INVERSI.ID – Work-life balance Gen Z menjadi salah satu isu penting di era modern, terutama karena generasi ini dikenal lebih sadar akan pentingnya kesehatan mental dibanding generasi sebelumnya. Namun, di balik kesadaran tersebut, Gen Z justru paling rentan mengalami stres dan burnout akibat tuntutan kerja yang tinggi. Psikolog dari Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Imam Faisal Hamzah, S.Psi., M.A., menyoroti satu strategi sederhana namun efektif untuk menjaga work-life balance Gen Z: menulis jurnal harian atau journaling.
Work-life balance Gen Z memang tidak mudah dijaga, terutama ketika mereka baru memasuki dunia kerja. Perubahan dari kehidupan akademis ke lingkungan profesional sering kali memunculkan tekanan baru. Dalam sesi Ruang Psikologi RRI Purwokerto, Imam Faisal menekankan bahwa journaling bukan sekadar menulis catatan, melainkan cara reflektif yang membantu generasi muda mengendalikan diri, menjaga emosi, sekaligus menyeimbangkan hidup.
Work-life balance Gen Z, menurut Imam Faisal, bisa lebih mudah dicapai ketika mereka rutin menulis jurnal harian. Kegiatan sederhana ini membantu mereka mengenali pikiran, meredakan tekanan, serta menemukan prioritas hidup. Dengan journaling, generasi muda bisa menghindari kebiasaan memendam emosi yang justru berpotensi memicu stres berat dan burnout.
Journaling sebagai Alat Kendali Diri Gen Z
Menurut Imam Faisal Hamzah, journaling berfungsi sebagai katup pelepas stres sekaligus sarana refleksi diri yang kuat. Di tengah dunia kerja yang serba cepat dan penuh tuntutan, banyak anak muda mengalami overthinking, merasa cemas, hingga sulit mengendalikan pikiran. Journaling memberi ruang aman untuk mengekspresikan semua hal itu.
“Gen Z rentan terhadap overthinking dan memendam tekanan. Menuliskan pikiran, perasaan, dan kekesalan di jurnal secara teratur membantu mereka mengeluarkan beban emosional yang jika ditahan bisa memicu burnout,” jelas Imam.
Ada tiga manfaat utama journaling bagi Gen Z yang sedang membangun karier:
- Memetakan Batasan Kerja (Setting Boundaries).
Dengan menulis jurnal, Gen Z bisa melihat gambaran seberapa banyak waktu mereka habiskan untuk pekerjaan dibanding kehidupan pribadi. Dari sini, mereka bisa menyadari kebiasaan yang tidak sehat—misalnya kebiasaan mengecek email di malam hari—dan belajar menetapkan batasan yang lebih tegas. - Meningkatkan Kesadaran Diri dan Prioritas.
Bagi pekerja pemula, menentukan prioritas sering kali menjadi tantangan. Journaling membantu mereka merefleksikan hal terpenting dalam sehari, membedakan tugas mendesak dengan tugas penting, serta memilih kegiatan yang memberi energi positif. - Mencegah Burnout Dini.
Dengan menuliskan pemicu stres, seperti konflik dengan rekan kerja atau tenggat yang tidak realistis, Gen Z bisa memproses masalah lebih cepat. Hal ini membuat mereka lebih siap mencari solusi daripada membiarkan tekanan menumpuk.
Tips Praktis Memulai Journaling untuk Gen Z
Imam Faisal Hamzah menyarankan journaling dilakukan secara konsisten, meskipun hanya 5–10 menit per hari. Tidak perlu menulis panjang, yang terpenting adalah keteraturan. Beberapa hal sederhana yang bisa dituliskan antara lain:
- Tiga hal yang dicapai hari ini. Fokus pada keberhasilan kecil, bukan hanya kegagalan.
- Satu emosi kuat yang dirasakan. Tuliskan nama emosinya dan alasan kemunculannya.
- Satu batasan yang ingin diterapkan besok. Misalnya, tidak membuka laptop setelah jam 6 sore atau membatasi penggunaan media sosial sebelum tidur.
Dengan menjadikan journaling sebagai rutinitas, pegawai Gen Z tidak hanya menjaga kesehatan mental, tetapi juga melatih kemampuan reflektif. Kebiasaan ini membantu mereka lebih tangguh dalam menghadapi tekanan kerja dan lebih konsisten menjaga keseimbangan hidup.
Imam menambahkan, journaling bisa dilakukan secara manual dengan buku catatan atau melalui aplikasi digital yang kini banyak tersedia. Yang terpenting adalah kejujuran dalam menuliskan isi hati, karena jurnal adalah ruang pribadi yang tidak perlu dinilai orang lain.
Work-life balance Gen Z bukan hanya jargon, melainkan kebutuhan nyata di tengah dunia kerja yang menuntut produktivitas tinggi. Journaling hadir sebagai strategi sederhana namun efektif untuk membantu anak muda mengatur batasan, mengenali prioritas, dan mengurangi risiko burnout.
Dengan konsistensi, journaling bisa menjadi alat ampuh bagi Gen Z untuk menjaga kesehatan mental sekaligus memperkuat posisi mereka dalam dunia profesional. Kebiasaan ini juga bisa melatih mereka lebih sadar diri, lebih tenang menghadapi tekanan, serta lebih siap membangun karier jangka panjang.