INVERSI.ID – Generasi Z membawa perspektif baru dalam dunia kerja. Jika generasi sebelumnya memprioritaskan gaji tinggi dan jabatan mentereng, Gen Z justru lebih memilih kesehatan mental dan keseimbangan hidup, meski harus mengorbankan pendapatan besar.
Menurut laporan Work Relationship Index dari Hewlett-Packard (HP), Gen Z menjadi kelompok usia yang paling bersedia menerima pemotongan gaji demi menjaga kesehatan mental dan kebahagiaan hidup.
Studi tersebut melibatkan 15.624 responden dari 12 negara, termasuk Indonesia, dan menghasilkan temuan menarik, 93% Gen Z rela digaji lebih kecil asalkan mereka bisa bekerja dalam lingkungan yang tidak menguras emosi.
Keseimbangan Hidup Lebih Berarti
Hasil survei juga menunjukkan bahwa fleksibilitas waktu, lingkungan kerja yang sehat, serta work-life balance menjadi nilai utama bagi Gen Z. Tekanan kerja berlebihan dianggap sebagai ancaman nyata terhadap kesehatan mental dan kualitas hidup.
Masih dari survei yang sama, 48% pekerja global mengaku terkuras secara emosional dan fisik oleh beban pekerjaan mereka. Hal ini dipicu oleh tekanan target, jam kerja panjang, dan kurangnya dukungan psikologis dari tempat kerja.
Strategi Menjaga Kesehatan Mental di Dunia Kerja
Fenomena ini menjadi pengingat bahwa menjaga kesehatan mental dalam bekerja bukanlah hal idealis, melainkan tuntutan zaman. Generasi muda kini lebih berani menolak budaya kerja toksik dan memperjuangkan kondisi yang lebih sehat secara emosional.
Berikut beberapa strategi yang bisa diterapkan untuk menjaga kesehatan mental saat bekerja:
- Tetapkan batasan waktu kerja dan jangan bawa pekerjaan ke rumah.
- Ambil jeda istirahat secara rutin, terutama saat merasa lelah atau jenuh.
- Jaga pola makan dan tidur yang sehat, serta rutin berolahraga ringan.
- Bangun relasi positif di kantor, hindari isolasi sosial.
- Cari bantuan profesional bila merasa kewalahan secara emosional.
Perubahan yang Harus Disambut oleh Pemberi Kerja
Tren ini menjadi sinyal penting bagi perusahaan dan pemberi kerja. Adaptasi budaya kerja yang lebih fleksibel, suportif, dan peduli terhadap kesejahteraan psikologis karyawan bisa menjadi strategi retensi dan produktivitas yang efektif.
Jika perusahaan ingin menarik dan mempertahankan talenta Gen Z, maka budaya kerja yang sehat bukan lagi sekadar nilai tambah, tapi syarat mutlak.***