depan.