INVERSI.ID – Di era digital seperti sekarang, remaja menjadi salah satu kelompok pengguna terbesar media sosial. Dua platform yang paling banyak digunakan adalah Instagram dan TikTok. Keduanya tidak hanya menjadi wadah ekspresi dan hiburan, tapi juga ruang sosial baru tempat anak muda membangun identitas dan berinteraksi dengan dunia.
Namun, di balik keseruannya, dunia digital juga menyimpan banyak risiko—mulai dari paparan konten tidak pantas, perundungan daring (cyberbullying), hingga interaksi dengan orang asing yang berpotensi berbahaya. Karena itu, dua raksasa media sosial ini mulai berlomba menghadirkan fitur keamanan khusus bagi remaja untuk menciptakan ruang digital yang lebih sehat dan bertanggung jawab.
Instagram dan TikTok, Dua Dunia yang Sama-Sama Dekat dengan Remaja
Instagram dan TikTok sama-sama populer di kalangan anak muda. Data dari berbagai lembaga riset menunjukkan bahwa lebih dari 70% pengguna aktif TikTok dan Instagram di Indonesia berasal dari kelompok usia 13–24 tahun. Artinya, apa pun yang terjadi di platform ini sangat memengaruhi kehidupan sosial remaja.
Instagram dikenal sebagai tempat berbagi foto, video, dan cerita pribadi, sementara TikTok tumbuh menjadi platform kreatif berbasis video pendek dengan algoritma yang sangat personal. Keduanya sama-sama menyenangkan, tapi juga sama-sama menantang jika tidak digunakan dengan bijak.
Melihat tren ini, baik Instagram maupun TikTok telah mengumumkan berbagai langkah keamanan baru. Berdasarkan panduan dari Instagram Kementerian Komunikasi dan Digital (Kominfo), berikut penjelasan lengkap tentang bagaimana kedua platform ini melindungi pengguna remaja mereka.
Fitur Keamanan Dasar untuk Remaja
Baik Instagram maupun TikTok kini memiliki pengaturan otomatis untuk pengguna di bawah usia 16 tahun.
Di Instagram, akun pengguna remaja otomatis diatur sebagai akun privat. Artinya, orang asing tidak bisa langsung melihat unggahan atau mengirim pesan langsung (DM) tanpa izin. Selain itu, Instagram juga menyediakan filter konten eksplisit yang menyembunyikan unggahan berbau kekerasan, pornografi, atau ujaran kebencian. Ada juga fitur sleep mode yang muncul otomatis untuk mengingatkan pengguna agar beristirahat setelah waktu penggunaan tertentu.
Sementara itu, TikTok juga menerapkan sistem serupa. Pengguna remaja mendapatkan mode privat otomatis serta filter konten eksplisit. Namun, TikTok lebih ketat dalam hal interaksi pribadi: pengguna di bawah usia 16 tahun tidak dapat menerima DM dari siapa pun, kecuali dari akun yang sudah disetujui. Kebijakan ini dianggap efektif dalam mencegah risiko interaksi berbahaya dengan orang asing.
Selain itu, baik TikTok maupun Instagram membatasi akses fitur tertentu bagi pengguna muda. Akun remaja tidak diperbolehkan melakukan siaran langsung (live), mengirim gift, atau menggunakan fitur kolaboratif seperti duet dan stitch di TikTok. Hal ini dilakukan untuk meminimalkan kemungkinan eksploitasi konten oleh pihak tidak bertanggung jawab.
Fitur Pengawasan dan Kontrol Orang Tua
Dalam hal pengawasan digital, Instagram dan TikTok punya pendekatan yang sedikit berbeda.
Instagram menghadirkan fitur Parental Supervision Tools, yang memungkinkan orang tua memantau aktivitas anak tanpa sepenuhnya mengambil alih akun mereka. Orang tua dapat melihat waktu penggunaan aplikasi, laporan aktivitas harian, dan akun yang diikuti anak. Instagram juga menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk mendeteksi usia pengguna. Jika sistem mendeteksi akun yang mencurigakan, Instagram bisa secara otomatis membatasi akses terhadap fitur tertentu.
Sementara itu, TikTok punya fitur unggulan bernama Family Pairing. Fitur ini memungkinkan akun orang tua dan anak terhubung langsung, sehingga pengawasan bisa lebih menyeluruh. Dengan Family Pairing, orang tua dapat mengatur durasi penggunaan aplikasi, jenis konten yang bisa dilihat, dan siapa saja yang dapat berinteraksi dengan anak mereka. TikTok juga mengatur agar anak-anak di bawah umur tidak bisa menonton konten dengan kategori 18+ bahkan jika konten tersebut muncul di tren utama.
Kedua platform sepakat bahwa tanggung jawab keamanan digital tidak bisa hanya dibebankan pada sistem, tetapi juga pada peran aktif orang tua. Oleh karena itu, mereka terus memperbarui panduan edukatif dan kolaborasi dengan lembaga pemerintah serta lembaga swadaya masyarakat (LSM) di bidang perlindungan anak dan literasi digital.
Keunggulan Masing-Masing Platform dalam Melindungi Remaja
Jika dibandingkan, Instagram dan TikTok punya keunggulan masing-masing dalam menjaga keamanan remaja di dunia maya.
Dari sisi teknologi deteksi usia, Instagram sedikit lebih unggul. Sistem AI-nya mampu mengenali perilaku akun, mulai dari gaya interaksi hingga aktivitas unggahan, untuk memperkirakan usia pengguna dan menyesuaikan tingkat keamanan. Selain itu, pemblokiran konten dewasa di Instagram dilakukan secara otomatis tanpa perlu diatur manual oleh pengguna.
Instagram juga memiliki fitur sleep mode yang cukup unik—fitur ini akan mengingatkan pengguna untuk berhenti setelah waktu penggunaan tertentu dan mendorong mereka beristirahat. Bagi remaja yang sering kehilangan waktu karena scrolling tanpa henti, fitur ini menjadi pengingat yang efektif.
Sedangkan dari sisi pengawasan orang tua dan kontrol interaksi, TikTok lebih ketat. Fitur Family Pairing membuat TikTok unggul karena orang tua bisa benar-benar mengatur batas waktu penggunaan, membatasi komentar, hingga menentukan siapa yang boleh menonton video anak mereka. Selain itu, TikTok menonaktifkan beberapa fitur interaktif seperti duet, stitch, dan live untuk akun remaja, guna mencegah risiko penyalahgunaan.
Dengan pendekatan ini, TikTok dinilai memberikan perlindungan yang lebih konkret terhadap kemungkinan interaksi negatif antar pengguna.
Mana yang Lebih Aman untuk Remaja?
Baik Instagram maupun TikTok memiliki komitmen yang sama: menciptakan ruang digital yang aman dan positif bagi remaja. Namun, dari hasil perbandingan berbagai fitur keamanan, dapat disimpulkan bahwa TikTok lebih unggul dalam aspek pengawasan orang tua dan pembatasan interaksi langsung, sedangkan Instagram lebih kuat di bidang teknologi deteksi usia dan pengaturan otomatis konten.
Meski begitu, tidak ada platform yang benar-benar aman tanpa keterlibatan aktif dari pengguna dan keluarga. Orang tua tetap berperan penting dalam mendampingi anak, memberikan pemahaman tentang etika digital, serta mengajarkan cara melapor jika menemukan konten atau interaksi yang mencurigakan.
Pakar literasi digital juga menegaskan bahwa edukasi menjadi kunci utama dalam menciptakan lingkungan media sosial yang sehat. Dengan komunikasi yang terbuka antara orang tua dan anak, penggunaan fitur pengawasan, serta kesadaran akan risiko dunia maya, remaja bisa lebih terlindungi tanpa harus kehilangan kebebasan berekspresi.
Pada akhirnya, baik Instagram maupun TikTok hanyalah alat. Keamanan digital tetap bergantung pada bagaimana anak-anak belajar menggunakan media sosial secara bijak. Remaja perlu tahu bahwa tidak semua yang viral layak diikuti, dan tidak semua yang tampak di layar mencerminkan kenyataan.
Dengan pemahaman dan pendampingan yang tepat, dunia digital bisa menjadi ruang tumbuh yang positif—bukan ancaman—bagi generasi muda Indonesia.