INVERSI.ID – Jagoan Banyuwangi menjadi salah satu program unggulan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyuwangi untuk menumbuhkan jiwa entrepreneur di kalangan anak muda. Melalui program ini, sekitar 100 peserta yang telah memiliki rintisan usaha mendapat bimbingan langsung dari para mentor dan praktisi berpengalaman. Dengan konsep inkubasi bisnis, para anak muda diajak mengembangkan ide, memperkuat branding, hingga memperluas pasar untuk produk dan jasa yang mereka kembangkan.
Tidak sekadar kompetisi, Jagoan Banyuwangi juga menjadi ruang belajar kolaboratif bagi anak muda Banyuwangi. Peserta tidak hanya mendapatkan teori dari kelas-kelas inspiratif, tetapi juga praktik langsung untuk mempresentasikan gagasan mereka di hadapan mentor. Inilah yang menjadikan program ini berbeda dengan pelatihan bisnis biasa.
Lebih jauh lagi, Jagoan Banyuwangi juga dirancang sebagai wadah penguatan ekosistem ekonomi kreatif di Banyuwangi. Melalui sinergi antara pemerintah, mentor, dan para pelaku usaha, diharapkan lahir generasi muda yang mampu menciptakan lapangan kerja baru sekaligus mendorong perekonomian daerah.
Kisah Inspiratif Peserta Jagoan Banyuwangi
Salah satu peserta yang menarik perhatian adalah Wahyu Riyanto, pemilik usaha Moriza Outdoor. Wahyu sudah menekuni bisnis persewaan alat camping dan hiking sejak 2018, meski sebenarnya ia sudah memulai usaha sejak 2013 dengan menjual dan menyewakan perlengkapan secara online. Seiring perkembangan wisata alam di Banyuwangi, permintaan meningkat hingga akhirnya ia membuka toko offline di rumah.
Meski memiliki keterbatasan fisik, semangat Wahyu tidak pernah padam. Ia memutuskan ikut Jagoan Banyuwangi untuk memperkuat branding usahanya.
“Saya ikut Jagoan Banyuwangi karena ingin memperkuat branding usaha saya sekaligus pemasarannya. Bahkan, saya jadi terinspirasi membuat produk dengan merek sendiri,” ungkap Wahyu saat sesi pitching.
Kisah Wahyu menunjukkan bagaimana program ini membuka peluang bagi siapa saja, tanpa batasan fisik maupun latar belakang. Yang terpenting adalah kemauan untuk belajar dan berkembang.
Tidak kalah menarik, ada pula cerita dari Eka Fahmi, pemilik usaha penjualan bibit buah eksotis bernama Saben Wetan. Salah satu produk andalannya adalah bibit buah naga Palora Ekuador yang dikenal lebih manis dan bernilai jual tinggi, mencapai Rp200–300 ribu per kilogram. Eka mengaku ide bisnis ini muncul karena belum banyak orang yang mengembangkan jenis buah tersebut di Banyuwangi.
Lewat Jagoan Banyuwangi, Eka tidak hanya mendapat ilmu baru, tetapi juga langsung mendapatkan mitra bisnis.
“Selain dapat ilmu, saya juga langsung pecah telur dan dapat mitra berkolaborasi,” katanya bangga.
Kisah-kisah seperti ini menjadi bukti nyata bahwa program inkubasi ini bukan hanya soal teori, tetapi juga membuka jalan nyata menuju peluang bisnis baru.
Proses Program: Dari Kelas Hingga Pitching Day
Program Jagoan Banyuwangi 2025 resmi dimulai pada pertengahan Agustus. Tahap pertama berupa sesi offline, di mana para peserta mengikuti kelas intensif dari para mentor yang merupakan praktisi berpengalaman di bidangnya masing-masing.
Setelah itu, peserta mengikuti sesi post programme dan pitching day yang digelar pada 25–30 Agustus 2025 di Banyuwangi Creative Hub, Terminal Pariwisata Terpadu. Pada tahap ini, peserta diminta mempresentasikan ide pengembangan usahanya.
Suasana pitching berjalan penuh semangat. Para mentor memberikan masukan detail, mulai dari model bisnis, strategi pemasaran, hingga manajemen keuangan. Di sinilah terlihat antusiasme anak muda Banyuwangi yang benar-benar serius mengembangkan usahanya.
Dukungan Pemerintah dan Harapan untuk Masa Depan
Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menegaskan bahwa pemerintah ingin menjadikan Jagoan Banyuwangi sebagai ruang tumbuh bagi anak muda. “Semua bidang kami fasilitasi dengan mentor yang berpengalaman di bidangnya masing-masing,” ujarnya.
Program ini dibagi ke dalam tiga kategori besar:
- Jagoan Tani, yang fokus pada sektor pertanian dan agribisnis.
- Jagoan Digital, yang mengembangkan skill teknologi informasi dan komunikasi (TIK).
- Jagoan Bisnis, yang menjangkau berbagai bidang seperti kuliner, fashion, kriya, hingga jasa.
Menurut Bupati Ipuk, program ini diharapkan tidak hanya memberi wawasan baru, tetapi juga memperluas jaringan kolaborasi antar pelaku usaha muda.
“Harapan kami, lewat program ini para pemuda Banyuwangi mampu melakukan scale up usahanya. Setelah berkembang, mereka bisa menjadi motor penggerak ekosistem ekonomi kreatif yang menopang perekonomian daerah,” pungkasnya.
Anak Muda Banyuwangi dan Masa Depan Ekonomi Kreatif
Program seperti Jagoan Banyuwangi memiliki dampak strategis bagi masa depan. Pertama, anak muda mendapatkan kesempatan langsung untuk menguji ide dan mematangkan rencana bisnis mereka. Kedua, adanya mentor yang berpengalaman membantu memperkaya wawasan praktis yang seringkali tidak didapat di bangku sekolah atau kuliah.
Selain itu, program ini juga memberi ruang kolaborasi antarpeserta. Dengan jumlah peserta mencapai 100 orang, peluang untuk membangun relasi bisnis baru semakin besar. Tidak sedikit pula peserta yang langsung mendapatkan investor atau mitra kerja sama setelah mengikuti pitching day.
Yang tak kalah penting, Jagoan Banyuwangi juga menjadi bukti bahwa daerah bisa membangun program pengembangan entrepreneur yang tidak kalah keren dengan inkubasi di kota-kota besar. Dengan pendekatan yang sesuai kebutuhan lokal, anak muda Banyuwangi kini punya panggung untuk berkembang dan bersaing di level nasional bahkan internasional.
Semangat Anak Muda Banyuwangi
Melihat semangat para peserta, jelas bahwa Jagoan Banyuwangi bukan hanya sekadar program inkubasi bisnis, tetapi juga gerakan untuk membangkitkan potensi generasi muda. Dari bidang pertanian, teknologi digital, hingga industri kreatif, anak-anak muda ini menunjukkan bahwa dengan ide, kerja keras, dan dukungan yang tepat, mereka bisa mencetak prestasi sekaligus membangun masa depan Banyuwangi yang lebih mandiri secara ekonomi.
Ke depan, program seperti ini perlu terus diperluas agar semakin banyak pemuda di daerah lain mendapat kesempatan serupa. Sebab, masa depan ekonomi Indonesia tidak hanya bertumpu pada kota besar, tetapi juga tumbuh dari inovasi di daerah seperti Banyuwangi.