INVERSI.ID – Tren liburan Gen Z diprediksi akan mendominasi industri perjalanan internasional pada tahun 2026 mendatang. Generasi muda yang lahir antara 1997 hingga 2012 ini bukan hanya menjadi kelompok yang paling sering bepergian, tetapi juga yang mengeluarkan biaya paling besar untuk wisata ke luar negeri.
Melansir Globetrender, Senin (8/10/2025), laporan terbaru dari MMGY Travel Intelligence bertajuk Portrait of European Travellers menunjukkan bahwa rata-rata pengeluaran Gen Z untuk liburan internasional mencapai 6.434 dolar AS atau sekitar Rp 100 juta per orang. Angka ini menandai peningkatan signifikan dibandingkan generasi sebelumnya seperti milenial dan Gen X, yang cenderung lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran untuk perjalanan.
Lebih lanjut, tren liburan Gen Z juga memperlihatkan bahwa mereka akan melakukan perjalanan lebih sering dibanding generasi lainnya, yakni rata-rata 3,4 kali dalam dua tahun ke depan. Survei tersebut melibatkan lebih dari 4.000 wisatawan aktif di lima negara Eropa — Prancis, Jerman, Italia, Spanyol, dan Inggris. Temuan ini menunjukkan betapa kuatnya posisi Gen Z dalam menggerakkan roda ekonomi global lewat industri pariwisata.
Gen Z Pimpin Tren Perjalanan Internasional
Dalam laporan yang sama, terlihat bahwa tren liburan Gen Z turut dipengaruhi oleh faktor sosial dan budaya. Generasi ini cenderung mencari pengalaman yang autentik, bukan sekadar destinasi populer. Sebanyak 45 persen Gen Z menyatakan keinginan untuk mengikuti tur grup terorganisir dalam setahun ke depan. Mereka menginginkan perjalanan yang memiliki struktur jelas, tetapi tetap memberikan ruang untuk eksplorasi dan interaksi sosial dengan komunitas lokal.
Simon Moriarty, Wakil Presiden Riset MMGY, mengatakan bahwa Gen Z kini menjadi pemimpin utama dalam perubahan lanskap pariwisata global. “Generasi Z memimpin tren wisata Eropa tahun ini. Mereka mengutamakan perjalanan yang fleksibel, bermakna, dan terhubung dengan budaya lokal, serta memanfaatkan teknologi dalam perencanaan,” ujarnya.
Selain itu, penggunaan teknologi menjadi faktor kunci dalam kebiasaan berlibur Gen Z. Hampir separuh wisatawan Eropa (48%) kini memanfaatkan kecerdasan buatan seperti ChatGPT untuk membuat rencana perjalanan, mencari inspirasi, hingga mengeksplorasi destinasi baru. Angka ini meningkat pesat dibanding tahun sebelumnya, menandakan bahwa AI kini menjadi “travel assistant” utama bagi wisatawan muda.
Dalam konteks global, Gen Z juga dikenal lebih spontan dan berani mencoba hal baru. Mereka tidak hanya berlibur untuk bersenang-senang, tapi juga untuk memperluas perspektif dan membangun koneksi lintas budaya. Tak heran jika banyak dari mereka memilih destinasi yang memberikan pengalaman edukatif dan sosial, seperti menjadi relawan di luar negeri atau mengikuti program pertukaran pelajar.
Wisata Inggris Jadi Barometer, Keberlanjutan Jadi Gaya Hidup
Selain menggambarkan tren liburan Gen Z, laporan MMGY juga menyoroti perilaku wisatawan Inggris yang menjadi salah satu penggerak utama industri pariwisata Eropa. Rata-rata pengeluaran wisatawan Inggris mencapai 5.740 poundsterling atau setara Rp 1,1 miliar — sekitar 1.700 dolar AS lebih tinggi dibanding wisatawan dari negara Eropa lainnya.
Menariknya, wisatawan asal Inggris termasuk dalam kelompok perencana perjalanan paling matang. Sekitar 30 persen dari mereka mulai merencanakan liburan enam hingga dua belas bulan sebelumnya, dan 29 persen sudah memesan akomodasi jauh hari sebelum keberangkatan. Platform seperti Booking.com menjadi pilihan utama, sementara penggunaan Tripadvisor kini mulai menurun karena wisatawan lebih suka rekomendasi real-time dari media sosial dan AI.
Dari sisi pengalaman, mayoritas wisatawan Inggris — termasuk kalangan Gen Z — menempatkan kuliner lokal sebagai elemen penting dalam perjalanan. Sebanyak 68 persen responden menilai mencicipi makanan khas daerah adalah bagian paling berkesan dari sebuah liburan. Tren ini menunjukkan pergeseran minat wisatawan dari sekadar “melihat tempat” menjadi “merasakan budaya”.
Lebih jauh, keberlanjutan kini menjadi faktor penting dalam keputusan berlibur. Wisatawan Eropa semakin sadar akan dampak lingkungan dari perjalanan mereka. Sebanyak 27 persen bahkan rela membayar tambahan hingga 100 poundsterling (sekitar Rp 2 juta) untuk mengimbangi jejak karbon dari penerbangan yang mereka lakukan. Ini sejalan dengan meningkatnya minat terhadap perjalanan ramah lingkungan, seperti eco-tourism, transportasi hijau, dan konsumsi produk lokal.
Piala Dunia 2026 dan Tren Pelayaran, Daya Tarik Baru Gen Z
Ajang olahraga besar seperti Piala Dunia FIFA 2026 juga menjadi pendorong penting dalam tren liburan Gen Z tahun depan. Hampir setengah Gen Z Eropa berencana melakukan perjalanan ke Amerika Serikat, Meksiko, atau Kanada untuk menyaksikan langsung pertandingan tersebut. Lebih dari 70 persen responden menyebut ajang itu sebagai alasan utama mereka bepergian ke luar negeri.
Menurut data MMGY, wisatawan Inggris yang berangkat untuk keperluan olahraga diperkirakan akan mengeluarkan biaya rata-rata sebesar 8.275 dolar AS atau sekitar Rp 129 juta per orang. Angka ini membuktikan bahwa olahraga kini bukan hanya hiburan, tetapi juga menjadi motivasi perjalanan lintas benua bagi kalangan muda.
Selain olahraga, pelayaran (cruise travel) juga tengah naik daun. Sekitar 48 persen wisatawan Eropa mengaku tertarik mencoba pengalaman berlayar dalam dua tahun ke depan, dengan kawasan Karibia menjadi destinasi paling diminati. Di Inggris sendiri, minat terhadap pelayaran mencapai 52 persen, naik signifikan dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Fenomena ini menunjukkan bahwa generasi muda kini mencari pengalaman perjalanan yang lebih unik dan beragam. Mereka tidak hanya berfokus pada destinasi darat, tetapi juga ingin menikmati wisata laut, kapal pesiar, hingga perjalanan tematik seperti music cruise atau adventure expedition.
Perjalanan Jadi Prioritas di Tengah Tantangan Ekonomi
Meski kondisi ekonomi global masih belum sepenuhnya stabil, tren liburan Gen Z memperlihatkan bahwa keinginan untuk berwisata tetap tinggi. Alih-alih membatalkan rencana perjalanan, generasi ini justru menyesuaikan anggaran agar tetap bisa berlibur.
Sebagian besar Gen Z memilih untuk memangkas pengeluaran lain demi menyisihkan dana untuk pengalaman berharga seperti perjalanan ke luar negeri. Pola pikir ini menunjukkan bahwa bagi mereka, liburan bukan lagi kemewahan, melainkan kebutuhan untuk menjaga keseimbangan mental dan menemukan makna baru dalam hidup.
“Bagi Gen Z, perjalanan bukan hanya soal foto dan destinasi, tapi tentang pertumbuhan diri,” ujar Moriarty.
“Mereka menggunakan liburan sebagai cara untuk memahami dunia dan memperluas koneksi sosial mereka.”
Selain itu, banyak Gen Z yang kini memadukan liburan dengan pekerjaan atau kegiatan produktif, seperti workation (work and vacation). Tren ini semakin populer karena fleksibilitas kerja jarak jauh memungkinkan mereka untuk tetap produktif sambil menjelajahi tempat baru.
Dari laporan MMGY dan berbagai studi pendukung lainnya, jelas terlihat bahwa tren liburan Gen Z telah mengubah arah industri pariwisata global. Mereka adalah generasi yang paling adaptif terhadap teknologi, paling peduli terhadap keberlanjutan, dan paling berani mencari pengalaman otentik di luar zona nyaman.
Dengan kombinasi antara rasa ingin tahu, kemampuan finansial, serta dukungan teknologi, Gen Z siap menjadi penggerak utama pariwisata dunia. Tahun 2026 diprediksi menjadi momentum penting di mana generasi ini menegaskan posisi mereka bukan sekadar wisatawan, tetapi sebagai arsitek masa depan industri perjalanan global.