Inversi Indonesia tengah menapaki babak baru dalam arah kebijakan fiskal nasional. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, melontarkan pernyataan optimistis mengenai prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diproyeksikan mampu menyentuh angka 6 hingga 7 persen mulai tahun anggaran ini.
Dalam forum bergengsi Indonesia Economic Summit (IES) 2026 yang diselenggarakan pada Selasa (03/02/2026), Purbaya menegaskan kesiapannya untuk melakukan akselerasi pertumbuhan melalui pengelolaan likuiditas yang lebih agresif dan efektif.
Pernyataan ini mencuri perhatian publik bukan hanya karena target angkanya yang ambisius, melainkan juga karena keberanian Purbaya dalam membandingkan arah kebijakannya dengan pendahulunya.
Dengan nada percaya diri, ia menyatakan bahwa ketersediaan likuiditas saat ini berada dalam posisi yang sangat mencukupi untuk membiayai berbagai sektor penggerak ekonomi nasional.
Evaluasi Mesin Pertumbuhan Dua Dekade Terakhir
Dalam paparannya di hadapan para pakar ekonomi dan investor, Purbaya melakukan bedah teoretis terhadap pola pertumbuhan ekonomi Indonesia selama kurang lebih 20 tahun terakhir. Menurut analisisnya, mesin pertumbuhan ekonomi nasional selama ini tidak bekerja secara optimal karena terjadi ketimpangan peran antara sektor publik dan sektor swasta.
Ia memberikan komparasi historis yang tajam. Pada era kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), pertumbuhan ekonomi dinilai lebih banyak digerakkan oleh dinamika sektor swasta, namun di sisi lain, belanja pemerintah cenderung minim atau tidak terserap secara maksimal untuk stimulus ekonomi.
Sebaliknya, pada era Presiden Joko Widodo, mesin penggerak utama beralih secara drastis pada belanja pemerintah melalui pembangunan infrastruktur yang masif, namun peran investasi swasta dianggap belum memberikan kontribusi yang seimbang.
“Selama dua dekade, pertumbuhan kita berjalan timpang. Satu sisi bekerja, sisi lain tidak. Jika kita mampu menyinkronkan kedua mesin ini secara bersamaan belanja pemerintah yang tepat sasaran dan partisipasi swasta yang aktif maka mencapai pertumbuhan di atas 6 persen bukanlah hal yang sulit,” jelas Purbaya.
Pengelolaan Likuiditas sebagai Instrumen Utama
Faktor pembeda utama yang ditegaskan oleh Purbaya adalah strategi pengelolaan keuangan negara atau fiskal yang ia klaim lebih adaptif. Ia meyakini bahwa bendahara negara saat ini memiliki kendali likuiditas yang lebih kuat untuk mendorong roda ekonomi.
Kepercayaan diri ini didasarkan pada posisi kas negara dan instrumen kebijakan yang menurutnya lebih efektif dibandingkan periode-periode sebelumnya.
“Saya memiliki kapasitas likuiditas yang cukup untuk mendorong ekonomi tumbuh pada kisaran 6 persen hingga 7 persen. Saya berani menyatakan ini karena strategi yang kami terapkan sekarang lebih fokus pada efektivitas belanja yang langsung menyentuh sektor produktif,” tambahnya.
Purbaya secara implisit memberikan catatan pada era kepemimpinan Sri Mulyani Indrawati, dengan menyatakan bahwa pendekatan fiskal saat ini dirancang untuk lebih responsif terhadap kebutuhan pasar tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian (prudence).
Baginya, transisi kepemimpinan di Kementerian Keuangan adalah momentum untuk mengubah gaya pengelolaan dari yang bersifat konservatif menjadi lebih ekspansif namun terukur.
Daya Tarik Investasi Asing (FDI) dan Kedaulatan Ekonomi
Salah satu poin krusial dalam visi ekonomi Purbaya adalah mengenai posisi tawar Indonesia terhadap investor asing. Ia memiliki filosofi yang cukup unik dalam menarik Foreign Direct Investment (FDI).
Alih-alih melakukan diplomasi luar negeri secara agresif untuk memohon investasi masuk, ia lebih memilih untuk memperkuat “rumah tangga” ekonomi domestik terlebih dahulu.
Purbaya meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi yang stabil di angka 6-7 persen akan menjadi magnet alami bagi modal asing. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak ingin mengejar investor saat kondisi ekonomi dalam keadaan lesu.
“Saat ekonomi kita tumbuh tinggi dan fundamentalnya sehat, para investor asing akan datang dengan sendirinya tanpa perlu kita memohon. Itu jauh lebih mudah. Kondisi ekonomi yang baik adalah daya tawar tertinggi kita di mata dunia,” tegasnya dengan penuh keyakinan.
Strategi ini menunjukkan keinginan pemerintah untuk membangun kedaulatan ekonomi di mana Indonesia memiliki posisi tawar yang kuat dalam negosiasi internasional.
Harapan dan Tantangan Ke Depan
Target pertumbuhan 7 persen tentu bukan tanpa tantangan. Realitas ekonomi global yang dinamis serta tantangan geopolitik menuntut eksekusi kebijakan yang tanpa celah.
Namun, dengan sinkronisasi antara belanja infrastruktur pemerintah dan gairah sektor swasta, Purbaya Yudhi Sadewa yakin Indonesia tengah berada di jalur yang benar untuk keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap).
Keyakinan Menteri Keuangan ini diharapkan mampu menularkan sentimen positif kepada para pelaku usaha di dalam negeri. Jika akselerasi likuiditas benar-benar dapat dikonversi menjadi aktivitas ekonomi produktif, maka visi Indonesia Emas melalui pertumbuhan tinggi bukan lagi sekadar narasi di atas kertas, melainkan kenyataan yang dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.