INVERSI.ID – Survei global yang melibatkan lebih dari 23.000 responden dari 44 negara ini menyoroti bagaimana dua generasi terbesar yakni Generasi Z (Gen Z) dan milenial, di dunia kerja saat ini memandang pentingnya keberlanjutan dalam karier mereka.
Gen Z dan Millennial diprediksi akan mendominasi angkatan kerja dunia pada tahun 2030, mencapai 74 persen dari total tenaga kerja. Hal ini membuat suara mereka semakin penting bagi arah kebijakan perusahaan. Deloitte melalui survei yang telah berjalan selama 14 tahun ini mengkaji pandangan mereka tentang prioritas, kekhawatiran, dan nilai-nilai yang mereka bawa ke dunia kerja.
Laporan terbaru ini menunjukkan bahwa Gen Z dan Millennial semakin memilih bekerja di perusahaan yang sejalan dengan nilai etika dan prinsip keberlanjutan mereka. Bahkan, sebagian besar rela meninggalkan pekerjaan atau menolak tawaran jika perusahaan dinilai abai terhadap isu lingkungan.
Generasi Baru dengan Prioritas Baru
Deloitte menemukan bahwa Gen Z dan Millennial menempatkan pertumbuhan diri, gaji yang layak, tujuan hidup yang bermakna, dan kesejahteraan sebagai prioritas utama. Namun, yang mengejutkan adalah keberlanjutan kini masuk dalam daftar pertimbangan penting mereka saat memilih pekerjaan.
Menurut laporan yang dikutip dari Sustainability Magazine (17/7/2025), sekitar 70 persen responden menyatakan bahwa kebijakan lingkungan perusahaan memengaruhi keputusan mereka saat melamar kerja. Bahkan, 15 persen menyatakan siap pindah kerja jika perusahaan tidak sesuai dengan prinsip keberlanjutan yang mereka pegang.
“Dunia berada di titik balik kritis. Risiko dari krisis lingkungan, ekonomi, dan sosial meningkat, dan kita kehabisan waktu untuk bertindak,” kata Mattias Medert, Kepala Global Keberlanjutan SAP, menanggapi hasil survei Deloitte.
Etika Lingkungan Jadi Penentu
Selain memperhatikan gaji dan jenjang karier, Gen Z dan Millennial kini memeriksa rekam jejak lingkungan perusahaan sebelum melamar. Sebanyak 40 persen responden mengaku pernah berhenti atau menolak pekerjaan karena nilai perusahaan bertentangan dengan nilai pribadi mereka, terutama terkait isu keberlanjutan.
Lebih dari 50 persen juga mengaku sudah menyuarakan tuntutan kepada perusahaan mereka untuk lebih serius menangani isu lingkungan.
“Ini menunjukkan bahwa generasi muda tidak hanya ingin perubahan, tetapi mereka siap menjadi katalisnya,” ujar Mattias.
Bukan Sekadar di Kantor, Tapi Juga di Rumah
Kesadaran lingkungan Generasi Z dan Millennial tidak berhenti di lingkungan kerja. Laporan Deloitte menunjukkan bahwa mereka juga menerapkan praktik keberlanjutan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagian besar responden mengaku mulai menggunakan peralatan hemat energi, merencanakan pembelian kendaraan listrik atau hibrida, dan bersedia membayar lebih untuk produk atau layanan yang berkelanjutan. Sebanyak 25 persen menyatakan selalu memeriksa dampak lingkungan dari perusahaan sebelum membeli produk mereka.
Selain itu, lebih dari 65 persen responden merasa cemas terhadap kondisi lingkungan saat ini, sementara 70 persen mengaku pernah mengalami langsung dampak cuaca ekstrem dalam setahun terakhir.
Implikasi bagi Dunia Usaha
Hasil survei ini memberikan pesan kuat bagi para pelaku usaha. Dalam era dominasi Gen Z dan Millennial di dunia kerja, isu keberlanjutan tidak lagi bisa dianggap sekadar tren, melainkan sebagai strategi inti perusahaan.
“Tujuan yang berani dan tindakan nyata dalam hal iklim, inklusi, hak asasi manusia, dan bisnis berkelanjutan bukan hanya hal yang benar, tetapi juga cara untuk memenangkan kepercayaan generasi berikutnya. Terutama saat kita masuk ke era AI dan inovasi digital.” kata Mattias menegaskan.
Perusahaan yang gagal menyesuaikan diri dengan nilai-nilai ini berisiko kehilangan talenta terbaik dan kehilangan daya saing di mata konsumen yang semakin sadar lingkungan.
Masa Depan yang Hijau dan Inklusif
Survei tahunan Deloitte menegaskan kembali bahwa Gen Z dan Millennial membawa gelombang perubahan dalam dunia kerja. Mereka tidak hanya mencari pekerjaan untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk memberi makna dan berdampak positif bagi dunia.
Dengan populasi mereka yang akan mendominasi tenaga kerja global dalam lima tahun ke depan, perusahaan wajib bertransformasi menjadi lebih ramah lingkungan, inklusif, dan berkelanjutan. Masa depan dunia kerja tidak lagi hanya soal profit, tetapi juga tentang keberlanjutan bumi yang kita tinggali bersama.