By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: Gaya Hidup Irit Ekstrem, Anak Muda China Pilih Makan Ulat demi Bertahan
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Gaya Hidup Irit Ekstrem, Anak Muda China Pilih Makan Ulat demi Bertahan

LifeStyleTerkini

Gaya Hidup Irit Ekstrem, Anak Muda China Pilih Makan Ulat demi Bertahan

Jack
By
Jack
6 months ago
Share
7 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Gaya hidup hemat alias frugal living bukan hal baru di kalangan anak muda dunia. Tapi di China, tren ini naik ke level yang lebih ekstrem. Bukan sekadar ngopi di rumah atau belanja preloved, tapi sampai makan ulat demi bertahan hidup hemat. Fenomena ini ramai dibahas di platform online dan menarik perhatian banyak orang, terutama generasi muda yang sedang berjuang melawan tekanan ekonomi.

Contents
Frugal Living Jadi Gaya Hidup, Bukan Sekadar Bertahan HidupAntara Kesadaran Finansial dan Kesehatan Mental

Tren unik ini pertama kali muncul dari komunitas online bernama Asosiasi Pria Hemat (The Frugal Men’s Association). Anggotanya mencapai lebih dari 240 ribu orang mayoritas adalah mahasiswa dan pekerja muda yang sedang mencari cara untuk menekan biaya hidup. Di antara berbagai tips hemat yang mereka bagikan, ada satu unggahan yang benar-benar mencuri perhatian publik: makan ulat bread worm alias ulat tepung.

Pengunggahnya menyebut ulat ini punya kandungan protein tinggi dan bisa jadi alternatif murah pengganti daging ayam atau sapi.

“Harganya sekitar 12 yuan (Rp 28 ribu) per kilo dan mengandung 20 persen protein di dalamnya,” tulisnya.

Menurutnya, ulat ini mudah dibudidayakan, bahkan bisa berkembang biak tanpa henti. Soal rasa? Ia menggambarkannya “seperti susu almond.”

Ia bahkan mengaku kalau satu kilo ulat bisa dimakan berhari-hari.

“Kemarin saya makan tiga kali pakai ulat ini, dan baru habis setengahnya. Total biayanya cuma sekitar tiga yuan (Rp 7 ribu),” tulis pengguna media sosial itu, dikutip dari South China Morning Post (SCMP), Senin (27/10/2025).

Bagi sebagian orang, ide makan ulat mungkin terdengar menjijikkan. Tapi buat sebagian anak muda di China, ini adalah bentuk adaptasi ekstrem terhadap tekanan ekonomi. Di tengah harga sewa apartemen yang tinggi dan biaya kuliah yang terus melonjak, mereka mencari cara-cara tak biasa untuk bertahan.


Frugal Living Jadi Gaya Hidup, Bukan Sekadar Bertahan Hidup

Fenomena ini sebenarnya bagian dari tren yang lebih besar: gaya hidup hemat yang kini dianggap keren dan cerdas. Generasi muda di China, terutama Gen Z, mulai beralih dari gaya hidup konsumtif yang identik dengan generasi sebelumnya. Mereka tidak lagi berlomba-lomba membeli barang bermerek atau nongkrong di kafe mahal. Sebaliknya, mereka mulai menormalisasi hidup sederhana, bahkan ekstrem, demi bisa menabung lebih banyak atau mencapai kemandirian finansial lebih cepat.

Baca Juga :

Pacitan Bangkit! Generasi Muda & Guru Berprestasi Tembus Ajang Jatim
Gara-Gara Junk Food, Anak Muda Sekarang Banyak yang Kena Batu Empedu!

Dalam komunitas online yang sama, ada berbagai trik ekstrem untuk memangkas pengeluaran. Salah satunya adalah cara menghemat biaya makan dengan memanfaatkan seluruh bagian hewan. Kulit dan tulang ayam, misalnya, dijadikan sup untuk menambah gizi, sedangkan minyak dari kulit ayam panggang digunakan kembali untuk menumis nasi.

Ada juga tips hemat tempat tinggal yang tak kalah nyeleneh. Beberapa anggota komunitas menyarankan menyewa apartemen di bawah unit yang menggunakan pemanas lantai. Alasannya sederhana, agar tetap hangat di musim dingin tanpa harus membayar biaya tambahan untuk pemanas sendiri. Saat musim panas, beberapa memilih mandi air dingin dan tidur di lantai supaya tidak perlu menyalakan AC.

Salah satu pengguna menceritakan hasil nyata dari gaya hidup hemat ekstrem ini.

“Dulu saya menghabiskan lebih dari 30 ribu yuan (sekitar Rp 70 juta) per tahun. Sekarang, termasuk uang kuliah, saya hanya menghabiskan sedikit di atas 10 ribu yuan (Rp 23,3 juta),” ujarnya.

Buat sebagian orang, angka itu luar biasa. Tapi di balik semangat penghematan itu, ada realitas ekonomi yang mendorongnya: tekanan biaya hidup di kota besar, harga properti yang tinggi, dan kompetisi kerja yang makin ketat. Dalam kondisi seperti itu, frugal living bukan sekadar pilihan gaya hidup, tapi kebutuhan untuk bertahan.

Namun, tren ini juga menunjukkan sisi lain: munculnya komunitas digital yang saling mendukung dan berbagi cara hidup hemat tanpa malu. Di platform seperti Douban dan Xiaohongshu (versi lokal Instagram dan Reddit), semakin banyak anak muda yang membagikan tips ekstrem—mulai dari membuat sabun sendiri sampai merakit alat pemanas dari bahan bekas.


Antara Kesadaran Finansial dan Kesehatan Mental

Meski terkesan ekstrem, tren frugal living di China ini juga mencerminkan pergeseran pola pikir anak muda global: mereka makin sadar pentingnya stabilitas finansial di usia muda. Bagi sebagian besar, hidup hemat bukan sekadar menahan diri, tapi bentuk kontrol atas hidup mereka sendiri.

Namun, ada juga sisi gelap yang mulai dikhawatirkan para psikolog dan pengamat sosial. Ketika hidup hemat berubah menjadi obsesi ekstrem, bisa muncul tekanan mental yang justru berbahaya. Dalam beberapa forum online, ada anggota yang bercerita tentang rasa bersalah setiap kali membeli makanan “mahal” atau mengeluarkan uang di luar kebutuhan dasar.

Fenomena ini mirip dengan istilah “financial anxiety” ketakutan berlebihan terhadap pengeluaran uang. Di China, kondisi ini semakin terasa karena tekanan sosial dan kompetisi ekonomi yang ketat. Banyak anak muda merasa masa depan mereka tidak secerah generasi sebelumnya. Harga rumah di kota besar seperti Shanghai dan Beijing melonjak tinggi, sementara gaji rata-rata sulit mengejar inflasi.

Sosiolog dari Universitas Tsinghua, Li Xiang, menjelaskan bahwa tren ini adalah refleksi dari rasa frustrasi kolektif anak muda terhadap sistem ekonomi. “Generasi muda tidak lagi percaya bahwa kerja keras akan selalu membawa kesuksesan. Mereka memilih untuk menyesuaikan diri dengan cara yang bisa mereka kendalikan—hidup hemat,” ujarnya dalam wawancara dengan China Daily.

Menariknya, fenomena ini juga menular ke negara lain lewat media sosial. Di TikTok, konten bertema frugal living challenge mulai ramai, terutama di kalangan mahasiswa dan pekerja muda yang baru mulai hidup mandiri. Hashtag seperti #frugallife dan #minimalism menjadi tren global, membuktikan bahwa semangat hidup hemat kini dianggap bagian dari identitas modern.

Tapi, apakah tren makan ulat ini bisa bertahan lama? Dari sisi nutrisi, para ahli gizi menyebut bahwa ulat tepung memang kaya protein dan bisa jadi sumber pangan alternatif masa depan. Namun, dari sisi psikologis dan budaya, adaptasi makanan ekstrem seperti ini mungkin sulit diterima di banyak tempat.

Di luar kontroversinya, tren frugal living ekstrem di China ini memperlihatkan satu hal penting: anak muda kini berani bereksperimen dengan cara hidup mereka sendiri. Mereka tidak lagi terjebak pada standar sosial lama tentang sukses, melainkan mencari jalan baru yang lebih realistis meski kadang terdengar aneh.

Mungkin, buat sebagian orang, makan ulat bukan pilihan ideal. Tapi bagi anak muda di China yang hidup di tengah tekanan ekonomi, ini adalah simbol dari semangat bertahan, beradaptasi, dan berpikir di luar kebiasaan.

You Might Also Like

Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo
Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!
Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia
Argentina Terlalu Tangguh untuk Swiss, Jadi Penyelamat Amerika Latin di Piala Dunia 2026
Inggris Tunjukkan Mental Juara, Singkirkan Norwegia dan Melaju ke Semifinal
TAGGED:Anak MudaChinaGaya hidup
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Kontroversi investasi kripto yang menyedot perhatian publik
Next Article FIFA Series 2026. (Foto : FIFA/PSSI) FIFA Rilis Daftar Peserta FIFA Series 2026™️ di Indonesia
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat

Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya

Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang, Warga Berterima Kasih

Megawati Usulkan Kolaborasi Indonesia-Timor Leste Lewat BRIN dan BPIP

Di Tengah Giringan Opini Kasus PLTU, Bahlil Tegaskan, “Kalau Diminta Data, Kami Kasih”

Presiden Resmi Luncurkan B50, Tonggak Baru Transisi Energi Nasional

Bahlil Ungkap Minat Besar India Investasi Migas di Indonesia

Pat Gulipat Hasil Korupsi? Polri Geledah 12 Lokasi dari Kafe, Money Changer hingga Rumah Mewah

Lolos dari Selat Hormuz! Pertamina Jaga Pasokan 2 Juta Barel Minyak Bagi Ketahanan Energi RI

Korupsi Masuk Jantung Penegak Hukum, Polri Bongkar 3 Mega Kasus

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Travel

Wisata Indonesia Makin Bergairah, Kunjungan Turis Asing dan Wisnus Kompak Meningkat

3 days ago
Internasional

Konflik AS-Iran Memanas, PBB Ingatkan Ancaman bagi Stabilitas Dunia

3 days ago
Internasional

Cuaca Ekstrem Melanda Korea Selatan, Pemerintah Tetapkan Siaga Gelombang Panas Level Peringatan

4 days ago
Pildun 2026Terkini

Mbappe Cs Tampil Super Attacking, Les Bleus Makin Difavoritkan Juara

4 days ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index