INVERSI.ID – Fenomena baru yang dikenal dengan istilah sleep texting tengah menarik perhatian banyak peneliti di seluruh dunia, khususnya karena maraknya kasus pada generasi muda yang hidup di era digital. Aktivitas aneh ini terjadi ketika seseorang mengirim pesan dalam keadaan setengah sadar, tanpa benar-benar menyadari apa yang dilakukan dan bahkan tidak mengingatnya saat bangun keesokan paginya. Fenomena ini menjadi cerminan bagaimana teknologi telah menembus ruang paling pribadi manusia—yakni waktu tidur.
Penelitian yang dilakukan oleh Villanova University di Pennsylvania menemukan bahwa sekitar 25 persen mahasiswa pernah mengalami sleep texting setidaknya sekali dalam sebulan. Para peneliti menduga, kebiasaan ini sering dipicu oleh notifikasi yang terus muncul di malam hari serta cahaya layar ponsel yang tidak pernah benar-benar padam. Kombinasi antara rasa ingin tahu terhadap pesan yang masuk dan kebiasaan menggenggam ponsel di tempat tidur membuat otak sulit benar-benar beristirahat.
Menurut Profesor Elizabeth Dowdell, fenomena ini terjadi karena bagian otak yang bertanggung jawab atas reaksi otomatis masih aktif meskipun seseorang sudah berada dalam kondisi setengah tidur.
“Otak dalam kondisi setengah tidur tetap bisa mengirimkan respons otomatis yang tidak terkontrol,” jelasnya.
Dowdell juga menambahkan bahwa kondisi ini mirip dengan sleepwalking, hanya saja aktivitasnya terjadi lewat jari dan layar ponsel, bukan langkah kaki di dunia nyata.
Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of American College Health pada tahun 2023 memperkuat temuan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sleep texting tidak hanya mengganggu siklus tidur, tetapi juga menurunkan kualitas istirahat secara signifikan. Akibatnya, banyak orang yang bangun dalam keadaan lelah, mudah terdistraksi, dan kurang fokus di siang hari. Para ahli pun memberikan saran sederhana namun efektif: letakkan ponsel minimal dua meter dari tempat tidur agar otak benar-benar bisa beristirahat dan tidak tergoda untuk bereaksi terhadap notifikasi yang muncul.
Sleep texting kini dianggap sebagai bentuk baru dari gangguan tidur digital, sejalan dengan kebiasaan masyarakat modern yang sulit melepaskan diri dari perangkat elektronik. Dalam konteks budaya digital yang serba cepat, fenomena ini menjadi simbol dari keterikatan manusia dengan teknologi yang sudah begitu dalam, hingga batas antara sadar dan tidak sadar pun mulai kabur. Tanpa disadari, bahkan ketika tubuh beristirahat, pikiran tetap “terhubung” dengan dunia maya.
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa kebutuhan manusia akan tidur berkualitas tidak bisa tergantikan oleh teknologi apa pun. Ketergantungan terhadap gawai tidak hanya berdampak pada kesehatan mental dan fisik, tetapi juga mengubah cara manusia berinteraksi dengan waktu dan kesadaran dirinya. Sleep texting, dalam arti yang lebih luas, bukan sekadar kebiasaan aneh—melainkan alarm kecil bahwa batas antara kehidupan digital dan realitas sudah mulai menipis.