By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: Menkeu Pastikan Anggaran Rehabilitasi Bencana Sumatera Aman dari APBN, Dana Rp60 T Telah Disiapkan
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Menkeu Pastikan Anggaran Rehabilitasi Bencana Sumatera Aman dari APBN, Dana Rp60 T Telah Disiapkan

Ekonomi

Menkeu Pastikan Anggaran Rehabilitasi Bencana Sumatera Aman dari APBN, Dana Rp60 T Telah Disiapkan

Jack
By
Jack
7 months ago
Share
6 Min Read
Menkeu Purbaya menyatakan siap mengalihkan anggaran hasil efisiensi belanja kementerian/lembaga (K/L) sebesar Rp60 triliun untuk pemulihan bencana. (Foto: Antara)
SHARE

INVERSI.ID – Pemerintah memastikan ketersediaan anggaran negara untuk pemulihan dampak bencana di wilayah Sumatera. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, dana pemulihan akan bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), termasuk hasil efisiensi belanja kementerian dan lembaga (K/L) yang nilainya mencapai Rp60 triliun.

Contents
Efisiensi Anggaran Jadi Kunci Pembiayaan PemulihanKesiapan Anggaran BNPB dan Dukungan APBN BerkelanjutanKebutuhan Pemulihan Capai Puluhan Triliun Rupiah

Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya saat memberikan keterangan di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin. Ia menegaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan skema pembiayaan yang matang untuk memastikan proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana dapat berjalan tanpa hambatan.

Menurut Purbaya, anggaran yang dibutuhkan untuk pemulihan bencana, sebagaimana diajukan oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), telah diperhitungkan secara menyeluruh dalam kerangka keuangan negara. Salah satu sumber utamanya berasal dari efisiensi belanja K/L pada tahun anggaran 2026 yang telah dievaluasi sebelumnya.

Efisiensi Anggaran Jadi Kunci Pembiayaan Pemulihan

Purbaya menjelaskan bahwa pemerintah telah melakukan penyisiran menyeluruh terhadap program-program kementerian dan lembaga sebelum terjadinya bencana. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya memperkuat kualitas belanja negara agar lebih efektif dan tepat sasaran.

“Waktu APBN selesai di DPR, kami sisir semua program kementerian/lembaga. Ternyata masih banyak program dan rapat nggak jelas. Sudah kami sisir. Sebelum bencana, kami sudah kumpulkan Rp60 triliun dari situ. Jadi, begitu dibutuhkan yang disebutkan oleh Pak Presiden, kami sudah siap,” jelas Purbaya.

Dana hasil efisiensi tersebut kini menjadi bantalan fiskal yang siap digunakan untuk membiayai rehabilitasi wilayah terdampak bencana di Sumatera. Pemerintah menilai langkah ini penting agar respons negara terhadap bencana tidak selalu bergantung pada penyesuaian anggaran darurat, melainkan sudah disiapkan sejak awal melalui pengelolaan fiskal yang disiplin.

Ia menambahkan, penggunaan dana tahun anggaran 2026 akan difokuskan pada upaya rehabilitasi dan rekonstruksi, mulai dari perbaikan infrastruktur dasar, pemulihan fasilitas publik, hingga mendukung aktivitas ekonomi masyarakat yang terdampak.

Dalam konteks ini, Purbaya menegaskan bahwa negara hadir untuk memastikan pemulihan tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga berkelanjutan. Pemerintah ingin wilayah terdampak bencana dapat bangkit dengan kondisi yang lebih baik dan lebih siap menghadapi risiko bencana di masa depan.

Kesiapan Anggaran BNPB dan Dukungan APBN Berkelanjutan

Selain anggaran rehabilitasi jangka menengah dan panjang, pemerintah juga memastikan ketersediaan dana untuk penanganan bencana dalam jangka pendek. Untuk tahun berjalan, BNPB telah mengajukan anggaran senilai Rp1,6 triliun guna mendukung berbagai kebutuhan tanggap darurat dan pemulihan awal.

Baca Juga :

Lirik Lagu Karo Ue Nindu Min dan Artinya
Zodiak Hari Ini Lagi On Fire! Vibes Keren, Cuan Juga Ngalir, Cinta Membahana! Yuk, Buruan Cek Disini

Tidak hanya itu, bendahara negara juga masih menyiapkan ruang fiskal tambahan sebesar Rp1,3 triliun yang dapat dimanfaatkan oleh BNPB pada tahun depan apabila dibutuhkan. Skema ini menunjukkan bahwa pemerintah mengedepankan prinsip kehati-hatian sekaligus kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi bencana yang masih mungkin terjadi.

Purbaya menekankan bahwa dengan kesiapan anggaran tersebut, pemerintah optimistis proses rehabilitasi dan rekonstruksi dapat berjalan sesuai rencana tanpa terkendala masalah pendanaan.

“Jadi, nggak ada masalah untuk rehabilitasi bencana,” tuturnya.

Sebagai bagian dari strategi pemulihan yang lebih komprehensif, Kementerian Keuangan juga akan memberikan relaksasi anggaran bagi pemerintah daerah yang wilayahnya terdampak bencana. Relaksasi tersebut direncanakan mulai diberlakukan pada tahun depan agar pemerintah daerah memiliki ruang fiskal yang lebih longgar untuk membangun kembali daerahnya.

Relaksasi anggaran ini diharapkan dapat membantu pemerintah daerah dalam mempercepat pemulihan layanan publik, memperbaiki infrastruktur daerah, serta menggerakkan kembali roda perekonomian lokal. Pemerintah pusat menilai sinergi dengan pemerintah daerah menjadi kunci agar pemulihan pascabencana dapat berjalan efektif dan merata.

Kebutuhan Pemulihan Capai Puluhan Triliun Rupiah

Sebelumnya, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Suharyanto menyampaikan bahwa perbaikan kerusakan akibat bencana banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat membutuhkan anggaran yang sangat besar.

Total kebutuhan anggaran pemulihan di tiga provinsi tersebut diperkirakan mencapai Rp51,82 triliun. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp2,72 triliun dialokasikan untuk kebutuhan tanggap darurat, sementara Rp49,10 triliun difokuskan untuk rehabilitasi dan rekonstruksi jangka menengah hingga panjang.

Jika dirinci berdasarkan wilayah, Aceh menjadi provinsi dengan kebutuhan anggaran pemulihan terbesar, yakni sekitar Rp25,41 triliun. Anggaran tersebut dibutuhkan untuk memperbaiki berbagai infrastruktur vital, termasuk jalan, jembatan, sistem pengendalian banjir, serta fasilitas umum yang rusak akibat bencana.

Sementara itu, Sumatra Utara diperkirakan membutuhkan anggaran pemulihan sebesar Rp12,88 triliun, sedangkan Sumatra Barat sekitar Rp13,52 triliun. Kebutuhan anggaran ini mencerminkan besarnya dampak bencana yang tidak hanya merusak infrastruktur fisik, tetapi juga mengganggu aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat.

Pemerintah menilai pemulihan pascabencana tidak dapat dilakukan secara parsial. Oleh karena itu, pendekatan yang digunakan harus menyeluruh, mencakup perbaikan infrastruktur, pemulihan ekonomi, serta penguatan kapasitas daerah dalam menghadapi risiko bencana ke depan.

Dengan kesiapan anggaran yang telah disusun sejak awal melalui efisiensi belanja dan pengelolaan fiskal yang disiplin, pemerintah optimistis proses pemulihan dapat berjalan tepat waktu dan tepat sasaran. Langkah ini juga diharapkan dapat memperkuat kepercayaan publik bahwa negara hadir dan sigap dalam menghadapi bencana, sekaligus memastikan keberlanjutan pembangunan nasional tetap terjaga.

You Might Also Like

Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo
Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat
Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya
Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia
Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang, Warga Berterima Kasih
TAGGED:bencanabencana sumatraMenkeu Purbaya
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Penangkapan SA pelaku yang tega aniaya wanita di Pringapus, Kab. Semarang. (Foto: Polres Semarang) Polres Semarang Ringkus Pria Usai Aniaya Seorang Wanita
Next Article Kemendagri Dorong Daerah Rumuskan Solusi Konkret Kendalikan Inflasi Pangan
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!

Megawati Usulkan Kolaborasi Indonesia-Timor Leste Lewat BRIN dan BPIP

Di Tengah Giringan Opini Kasus PLTU, Bahlil Tegaskan, “Kalau Diminta Data, Kami Kasih”

Presiden Resmi Luncurkan B50, Tonggak Baru Transisi Energi Nasional

Bahlil Ungkap Minat Besar India Investasi Migas di Indonesia

Pat Gulipat Hasil Korupsi? Polri Geledah 12 Lokasi dari Kafe, Money Changer hingga Rumah Mewah

Lolos dari Selat Hormuz! Pertamina Jaga Pasokan 2 Juta Barel Minyak Bagi Ketahanan Energi RI

Korupsi Masuk Jantung Penegak Hukum, Polri Bongkar 3 Mega Kasus

Janji Tinggal Janji? Kepercayaan Warga Karo Tergerus di Tengah Sengketa RSUD Kabanjahe

Ekonom Sebut Gebrakan B50 Akan Perkuat Rupiah, Selamatkan APBN dan Stop Impor Solar

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

EkonomiTerkini

Gas CNG Merah Putih Hadir! Hemat 40%, Kompor Lama Tetap Bisa Dipakai

7 days ago
EkonomiTerkini

Bahlil Desak PLN Gerak Cepat Atasi Kegelapan Warga Kalimantan dan Sumatera

7 days ago
EkonomiTerkini

Purbaya Bantah Tuduhan Obligasi Patriot Danantara Jadi Sarana Pencucian Uang

1 week ago
EkonomiTerkini

Gas Murah, PHK Mereda! Jurus Bahlil Selamatkan Industri, Buruh Bernapas Lega

1 week ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index