Halo sahabat Inversi! Gorontalo kembali jadi sorotan, bukan cuma karena pesona alamnya, tapi kali ini lewat cita rasa kuliner dan warisan budayanya.
Gubernur Gorontalo, Gusnar Ismail, memperkenalkan deretan kuliner khas Bumi Serambi Madinah kepada Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, saat kunjungan ke kantor Balai Pelestarian Kebudayaan, Kamis (9/10/2025).
Momentum ini bukan sekadar jamuan, melainkan bentuk nyata diplomasi budaya: lewat makanan dan karya seni lokal, Gorontalo menunjukkan identitasnya kepada dunia.
Enam Kuliner Khas Jadi Bintang Meja Hidangan
Dalam jamuan tersebut, pengurus dan anggota Dharma Wanita Persatuan Balai Pelestarian Kebudayaan Gorontalo menyiapkan enam menu khas yang bikin penasaran, yaitu: kolombengi, dumalo, tiliaya, diniyohu, bubur balo binthe atau sada, dan tentu saja yang paling mencuri perhatian ilabulo.
Menbud Fadli Zon tampak antusias, bahkan menanyakan satu per satu nama dan bahan dari kuliner tersebut. Bagi Gusnar Ismail, kesempatan ini adalah ajang story-telling: menjelaskan bahwa makanan bukan sekadar hidangan, tapi punya nilai historis dan filosofi dalam kehidupan masyarakat Gorontalo.
“Ini namanya ilabulo. Orang tua kita biasanya memberi ilabulo untuk anak yang baru dikhitan karena kandungan proteinnya tinggi, membantu luka cepat sembuh,” jelas Gusnar.
Buat yang belum tahu, ilabulo adalah makanan khas Gorontalo berbahan dasar tepung sagu yang dicampur hati dan ampela ayam, plus bumbu khas. Prosesnya unik: adonan dibungkus daun pisang, lalu dikukus atau dibakar. Teksturnya kenyal, aromanya wangi, dan rasanya gurih legit.
Menbud Fadli Zon mengaku kagum, “Saya lihat kuliner khas Gorontalo adalah makanan bergizi tinggi.” Komentar itu jadi validasi bahwa kuliner lokal bukan hanya nikmat di lidah, tapi juga bernutrisi dan sarat makna.
Dari Rasa ke Warisan: Karawo, Sulaman Berusia Ratusan Tahun
Selain kuliner, kunjungan itu juga menyoroti warisan budaya non-kuliner, yakni kain karawo. Tradisi menyulam ini sudah eksis sejak abad ke-15. Prosesnya panjang dan detail: mulai dari menggambar motif, mengiris benang, mencabut serat, hingga menyulam pola indah yang khas Gorontalo.
Bagi generasi muda, karawo bukan sekadar kain, tapi identitas. Ia simbol kesabaran, kreativitas, dan keterampilan tangan yang diwariskan turun-temurun. Di era industri cepat dan instan, karawo hadir sebagai pengingat bahwa karya terbaik lahir dari proses yang penuh dedikasi.
Momentum pertemuan ini memberi pesan kuat buat generasi muda Indonesia. Bahwa kuliner dan budaya lokal bukan hanya nostalgia masa lalu, melainkan potensi masa depan. Dari makanan bisa lahir industri kreatif kuliner. Dari kain karawo bisa tercipta fashion etnik modern.
Gusnar Ismail melalui jamuan ini seakan bilang: “Bangga jadi orang Gorontalo itu harus dimulai dari meja makan dan budaya sendiri.”
Dari Gorontalo untuk Indonesia
Kunjungan Menteri Kebudayaan ke Gorontalo yang disambut dengan sajian kuliner khas serta sulaman karawo membuktikan bahwa diplomasi budaya bisa dilakukan dengan cara sederhana namun bermakna. Kuliner dan seni lokal jadi pintu masuk untuk memperkenalkan jati diri bangsa ke level nasional maupun global.
Buat anak muda, pesan utamanya jelas: jangan cuma kenal makanan fast food, tapi juga kuliner asli daerahmu sendiri. Siapa tahu, dari sana bisa lahir ide bisnis, karya kreatif, atau bahkan branding Indonesia di mata dunia.