By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: Fenomena Pura-Pura Kerja, Jalan Pintas Anak Muda China Hadapi Pengangguran
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Fenomena Pura-Pura Kerja, Jalan Pintas Anak Muda China Hadapi Pengangguran

LifeStyle

Fenomena Pura-Pura Kerja, Jalan Pintas Anak Muda China Hadapi Pengangguran

Jack
By
Jack
11 months ago
Share
7 Min Read
Pura pura kerja
SHARE

INVERSI.ID – Fenomena pura-pura kerja di China sedang menjadi sorotan publik internasional. Di tengah melambatnya pertumbuhan ekonomi dan tingginya angka pengangguran, sejumlah anak muda justru rela mengeluarkan uang demi “bekerja” di kantor, meski tidak menerima gaji sepeser pun.

Contents
Kantor Lengkap, Aktivitas BeragamMenjual ‘Harga Diri’Analisis Sosial dan EkonomiMasa Depan Tren ‘Pura-Pura Kerja’

Tren ini muncul ketika tingkat pengangguran pemuda di Negeri Tirai Bambu tercatat lebih dari 14 persen. Bagi sebagian anak muda, membayar untuk masuk kantor dianggap lebih bermanfaat dibandingkan berdiam diri di rumah tanpa kegiatan. Fenomena pura-pura kerja di China ini bahkan mulai dipandang sebagai alternatif bagi mereka yang ingin tetap produktif sambil mencari peluang kerja baru.

Salah satu pelaku tren unik ini adalah Shui Zhou (30). Setelah usaha kulinernya bangkrut pada 2024, Zhou memutuskan bergabung dengan Pretend To Work Company di Dongguan, kota yang berjarak tidak jauh dari Hong Kong. Sejak April 2025, ia membayar 30 yuan per hari—sekitar Rp65.000 untuk “bekerja” di kantor sewaan tersebut. Bersama lima orang lainnya yang bernasib serupa, Zhou kembali merasakan atmosfer kerja yang sempat hilang darinya.

“Saya senang sekali, rasanya seperti punya rekan kerja lagi,” ujar Zhou seperti dikutip BBC.

Kantor Lengkap, Aktivitas Beragam

Konsep fenomena pura-pura kerja di China ini ternyata memiliki fasilitas lengkap, layaknya kantor profesional. Di Dongguan, ruang kerja Pretend To Work Company dilengkapi komputer, akses internet, ruang rapat, hingga pantry.

Peserta yang membayar bisa menggunakan waktu mereka untuk mencari lowongan pekerjaan, mengerjakan proyek pribadi, atau sekadar bersosialisasi dengan sesama penyewa meja kerja. Biaya harian berkisar 30–50 yuan sudah termasuk makan siang dan camilan, sehingga suasana produktif dapat tercipta tanpa beban pekerjaan nyata.

Tidak hanya di Dongguan, tren ini mulai menjamur di kota-kota besar seperti Shenzhen, Shanghai, Nanjing, Wuhan, Chengdu, dan Kunming. Menurut Dr. Christian Yao, pakar ekonomi China dari Victoria University of Wellington, fenomena ini menjadi “solusi transisi” bagi anak muda yang sedang mencari arah hidup atau pekerjaan sambilan.

Bagi Zhou, bekerja di kantor sewaan membuatnya lebih disiplin dan tenang. Rutinitasnya dimulai pukul 8–9 pagi dan terkadang berlanjut hingga larut malam. Hubungan antar “rekan kerja” pun erat, mereka kerap makan malam bersama dan saling memberi dukungan moral.

Cerita serupa datang dari Xiaowen Tang (23), lulusan universitas di Shanghai. Tang menyewa meja kerja selama sebulan untuk memenuhi persyaratan kelulusannya, yakni menyerahkan bukti magang atau kontrak kerja. Alih-alih benar-benar bekerja di perusahaan, ia memanfaatkan waktu tersebut untuk menulis novel daring demi mendapatkan uang saku.

Baca Juga :

Biodata dan Profil Zoe Levana, Konten Kreator yang Mengaku Terjebak di Jalur Busway
Selat Hormuz Memanas, Iran Batasi Akses Hanya untuk Negara Mitra

“Kalau mau pura-pura, ya sekalian saja sampai tuntas,” katanya sambil tertawa.

Menjual ‘Harga Diri’

Pendiri Pretend To Work Company di Dongguan, Feiyu (30), secara terbuka mengakui bahwa ia menjual “harga diri” bagi orang-orang yang merasa kehilangan arah. Mantan pengusaha ritel ini pernah merasakan pahitnya menganggur setelah bisnisnya ambruk saat pandemi.

Kini, sekitar 40 persen pelanggannya adalah lulusan baru yang membutuhkan bukti magang untuk kampus. Sisanya adalah freelancer, penulis daring, atau pekerja kreatif yang membutuhkan suasana kerja kondusif.

“Ini memang kebohongan demi menjaga harga diri. Tapi kalau bisa mengubah pura-pura kerja menjadi titik awal karier nyata, barulah eksperimen ini berarti,” ujar Feiyu.

Meski terdengar aneh, bagi sebagian peserta, fenomena pura-pura kerja di China memberikan manfaat psikologis. Suasana kantor yang dinamis membuat mereka merasa bagian dari lingkungan produktif, sekaligus menghindarkan diri dari rasa kesepian dan stres akibat menganggur.

Bahkan, beberapa peserta memanfaatkan kesempatan ini untuk mengembangkan keterampilan baru. Zhou, misalnya, kini fokus mempelajari kecerdasan buatan (AI) demi membuka peluang karier yang lebih menjanjikan di masa depan.

“Saya ingin mengubah pura-pura kerja ini menjadi awal dari pekerjaan sungguhan,” ucapnya optimistis.

Analisis Sosial dan Ekonomi

Fenomena ini juga mencerminkan tekanan sosial yang dihadapi generasi muda di China. Dalam budaya kerja yang kompetitif, status sosial sering dikaitkan dengan pekerjaan. Tidak bekerja atau menganggur dianggap memalukan, sehingga “pura-pura bekerja” menjadi jalan tengah untuk mempertahankan martabat di mata keluarga dan teman.

Dr. Yao menilai bahwa tren ini adalah cerminan dari ketidakseimbangan antara jumlah lulusan baru dan ketersediaan lapangan kerja.

“Ini gejala dari masalah struktural di pasar tenaga kerja. Meskipun terlihat unik, sebenarnya ini bentuk adaptasi kreatif terhadap situasi sulit,” ujarnya.

Selain manfaat ekonomi tidak langsung, fenomena ini memberikan ruang untuk membangun jejaring sosial. Banyak peserta yang menemukan peluang kerja atau proyek kolaborasi melalui interaksi di kantor sewaan.

Bagi generasi muda yang akrab dengan konsep coworking space, fenomena pura-pura kerja tidak terlalu jauh berbeda, bedanya, motivasi utama bukan sekadar ruang kerja, melainkan juga perasaan menjadi bagian dari komunitas produktif.

Masa Depan Tren ‘Pura-Pura Kerja’

Tidak sedikit yang memprediksi bahwa fenomena ini akan bertahan selama tingkat pengangguran masih tinggi. Beberapa perusahaan bahkan melihat peluang bisnis untuk menyediakan fasilitas serupa di negara lain dengan kondisi pasar kerja yang menantang.

Meski demikian, ada pula kritik yang menyebut fenomena ini sebagai bentuk pelarian sementara yang tidak menyelesaikan akar masalah.

“Kalau tidak diimbangi dengan peningkatan keterampilan dan pencarian kerja aktif, pura-pura kerja hanya akan menjadi rutinitas tanpa arah,” kata Feiyu mengingatkan.

Fenomena pura-pura kerja di China menunjukkan betapa kreatifnya generasi muda dalam merespons tantangan ekonomi dan sosial. Meski terkesan lucu atau absurd, tren ini mengandung pelajaran penting, rasa memiliki tujuan dan lingkungan yang mendukung dapat membantu seseorang bertahan melewati masa sulit.

Zhou dan banyak anak muda lainnya membuktikan bahwa kadang, langkah kecil seperti duduk di meja kerja dan berinteraksi dengan orang lain bisa menjadi awal dari perubahan besar dalam hidup. Siapa tahu, dari pura-pura kerja inilah akan lahir karier baru yang sesungguhnya.

You Might Also Like

Wisata Indonesia Makin Bergairah, Kunjungan Turis Asing dan Wisnus Kompak Meningkat
Komdigi: Akun Influencer Daerah Jadi Target Utama Spam Judi Online di Media Sosial
WhatsApp Bakal Hadirkan Fitur Username, Chat Tanpa Perlu Bagikan Nomor Telepon
Indonesia Kejar Posisi Teratas GMTI 2026, Kemenpar Perkuat Promosi Wisata Halal
Pemerintah Jepang Resmi Usulkan Sistem Dua Ibu Kota untuk Kurangi Sentralisasi Tokyo
TAGGED:ChinaTren Pura Pura Kerja
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Self-Diagnose di TikTok: Bantu Paham Diri atau Malah Menyesatkan?
Next Article PKKMB 2025 Buka Jalan Anak Muda Hadapi Era AI dan Tantangan Global
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo

Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!

Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat

Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya

Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia

Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang, Warga Berterima Kasih

Megawati Usulkan Kolaborasi Indonesia-Timor Leste Lewat BRIN dan BPIP

Di Tengah Giringan Opini Kasus PLTU, Bahlil Tegaskan, “Kalau Diminta Data, Kami Kasih”

Presiden Resmi Luncurkan B50, Tonggak Baru Transisi Energi Nasional

Bahlil Ungkap Minat Besar India Investasi Migas di Indonesia

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Travel

Kebijakan Bebas Visa Dinilai Jadi Kunci Tingkatkan Daya Saing Pariwisata Indonesia

3 weeks ago
Travel

Target Wisman Naik Tajam, Kemenpar Optimistis Indonesia Dikunjungi 19,1 Juta Turis Asing pada 2027

4 weeks ago
Travel

Bandara Soekarno-Hatta Tambah Rute Baru ke Tiongkok, Spring Airlines Resmi Terbang ke Jakarta

4 weeks ago
LifeStyleTerkini

Pamer Liburan, Tapi Keluhkan Pertamax? Fenomena yang Memicu Perdebatan di Medsos

4 weeks ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index