JAKARTA– Isu gugatan cerai Nia Ramadhani terhadap Ardi Bakrie kembali meledak di jagat maya, dan seperti sebuah deja vu, kabar itu terbukti 100% hoaks. Namun, yang lebih menarik dari sekadar bantahan adalah pertanyaan besarnya: Mengapa publik seolah begitu ‘menikmati’ dan ‘berharap’ kabar buruk ini nyata?
Untuk kedua kalinya dalam beberapa tahun, pola yang sama terulang. Sebuah rumor tanpa dasar muncul, menyebar secepat kilat, memicu ribuan komentar, lalu dibantah mentah-mentah oleh pihak keluarga dan lembaga resmi. Theresa Wienathan, asisten Nia, menyebutnya “berita paling ngaco”, sementara PA Jakarta Selatan mengonfirmasi tidak ada berkas gugatan yang masuk.
Meski faktanya jelas, gelombang reaksi netizen menunjukkan fenomena yang lebih dalam dari sekadar gosip. Ini adalah cermin dari kebutuhan kolektif akan drama dan validasi atas penderitaan.
Untuk membedah fenomena ini, inversi.id berbicara dengan Ikhsan Bella Persada, M.Psi., Psikolog. Menurutnya, ketertarikan publik pada isu negatif figur publik seperti Nia dan Ardi berakar pada konsep psikologis yang disebut, “schadenfreude”.
“Schadenfreude adalah istilah Jerman untuk perasaan senang atau puas yang muncul saat melihat kemalangan orang lain,” jelas Ikhsan. “Ketika figur publik yang hidupnya terlihat ‘sempurna’—kaya, terkenal, harmonis—tertimpa masalah, sebagian orang merasa terhibur. Ini bukan karena mereka jahat, tapi ini bisa menjadi mekanisme pertahanan ego.”
Ikhsan menambahkan, kehidupan Nia dan Ardi yang sering ditampilkan sebagai “relationshipgoals” dengan kemewahan tanpa batas menciptakan jarak psikologis dengan masyarakat umum. “Ketika ada kabar retak, jarak itu seolah menipis. Muncul pemikiran, ‘Oh, ternyata hidup mereka tidak sempurna’, atau ‘Uang memang tidak bisa membeli kebahagiaan’. Ini memberikan validasi dan sedikit kelegaan bagi mereka yang merasa hidupnya penuh perjuangan,” paparnya,Rabu (4/1/2026)
Selain dari sisi psikologi audiens, pola hoaks yang terus berulang ini juga patut dicurigai sebagai strategi yang disengaja. Pradna Paramita, seorang Pakar Komunikasi Digital yang juga psikolog asal Universitas Indonesia, melihat ini sebagai ciri khas ekonomi digital berbasis perhatian (attention economy).
“Dalam lanskap media saat ini, klik adalah mata uang. Judul yang mengandung nama besar seperti ‘Nia Ramadhani’, ‘Ardi Bakrie’, ditambah kata kunci ‘cerai’ adalah formula pasti untuk viral,” ujar Pradna
Menurutnya, ada pihak-pihak yang sengaja menciptakan dan mendaur ulang narasi ini untuk mendulang trafik. “Mereka tidak peduli pada kebenaran, yang penting adalah sensasi. Pola ini akan terus ada selama audiens masih ‘lapar’ akan konten semacam ini. Semakin banyak yang mengklik dan berkomentar, semakin sering hoaks serupa akan diproduksi,” tegasnya.
Pada akhirnya, kasus Nia dan Ardi bukan lagi sekadar berita selebriti. Ini adalah studi kasus tentang kondisi masyarakat digital kita. Mulai dari krisis empati, yakni kemudahan berkomentar sinis di balik anonimitas telah mengikis empati. Kehidupan pribadi orang lain dianggap sebagai serial drama yang bebas dihakimi.
Lalu, literasi digital yang rendah, dengan banyak yang masih menelan informasi mentah-mentah tanpa verifikasi, menjadikan mereka target empuk penyebar hoaks. Dan, kebutuhan validasi, yakni d tengah tekanan sosial dan ekonomi, melihat ‘orang atas’ jatuh memberikan kepuasan sesaat yang adiktif.
Kabar perceraian Nia dan Ardi memang tidak benar. Namun, reaksi liar yang ditimbulkannya menunjukkan sebuah kebenaran yang pahit tentang kita semua. Pertanyaannya bukan lagi siapa yang menyebar hoaks, tapi mengapa kita begitu mudah memercayai dan bahkan menikmatinya?