INVERSI.ID – Indonesia Climate Mandate menjadi ruang strategis bagi generasi muda untuk menyuarakan tuntutan iklim nasional dan global. Forum ini diinisiasi oleh Climate Rangers Jakarta bersama 32 perwakilan orang muda dan anak dari berbagai provinsi di Indonesia sebagai bagian dari konferensi utama Local Conference of Youth and Children (LCOY) Indonesia 2025.
Dalam forum tersebut, para pemuda menekankan pentingnya aksi kolektif dalam menghadapi krisis iklim yang semakin nyata. Kata kunci Indonesia Climate Mandate tidak hanya merujuk pada sebuah dokumen deklarasi, tetapi juga simbol konsolidasi suara anak muda dari berbagai latar belakang yang terdampak perubahan iklim secara langsung.
Indonesia Climate Mandate hadir sebagai jawaban atas minimnya ruang bagi suara anak muda dalam kebijakan iklim. Ginanjar, Koordinator Climate Rangers Indonesia, menegaskan forum ini bukan sekadar pertemuan biasa.
“Forum ini adalah ruang strategis bagi orang muda dari seluruh penjuru negeri untuk menyuarakan tuntutan iklim berbasis pengalaman lokal, sekaligus merumuskan sikap kolektif orang muda terhadap aksi iklim nasional dan global,” jelasnya.
Suara Anak Muda dari Lapangan
Salah satu hal yang menonjol dalam Indonesia Climate Mandate adalah hadirnya kisah nyata dari berbagai penjuru negeri. Gispa, seorang perempuan adat dari Papua Barat, menyampaikan kondisi kritis yang dihadapi masyarakat adat.
“Tidak semua orang memiliki pilihan untuk beradaptasi dengan krisis iklim; saya, seorang perempuan adat dari Papua, hidup bergantung pada tanah. Bagi kami, pilihannya hanya dua: melawan atau mati,” tegasnya.
Kisah Gispa mencerminkan kerentanan kelompok adat yang selama ini kurang mendapat pengakuan. Namun, suara mereka akhirnya menemukan wadah di Indonesia Climate Mandate.
Selain masyarakat adat, perwakilan dari wilayah pesisir juga turut berbicara. Mereka mengembangkan sistem peringatan dini banjir rob untuk melindungi komunitas mereka. Di sisi lain, kelompok petani muda menginisiasi pertanian adaptif iklim untuk menjawab tantangan produksi pangan di tengah perubahan cuaca ekstrem. Bahkan, komunitas perempuan muda mengintegrasikan edukasi iklim dalam kegiatan sehari-hari, membuktikan bahwa upaya melawan krisis iklim bisa dilakukan dari lingkup terkecil sekalipun.
Kisah-kisah tersebut memperlihatkan bahwa perubahan iklim bukan sekadar ancaman masa depan. Ia adalah realitas hari ini yang sudah mengubah kehidupan jutaan orang. Forum ini pun menjadi bukti bahwa generasi muda bukan lagi sekadar penonton, melainkan pelaku utama dalam perjuangan menuju keadilan iklim.
Menuju COP30: Anak Muda Bawa Tuntutan Nyata
Indonesia Climate Mandate juga menjadi momentum penting menjelang Konferensi Perubahan Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (COP30). Delegasi LCOY Indonesia 2025 akan membawa draft deklarasi resmi yang berisi tuntutan terkait iklim, energi, dan keuangan ke panggung internasional.
Pinkan Astina, Program Officer LCOY Indonesia 2025, menegaskan bahwa kehadiran anak muda di forum global bukan sekadar simbolis.
“Kami tidak datang hanya untuk didengar, tapi untuk memastikan perubahan terjadi. Tidak ada keadilan iklim tanpa keadilan sosial. Melalui forum ini, kami ingin menunjukkan bahwa orang muda tidak hanya peduli, tapi siap memimpin dan berkontribusi dalam kebijakan iklim,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari pemerintah. Franky Zamzani, perwakilan Kementerian Lingkungan Hidup, menanggapi serius National Children and Youth Statement yang memuat aspirasi dari 32 provinsi. Ia menegaskan bahwa izin pemanfaatan lahan, termasuk kawasan gambut, tetap harus dibatasi dengan prinsip keseimbangan antara kebutuhan ekonomi, sosial, dan lingkungan.
“Indonesia memang termasuk penghasil emisi terbesar, tetapi kita juga punya potensi besar dalam penyerapan karbon. Dunia menuntut kontribusi kita untuk mencapai target Paris Agreement dan Net Zero Emission. Keterlibatan orang muda, termasuk di forum COP30, sangat penting untuk memastikan komitmen iklim berjalan adil dan berkelanjutan,” jelas Franky.
Forum ini bukan hanya sekadar diskusi, tetapi juga menampilkan pameran aksi komunitas. Inovasi dari pelosok negeri, mulai dari teknologi sederhana peringatan banjir hingga model pertanian adaptif, dipamerkan sebagai bukti nyata kreativitas anak muda dalam menjawab tantangan iklim.
Kekuatan Kolektif, Dari Mandat Nasional ke Aksi Global
Indonesia Climate Mandate menegaskan bahwa anak muda bukan hanya korban krisis iklim, tetapi juga aktor perubahan yang memiliki daya tawar. Melalui penyusunan National Youth Statement, suara mereka dikonsolidasikan dalam satu mandat bersama. Dokumen ini akan menjadi pegangan dalam menekan negara dan pemangku kebijakan agar tidak lagi menunda transisi energi bersih yang adil dan berkelanjutan.
Kekuatan kolektif ini menunjukkan bahwa perjuangan iklim tidak bisa dilakukan secara parsial. Dibutuhkan kolaborasi antara komunitas, pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, dan sektor swasta. Dengan dukungan penuh, Indonesia Climate Mandate diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang tidak hanya kritis, tetapi juga mampu menciptakan solusi nyata.
Melalui forum ini, anak muda Indonesia menegaskan posisi mereka: siap terlibat dalam pengambilan keputusan, siap mengawal implementasi kebijakan, dan siap membawa perubahan. Inilah pesan utama yang hendak dibawa ke panggung COP30: bahwa masa depan bumi tidak bisa ditentukan tanpa mendengar suara generasi muda yang akan mewarisinya.