By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: Self-Diagnose di TikTok: Bantu Paham Diri atau Malah Menyesatkan?
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Self-Diagnose di TikTok: Bantu Paham Diri atau Malah Menyesatkan?

Kesehatan

Self-Diagnose di TikTok: Bantu Paham Diri atau Malah Menyesatkan?

Jack
By
Jack
11 months ago
Share
3 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Pernah nggak sih kamu nonton video di TikTok tentang tanda-tanda ADHD, depresi, atau gangguan kecemasan, lalu tiba-tiba mikir, “Eh, kok gue banget ya?” Fenomena seperti ini dikenal sebagai self-diagnose, yaitu ketika seseorang mencoba mendiagnosis kondisi psikologis atau fisiknya sendiri tanpa bantuan profesional.

Contents
Self-Diagnose: Tren Baru di Era DigitalPositifnya: Bangun Kesadaran dan EmpatiNegatifnya: Bisa Menyesatkan dan Menambah KecemasanKata Psikolog: Penting Banget Konsultasi

Di tengah derasnya informasi yang berseliweran di media sosial, terutama TikTok, tren self-diagnose di kalangan Gen Z dan milenial makin marak. Tapi, pertanyaannya, apakah tren ini bermanfaat atau justru menyesatkan?

Self-Diagnose: Tren Baru di Era Digital

TikTok saat ini bukan cuma platform hiburan, tapi juga jadi ruang edukasi. Banyak kreator konten, termasuk yang berlatar belakang psikolog atau dokter, membagikan informasi soal kesehatan mental, ciri-ciri gangguan psikologis, hingga tips mengelola emosi.

Konten yang terkait dengan informasi kesehatan mental, sering kali relatable dan gampang dipahami. Tak heran kalau banyak orang merasa tercerahkan, bahkan menganggap dirinya punya gangguan mental tertentu hanya dari satu-dua video singkat.

Positifnya: Bangun Kesadaran dan Empati

Fenomena ini sebenarnya nggak sepenuhnya buruk. Ada sisi positif dari tren self-diagnose. Banyak orang yang sebelumnya nggak tahu soal anxiety atau ADHD jadi lebih melek informasi.

Kadang, konten di TikTok bisa jadi pemicu seseorang untuk menyadari ada yang nggak beres dengan dirinya dan memutuskan mencari bantuan profesional. Dengan banyaknya pembahasan soal mental health, makin banyak juga orang yang merasa tidak sendiri dalam perjuangan mereka.

Negatifnya: Bisa Menyesatkan dan Menambah Kecemasan

Sayangnya, ada juga sisi gelap dari tren ini, tidak semua kreator punya latar belakang profesional. Beberapa bahkan cuma mengandalkan pengalaman pribadi atau cuplikan dari Google.

Orang bisa jadi mengaitkan semua gejala yang ia rasakan dengan gangguan tertentu, padahal bisa jadi itu hal normal atau disebabkan faktor lain.

Self-diagnose yang keliru bisa membuat seseorang mengabaikan masalah yang sebenarnya lebih serius, atau malah “salah obat” jika langsung konsumsi suplemen/obat tertentu tanpa rekomendasi dokter.

Baca Juga :

Dedikasi Muhammad Dariel dalam Menjamin Gizi Generasi Bangsa
Fakta-fakta Tari Rangkuk Alu dari Manggarai yang Dirayakan Google Doodle Hari Ini

Kata Psikolog: Penting Banget Konsultasi

Psikolog klinis anak dan remaja, A. Satya Ristya, mengatakan bahwa self-diagnose sebaiknya dijadikan langkah awal untuk refleksi diri, bukan untuk menyimpulkan sesuatu secara pasti.

“Kalau merasa relate dengan gejala yang disebut di media sosial, langkah selanjutnya adalah counseling atau konsultasi ke profesional, bukan langsung ngasih label ke diri sendiri,” ujarnya.

Self-diagnose di TikTok bisa jadi titik awal untuk mengenal diri, tapi bukan tempat untuk menghakimi diri sendiri. Media sosial memang bisa membantu, tapi bukan pengganti tenaga profesional.

Kalau kamu merasa sedang nggak baik-baik saja, ingat, minta bantuan bukan berarti lemah, tapi justru bentuk keberanian.***

You Might Also Like

Waspada Stroke Iskemik! Intervensi Vaskular Jadi Solusi Minim Sayatan untuk Kurangi Risiko
Seminggu Belum Padam! Ancaman Bahaya Kebakaran TPA Jatiwaringin Kian Meluas
Daftar 12 Obat Herbal Ilegal Temuan BPOM, Mengandung Bahan Kimia yang Berbahaya bagi Kesehatan
Sakit Kepala Terus-Menerus Bisa Jadi Tanda Tumor Otak, Dokter Ungkap Gejala yang Perlu Diwaspadai
Pengunjung Jakarta Fair 2026 Bisa Cek Kesehatan Gratis di Booth Kimia Farma Apotek
TAGGED:TikTok
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Bonus Fantastis Komisaris Disorot, Prabowo Subianto Buka Jalan Anak Muda ke BUMN
Next Article Fenomena Pura-Pura Kerja, Jalan Pintas Anak Muda China Hadapi Pengangguran
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo

Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!

Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat

Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya

Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia

Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang, Warga Berterima Kasih

Megawati Usulkan Kolaborasi Indonesia-Timor Leste Lewat BRIN dan BPIP

Di Tengah Giringan Opini Kasus PLTU, Bahlil Tegaskan, “Kalau Diminta Data, Kami Kasih”

Presiden Resmi Luncurkan B50, Tonggak Baru Transisi Energi Nasional

Bahlil Ungkap Minat Besar India Investasi Migas di Indonesia

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Kesehatan

Psikolog Ungkap Penyebab Pelaku Taufik Hidayat Nekat Menyekap dan Menyiksa Korban

3 weeks ago
Kesehatan

Dokter Ungkap Gejala Stroke yang Sering Tak Disadari, Salah Satunya Vertigo Mendadak

3 weeks ago
Kesehatan

Dokter Ungkap Waktu Terbaik dan Manfaat Olahraga bagi Ibu Hamil

4 weeks ago
Kesehatan

IDAI: Polusi Udara Sebabkan 7 Juta Kematian Dini, Anak Jadi Kelompok Paling Rentan

1 month ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index