By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Fenomena Sleep Texting, Bukti Generasi Muda Sulit Benar-Benar ‘Offline’
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Fenomena Sleep Texting, Bukti Generasi Muda Sulit Benar-Benar ‘Offline’

LifeStyle

Fenomena Sleep Texting, Bukti Generasi Muda Sulit Benar-Benar ‘Offline’

Jack
By
Jack
6 months ago
Share
3 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Fenomena baru yang dikenal dengan istilah sleep texting tengah menarik perhatian banyak peneliti di seluruh dunia, khususnya karena maraknya kasus pada generasi muda yang hidup di era digital. Aktivitas aneh ini terjadi ketika seseorang mengirim pesan dalam keadaan setengah sadar, tanpa benar-benar menyadari apa yang dilakukan dan bahkan tidak mengingatnya saat bangun keesokan paginya. Fenomena ini menjadi cerminan bagaimana teknologi telah menembus ruang paling pribadi manusia—yakni waktu tidur.

Penelitian yang dilakukan oleh Villanova University di Pennsylvania menemukan bahwa sekitar 25 persen mahasiswa pernah mengalami sleep texting setidaknya sekali dalam sebulan. Para peneliti menduga, kebiasaan ini sering dipicu oleh notifikasi yang terus muncul di malam hari serta cahaya layar ponsel yang tidak pernah benar-benar padam. Kombinasi antara rasa ingin tahu terhadap pesan yang masuk dan kebiasaan menggenggam ponsel di tempat tidur membuat otak sulit benar-benar beristirahat.

Menurut Profesor Elizabeth Dowdell, fenomena ini terjadi karena bagian otak yang bertanggung jawab atas reaksi otomatis masih aktif meskipun seseorang sudah berada dalam kondisi setengah tidur.

“Otak dalam kondisi setengah tidur tetap bisa mengirimkan respons otomatis yang tidak terkontrol,” jelasnya.

Dowdell juga menambahkan bahwa kondisi ini mirip dengan sleepwalking, hanya saja aktivitasnya terjadi lewat jari dan layar ponsel, bukan langkah kaki di dunia nyata.

Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of American College Health pada tahun 2023 memperkuat temuan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sleep texting tidak hanya mengganggu siklus tidur, tetapi juga menurunkan kualitas istirahat secara signifikan. Akibatnya, banyak orang yang bangun dalam keadaan lelah, mudah terdistraksi, dan kurang fokus di siang hari. Para ahli pun memberikan saran sederhana namun efektif: letakkan ponsel minimal dua meter dari tempat tidur agar otak benar-benar bisa beristirahat dan tidak tergoda untuk bereaksi terhadap notifikasi yang muncul.

Sleep texting kini dianggap sebagai bentuk baru dari gangguan tidur digital, sejalan dengan kebiasaan masyarakat modern yang sulit melepaskan diri dari perangkat elektronik. Dalam konteks budaya digital yang serba cepat, fenomena ini menjadi simbol dari keterikatan manusia dengan teknologi yang sudah begitu dalam, hingga batas antara sadar dan tidak sadar pun mulai kabur. Tanpa disadari, bahkan ketika tubuh beristirahat, pikiran tetap “terhubung” dengan dunia maya.

Fenomena ini menjadi pengingat bahwa kebutuhan manusia akan tidur berkualitas tidak bisa tergantikan oleh teknologi apa pun. Ketergantungan terhadap gawai tidak hanya berdampak pada kesehatan mental dan fisik, tetapi juga mengubah cara manusia berinteraksi dengan waktu dan kesadaran dirinya. Sleep texting, dalam arti yang lebih luas, bukan sekadar kebiasaan aneh—melainkan alarm kecil bahwa batas antara kehidupan digital dan realitas sudah mulai menipis.

Baca Juga :

Badan Gizi Nasional Sinkronisasi Aturan MBG Untuk Mutu Lintas Sektor
PBSI Raih Penghargaan Asia, Fadil Imran Tegaskan Komitmen Reformasi Tata Kelola

You Might Also Like

Target Wisman Naik Tajam, Kemenpar Optimistis Indonesia Dikunjungi 19,1 Juta Turis Asing pada 2027
Bandara Soekarno-Hatta Tambah Rute Baru ke Tiongkok, Spring Airlines Resmi Terbang ke Jakarta
Pamer Liburan, Tapi Keluhkan Pertamax? Fenomena yang Memicu Perdebatan di Medsos
Harga Avtur Melonjak, Kemenpar dan Kemenhub Cari Cara Jaga Tiket Pesawat Tetap Terjangkau
Tak Hanya Bali, Kemenpar Genjot 10 Destinasi Prioritas untuk Tarik Wisatawan Mancanegara
TAGGED:Generasi mudaSleep Texting
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Bukan Sekadar Traveling, Ini Cara Gen Z Ubah Arah Pariwisata Global
Next Article Nightlife Bergeser ke Fitlife, Gaya Hidup Sehat Jadi Tren Sosial Gen Z
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat

Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Travel

Beda dengan Wisata Kuliner, Gastronomi Tawarkan Cerita dan Warisan Budaya Nusantara

1 week ago
Travel

Tak Mau Tertinggal dari Vietnam, Indonesia Siapkan Jurus Baru Dongkrak Pariwisata

2 weeks ago
Travel

Instalasi Sunflower Angel Jadi Magnet Baru di Candi Prambanan, Pengunjung Membludak

2 weeks ago
Travel

Libur Panjang Idul Adha 2026, KAI Layani Lebih dari 1,2 Juta Penumpang

3 weeks ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index