Inversi Industri modal ventura di Indonesia terus menunjukkan peran strategisnya dalam mendukung pembiayaan sektor-sektor ekonomi produktif. Hingga November 2025, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat terdapat lima sektor ekonomi utama yang menjadi penerima pembiayaan terbesar dari industri modal ventura.
Data tersebut mencerminkan arah pembiayaan yang masih terkonsentrasi pada sektor-sektor dengan aktivitas ekonomi tinggi serta potensi pertumbuhan yang relatif stabil. Kepala Eksekutif Pengawas Lembaga Pembiayaan, Perusahaan Modal Ventura, Lembaga Keuangan Mikro, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya OJK.
Agusman, menjelaskan bahwa sektor perdagangan besar dan eceran, termasuk reparasi serta perawatan kendaraan bermotor, menempati posisi teratas sebagai sektor dengan pembiayaan modal ventura terbesar. Hingga November 2025, nilai pembiayaan di sektor ini mencapai Rp7,63 triliun atau setara dengan 68,53 persen dari total portofolio pembiayaan industri modal ventura.
Dominasi sektor perdagangan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas distribusi barang dan jasa masih menjadi tulang punggung perekonomian nasional. Sektor ini dinilai memiliki perputaran modal yang cepat serta tingkat permintaan yang relatif konsisten, sehingga menarik bagi perusahaan modal ventura untuk menanamkan investasinya.
Selain itu, subsektor reparasi dan perawatan kendaraan juga dinilai memiliki prospek yang baik seiring meningkatnya mobilitas masyarakat dan pertumbuhan kepemilikan kendaraan bermotor.
Di posisi kedua, sektor aktivitas rumah tangga sebagai pemberi kerja atau aktivitas yang menghasilkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan sendiri mencatatkan nilai pembiayaan sebesar Rp726,62 miliar atau sekitar 6,5 persen dari total portofolio.
Sektor ini mencerminkan peran ekonomi rumah tangga yang tidak hanya bersifat konsumtif, tetapi juga produktif, terutama dalam skala usaha mikro dan kecil. Pembiayaan pada sektor ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui penguatan ekonomi berbasis rumah tangga.
Sementara itu, sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menempati posisi ketiga dengan nilai pembiayaan mencapai Rp519,43 miliar atau setara 4,6 persen dari total pembiayaan modal ventura. Pembiayaan pada sektor ini dinilai strategis mengingat perannya dalam menjaga ketahanan pangan nasional serta mendukung perekonomian daerah.
Modal ventura berperan dalam mendorong inovasi, peningkatan produktivitas, serta penerapan teknologi pada sektor primer yang selama ini menghadapi tantangan keterbatasan akses pendanaan.
Posisi keempat ditempati oleh sektor aktivitas penyewaan dengan nilai pembiayaan sebesar Rp412,25 miliar atau sekitar 3,7 persen. Sektor ini mencakup berbagai jenis usaha penyewaan, mulai dari alat produksi hingga properti, yang berperan penting dalam mendukung kegiatan usaha sektor lain.
Pembiayaan modal ventura pada sektor ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi ekonomi dengan memberikan akses penggunaan aset tanpa harus memiliki secara langsung.
Adapun sektor industri pengolahan berada di posisi kelima dengan nilai pembiayaan sebesar Rp410 miliar atau sekitar 3,69 persen dari total portofolio. Meskipun porsinya relatif lebih kecil dibandingkan sektor lainnya, industri pengolahan tetap memiliki peran penting dalam menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, serta mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.
Modal ventura di sektor ini diharapkan dapat memperkuat kapasitas produksi dan daya saing industri nasional. Secara keseluruhan, OJK mencatat total pembiayaan industri modal ventura per November 2025 mencapai Rp16,29 triliun.
Nilai tersebut tumbuh sebesar 1,2 persen secara tahunan atau year on year (YoY). Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa industri modal ventura masih mampu bertahan di tengah dinamika ekonomi global, meskipun laju pertumbuhannya relatif terbatas.
Menatap tahun 2026, Agusman menyampaikan optimisme bahwa kinerja industri modal ventura masih berpotensi tumbuh positif. Optimisme tersebut didorong oleh peluang pembiayaan terhadap perusahaan rintisan atau start-up yang telah memasuki fase profitabilitas. Selain itu, ekspansi pembiayaan ke sektor hilirisasi dan peningkatan investasi berbasis syariah juga menjadi peluang pertumbuhan baru bagi industri modal ventura.
Namun demikian, Agusman juga mengingatkan adanya sejumlah tantangan yang perlu diwaspadai. Tekanan akibat fenomena tech winter, dinamika perekonomian global, serta keterbatasan sumber pendanaan menjadi faktor yang dapat memengaruhi kinerja industri modal ventura pada 2026.
Oleh karena itu, diperlukan strategi pengelolaan risiko yang matang serta diversifikasi portofolio pembiayaan agar industri ini tetap berkelanjutan.
Dengan arah pembiayaan yang semakin selektif dan fokus pada sektor-sektor produktif, industri modal ventura diharapkan dapat terus berkontribusi dalam mendukung pertumbuhan ekonomi nasional, mendorong inovasi usaha, serta memperkuat struktur pembiayaan di Indonesia.