By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Gara-Gara Junk Food, Anak Muda Sekarang Banyak yang Kena Batu Empedu!
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Gara-Gara Junk Food, Anak Muda Sekarang Banyak yang Kena Batu Empedu!

Kesehatan

Gara-Gara Junk Food, Anak Muda Sekarang Banyak yang Kena Batu Empedu!

Jack
By
Jack
10 months ago
Share
5 Min Read
SHARE

INVERSI.ID – Penyakit batu empedu atau cholelithiasis yang dulu dikenal sebagai penyakit khas orang tua, kini semakin sering ditemukan pada kalangan usia muda, khususnya di bawah 30 tahun. Fenomena ini mulai menjadi perhatian serius tenaga medis di berbagai daerah, termasuk di Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur.

Contents
Gaya Hidup Buruk Jadi Biang KerokFaktor Risiko: Gender, Obesitas, dan DiabetesSatu-Satunya Pengobatan: OperasiTips Mencegah Batu Empedu Sejak DiniGenerasi Muda Harus Lebih Waspada

Menurut dr. Rossi Nurfajariansyah, Dokter Spesialis Bedah di RSUD Smart Pamekasan, tren meningkatnya kasus batu empedu pada usia muda menjadi ancaman nyata akibat pola hidup yang tidak sehat.

“Sekarang banyak anak muda usia 20-an yang datang ke rumah sakit dengan keluhan nyeri hebat di bagian kanan perut atas. Setelah pemeriksaan, ternyata batu empedu. Ini sangat memprihatinkan,” ujarnya dalam Talk Show Smart Healthy di kanal YouTube Ralita Official, Jumat (25/7).

Gaya Hidup Buruk Jadi Biang Kerok

Penyebab utama dari meningkatnya kasus batu empedu di usia muda, menurut dr. Rossi, adalah konsumsi makanan tinggi lemak, kebiasaan makan cepat saji, minimnya aktivitas fisik, serta gaya hidup sedentari alias terlalu banyak duduk dan kurang bergerak.

“Kantong empedu itu tempat menyimpan dan memproses cairan empedu untuk membantu mencerna lemak. Ketika pola makan tidak terkontrol, apalagi makanan berlemak tinggi, endapan kolesterol akan terbentuk dan mengeras menjadi batu,” jelas dr. Rossi.

Selain itu, gaya hidup yang pasif, seperti jarang berolahraga dan terlalu sering rebahan, juga memperparah kondisi metabolisme tubuh. Hal ini membuat proses penyerapan lemak menjadi tidak optimal, dan memperbesar risiko pembentukan batu empedu.

Faktor Risiko: Gender, Obesitas, dan Diabetes

Tak hanya gaya hidup, faktor lain yang turut memengaruhi adalah obesitas, diabetes, serta jenis kelamin. Berdasarkan data klinis, wanita memiliki risiko dua kali lebih besar dibanding pria untuk mengalami batu empedu.

“Ini karena hormon estrogen pada wanita punya efek memperlambat pengosongan kantong empedu, sehingga cairan empedu bisa mengendap dan membentuk batu. Risiko semakin tinggi pada wanita dengan obesitas dan yang menjalani terapi hormonal,” tambahnya.

Wanita yang sedang hamil, mengonsumsi pil kontrasepsi, atau mengalami gangguan hormon tertentu juga perlu lebih waspada karena peran hormon sangat besar dalam keseimbangan sistem pencernaan lemak.

Baca Juga :

BINUS SCHOOL Serpong Tepis Stigma Generasi Strawberi Lewat Drama Musikal ‘The Rise of the Houses’
Krisdayanti Bawa Pulang Medali Perak di Kejuaraan Wushu Dunia 2025 di Emeishan, China

Satu-Satunya Pengobatan: Operasi

Operasi Empedu.

Meskipun batu empedu bisa diam-diam terbentuk tanpa gejala (silent gallstones), namun saat sudah menimbulkan nyeri, terutama setelah makan makanan berlemak, maka kondisi ini bisa berkembang menjadi akut dan memerlukan tindakan medis.

“Mayoritas kasus batu empedu harus dioperasi. Tidak ada jalan lain,” tegas dr. Rossi.

Ia menjelaskan bahwa ada obat yang dikenal sebagai ursodeoxycholic acid yang bisa digunakan untuk mencegah pembentukan batu atau melarutkan batu kecil. Namun, obat ini tidak efektif untuk batu yang sudah terbentuk dalam ukuran besar.

“Jadi, operasi tetap menjadi standar emas dalam pengobatan batu empedu,” lanjutnya.

Operasi yang biasa dilakukan adalah kolesistektomi, yaitu pengangkatan kantong empedu secara keseluruhan. Meski terdengar menakutkan, operasi ini cukup aman dan dilakukan secara minimal invasif (laparoskopi), dengan masa pemulihan yang relatif cepat.

Tips Mencegah Batu Empedu Sejak Dini

Agar terhindar dari risiko penyakit batu empedu, dr. Rossi mengimbau anak muda untuk lebih peduli terhadap pola hidup sehat. Beberapa langkah yang bisa dilakukan, antara lain:

  • Kurangi makanan tinggi lemak jenuh seperti gorengan, fast food, dan makanan olahan.
  • Perbanyak konsumsi serat dari sayur dan buah segar.
  • Aktif bergerak setiap hari, minimal 30 menit olahraga ringan seperti jalan kaki, yoga, atau bersepeda.
  • Jaga berat badan ideal dan hindari obesitas.
  • Perbanyak minum air putih, agar pencernaan lancar dan empedu tidak mengendap.

“Mulailah dari hal kecil. Jangan tunggu sampai sakit baru mau mengubah gaya hidup. Lebih baik mencegah daripada mengobati, apalagi kalau sudah harus operasi,” pesannya.

Generasi Muda Harus Lebih Waspada

Fenomena meningkatnya kasus batu empedu di kalangan muda menjadi pengingat bahwa penyakit tidak mengenal usia. Pola hidup sehat bukan hanya untuk orang tua, tetapi justru harus dimulai sejak muda.

Sebagai generasi yang hidup di era serba instan, anak muda perlu lebih cerdas dalam memilih makanan, menjaga aktivitas fisik, dan memperhatikan sinyal-sinyal tubuh. Apabila mengalami nyeri di perut kanan atas, mual, muntah, atau gangguan pencernaan lainnya, jangan anggap remeh. Segera konsultasi ke dokter untuk mendapatkan diagnosis yang tepat.

Dengan edukasi dan kesadaran yang meningkat, diharapkan angka penderita batu empedu usia muda dapat ditekan dan generasi mendatang bisa hidup lebih sehat dan produktif.

You Might Also Like

Dokter Ungkap Gejala Stroke yang Sering Tak Disadari, Salah Satunya Vertigo Mendadak
Dokter Ungkap Waktu Terbaik dan Manfaat Olahraga bagi Ibu Hamil
IDAI: Polusi Udara Sebabkan 7 Juta Kematian Dini, Anak Jadi Kelompok Paling Rentan
Rupiah Melemah, Harga Obat Bakal Melambung: Ketahanan Kesehatan RI Diuji
Dokter Ingatkan Bahaya Flu Singapura, Vaksinasi Jadi Perlindungan Penting
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article 7 Tips Praktis Belajar AI dari Nol Hingga Jadi Expert
Next Article Tren Kuliner Sehat, Gaya Hidup Kekinian Anak Muda yang Semakin Populer
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

Bahlil Gelontorkan Rp10 Triliun! Ribuan Desa Siap Keluar dari Gelap

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Kesehatan

Waspada! Diare Tak Kunjung Sembuh Bisa Jadi Gejala Radang Usus Kronis

4 weeks ago
Kesehatan

Ahli Sebut COVID-19 Masih Ada, Tapi Dampaknya Tak Separah Masa Pandemi

1 month ago
Kesehatan

Warga Mulai Khawatir Hantavirus, DPRD DKI Desak Pemerintah Perkuat Edukasi

1 month ago
Kesehatan

Kemenhut: Perempuan Jadi Kelompok Paling Rentan Terdampak Krisis Iklim

1 month ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index