By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Reading: Harga Jual Turun dan Biaya Energi Tinggi, Tekanan Nyata Dihadapi SIG
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
    • Internasional
  • Politik
    • Hukum
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Harga Jual Turun dan Biaya Energi Tinggi, Tekanan Nyata Dihadapi SIG

Ekonomi

Harga Jual Turun dan Biaya Energi Tinggi, Tekanan Nyata Dihadapi SIG

Nicholas
By
Nicholas
3 months ago
Share
4 Min Read
PT Semen Indonesia (Persero) Tbk beroperasi di industri yang sangat sensitif terhadap harga energi, biaya logistik, persaingan harga, dan permintaan proyek, sehingga ketika permintaan proyek melemah, maka penjualan ikut tertekan. (Foto, Dok/SIG)
SHARE

JAKARTA – Tekanan yang dihadapi PT Semen Indonesia (Persero) Tbk atau SIG saat ini tidak bisa dibaca secara sederhana. Perusahaan semen pelat merah itu beroperasi di industri yang sangat sensitif terhadap harga energi, biaya logistik, persaingan harga, dan permintaan proyek. Karena itu, penurunan kinerja yang terjadi pada 2025 lebih tepat dibaca sebagai realitas usaha yang keras, bukan sekadar isu yang disederhanakan menjadi tuduhan tanpa arah.

Hal itu terungkap dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) SIG dengan Komisi VI DPR RI pada 1 April 2026. Menurut Direktur Utama SIG, Indrieffouny Indra, “Pendapatan SIG turun 2.6% dibanding tahun lalu terutama dipengaruhi oleh penurunan volume penjualan dan tekanan pada harga jual, sebagai dampak melemahnya permintaan semen khususnya pada segmen pembangunan infrastruktur dan proyek,”

Hal itu memperlihatkan tekanan terhadap SIG datang dari sisi pasar sekaligus harga. Di saat permintaan proyek melemah, penjualan ikut tertekan. Pada saat yang sama, perusahaan juga menghadapi tekanan pada harga jual. Tercatat, volume penjualan turun 0,6% dibanding tahun sebelumnya, sementara rata-rata harga jual turun 1,5%.1

“Dalam industri semen, kombinasi antara volume yang melemah dan harga jual yang turun jelas menjadi beban berat karena langsung memukul ruang margin perusahaan,” jelasnya.

Tekanan itu makin serius karena struktur biaya SIG sangat dipengaruhi energi. “Biaya energi mencakup sekitar 54% dari total biaya, hal ini mencerminkan tingkat ketergantungan struktur biaya terhadap komponen energi,” lanjutnya. Kondisi ini menjadikan biaya energi sebagai salah satu faktor yang sangat mempengaruhi tingkat efisiensi dan profitabilitas perusahaan.

Hal ini menegaskan satu hal, setiap gejolak pada harga batubara, minyak, gas, maupun distribusi akan langsung menekan profitabilitas. Risiko ini bukan sekadar teori. Dalam industri semen, terutama yang berkaitan dengan dampak kondisi geopolitik, SIG memetakan potensi gangguan bisa muncul dari berbagai sektor. Mulai dari rantai pasok energi global, kenaikan biaya logistik bahan baku dan distribusi semen, kenaikan harga batubara dan freight kapal, hingga kenaikan harga gypsum impor, kertas kraft impor, dan bahan aditif lain yang dipengaruhi kurs dolar AS.

Ini menandakan tekanan terhadap SIG bukan berasal dari satu titik. Perusahaan menghadapi tekanan permintaan, tekanan harga, tekanan biaya energi, dan tekanan logistik dalam waktu yang bersamaan. Itulah mengapa situasi ini seharusnya dijelaskan secara jernih sebagai realitas industri, bukan dibaca terlalu dangkal.

Ketergantungan Infrastruktur

Perlu ditekankan, permintaan semen domestik memang sangat bergantung pada dua sektor utama, yakni properti/perumahan dan infrastruktur. Segmen kantong menyumbang sekitar 70% permintaan, sedangkan segmen curah sekitar 30%. Oleh karena itu, ketika proyek konstruksi melemah, dampaknya sangat cepat terasa pada industri semen.

Baca Juga :

Intip Obrolan Presiden Jokowi dengan Airlangga, Ridwan Kamil Sebut Bincang Dinamika Politik
Momen Nabila Ishma Kunjungi dan Panjatkan Doa di Makam Eril saat Idul Fitri

Di sisi lain, persaingan di industri ini juga ketat. Tercatat, utilisasi industri semen saat ini berada di kisaran 54%, tanpa ekspor. Artinya, kapasitas industri masih longgar, sehingga persaingan merebut pasar menjadi semakin agresif. Dalam kondisi seperti itu, tekanan pada harga jual menjadi sulit dihindari.

“Meski situasi berat, kami di SIG tetap melakukan respons. Transformasi model bisnis pada Semester II 2025 mampu menahan tekanan tersebut, dengan profil pendapatan yang membaik seiring kenaikan volume jual pada paruh kedua tahun lalu,” jelas Indrieffouny Indra.

Bisa disimpulkan, terutama dari fakta industri yang dihadapinya. Jika pendapatan turun 2,6%, volume penjualan turun 0,6%, rata-rata harga jual turun 1,5%, dan biaya energi menyerap sekitar 54% dari total biaya, maka yang tengah dihadapi SIG jelas tekanan industri yang nyata, sekaligus menunjukkan struktur industri dan realitas usaha yang memang keras.

You Might Also Like

Bisakah KDKMP Jadi Soko Guru Sejati Ekonomi Indonesia? Inilah yang Lagi Disiapkan Prabowo
Mafia Tambang Kebakaran Jenggot? Bahlil Bongkar Alasan RKAB Diperketat
Sebelum Bicara ‘Ironi’ Harga Timah, Cek Dulu Kadar Sn-nya
Dunia Wajib Hormat! Indonesia Resmi Jadi Pelopor B50 Dunia
Satgas PRR Perkuat Jembatan Enang-Enang, Warga Berterima Kasih
TAGGED:Direktur Utama SIGIndrieffouny IndraIndustri semenPT Semen Indonesia (Persero) TbkSIG
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Prabowo Dapat Undangan Khusus dari Putin untuk Hadiri Event Besar di Rusia
Next Article DPR Desak UI Utamakan Perlindungan Korban Kasus Pelecehan Daring
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK & HUKUM

Korupsi Kian Menggurita, RUU Perampasan Aset Tak Boleh Lagi Berlarut!

Megawati Usulkan Kolaborasi Indonesia-Timor Leste Lewat BRIN dan BPIP

Di Tengah Giringan Opini Kasus PLTU, Bahlil Tegaskan, “Kalau Diminta Data, Kami Kasih”

Presiden Resmi Luncurkan B50, Tonggak Baru Transisi Energi Nasional

Bahlil Ungkap Minat Besar India Investasi Migas di Indonesia

Pat Gulipat Hasil Korupsi? Polri Geledah 12 Lokasi dari Kafe, Money Changer hingga Rumah Mewah

Lolos dari Selat Hormuz! Pertamina Jaga Pasokan 2 Juta Barel Minyak Bagi Ketahanan Energi RI

Korupsi Masuk Jantung Penegak Hukum, Polri Bongkar 3 Mega Kasus

Janji Tinggal Janji? Kepercayaan Warga Karo Tergerus di Tengah Sengketa RSUD Kabanjahe

Ekonom Sebut Gebrakan B50 Akan Perkuat Rupiah, Selamatkan APBN dan Stop Impor Solar

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

EkonomiTerkini

Gas CNG Merah Putih Hadir! Hemat 40%, Kompor Lama Tetap Bisa Dipakai

7 days ago
EkonomiTerkini

Bahlil Desak PLN Gerak Cepat Atasi Kegelapan Warga Kalimantan dan Sumatera

7 days ago
EkonomiTerkini

Purbaya Bantah Tuduhan Obligasi Patriot Danantara Jadi Sarana Pencucian Uang

1 week ago
EkonomiTerkini

Gas Murah, PHK Mereda! Jurus Bahlil Selamatkan Industri, Buruh Bernapas Lega

1 week ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index