INVERSI.ID – Fenomena joki Strava, gaya hidup sehat, dan validasi sosial semakin jadi perbincangan hangat di kalangan anak muda. Di tengah tren olahraga lari yang semakin digandrungi, jasa joki Strava justru jadi peluang bisnis baru yang unik. Aktivitas ini juga mencerminkan bagaimana media sosial memengaruhi perilaku generasi muda dalam menunjukkan gaya hidup sehat demi mendapat pengakuan sosial.
Pengamat sosial Universitas Indonesia (UI), Rissalwan Habdy Lubis, menyebut fenomena maraknya joki Strava ini tidak lepas dari faktor fear of missing out atau FOMO. Menurutnya, banyak anak muda ingin ikut-ikutan tren gaya hidup sehat meski tidak benar-benar melakukannya sendiri.
“Joki Strava ini kaitannya dengan FOMO, kalau saya bilang. Jadi anak-anak muda ini sebetulnya pengin ikut-ikutan gaya hidup sehat,” ujarnya saat dihubungi pada Senin (14/7).
Validasi Sosial di Balik Jasa Joki Strava
Menurut Rissalwan, fenomena joki Strava bisa dilihat dari dua sisi. Pertama, dari sisi permintaan (demand), banyak anak muda saat ini mencari validasi sosial. Mereka ingin mendapatkan pengakuan dari orang lain bahwa dirinya sudah menjalani gaya hidup sehat, meski sebenarnya dilakukan orang lain.
“Banyak anak-anak muda sekarang yang butuh validasi, pengakuan dari orang bahwa pembuktian dia sudah melakukan aktivitas yang sehat,” jelasnya.
Bahkan, fenomena joki Strava ini menurut Rissalwan hanya salah satu contoh dari kecenderungan besar yang terjadi di media sosial. Ia menyebut bahwa sekitar 80 persen aktivitas di media sosial tidak sesuai dengan realitas di lapangan. Banyak orang dengan sengaja mencitrakan diri demi konten yang tampak menarik.
“Jadi joki Strava ini juga boleh dikategorikan sebagai demi konten tadi,” ujarnya.
Sehat Fisik dan Finansial: Sisi Peluang Bisnis
Di sisi lain, fenomena joki Strava justru jadi peluang cuan bagi sebagian anak muda. Mereka yang menawarkan jasa lari ini biasanya memang individu yang sehat secara fisik dan menyukai olahraga. Dengan melihat tingginya permintaan akan representasi sosial di media sosial, mereka memanfaatkan peluang untuk mendapatkan penghasilan tambahan.
“Jadi dia akhirnya mendapatkan kesehatan bukan hanya secara jasmani tapi juga secara finansial,” tambah Rissalwan.
Salah satu joki Strava, Jason, mengaku bisa meraup hingga Rp 300 ribu setiap kali menerima order lari untuk akun kliennya. Uang hasil jasa lari itu ia gunakan untuk jajan atau memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Tren Olahraga dan Arus Gaya Hidup Sehat
Olahraga lari semakin populer beberapa tahun terakhir, terutama sejak pandemi. Banyak komunitas lari bermunculan, event lari maraton makin ramai, dan konten-konten tentang pola hidup sehat mendominasi media sosial.
Namun, bagi sebagian orang, gaya hidup sehat ini masih sebatas citra yang ingin ditampilkan di media sosial. Dalam konteks ini, jasa joki Strava hadir sebagai “solusi instan” bagi mereka yang ingin terlihat mengikuti tren, meski tidak benar-benar melakukan aktivitasnya sendiri.
Fenomena ini seolah menunjukkan dua sisi mata uang media sosial: di satu sisi mendorong tren positif seperti gaya hidup sehat, tetapi di sisi lain menciptakan tekanan sosial yang membuat orang rela “menyewa” gaya hidup tersebut hanya demi validasi.
Tantangan Generasi Muda di Era Media Sosial
Fenomena joki Strava juga mengingatkan kita pada tantangan besar yang dihadapi generasi muda: tekanan media sosial yang tinggi. Tren FOMO membuat banyak anak muda merasa harus mengikuti arus demi tidak merasa ketinggalan.
Sayangnya, jika tidak dikelola dengan baik, tekanan ini justru membuat sebagian anak muda kehilangan esensi dari gaya hidup sehat yang sebenarnya, yaitu untuk diri sendiri, bukan demi pengakuan.
Sebaliknya, bagi anak muda yang memilih jadi penyedia jasa joki Strava, fenomena ini justru memberi peluang ekonomi baru. Dengan memanfaatkan kesehatan fisik yang mereka miliki, mereka bisa sekaligus menambah penghasilan sambil tetap menjalankan hobi.
Bijak Menghadapi Tren
Fenomena joki Strava menjadi cerminan bagaimana media sosial memengaruhi cara anak muda memandang gaya hidup sehat dan validasi sosial. Bagi sebagian orang, jasa ini mungkin terasa kontroversial, namun bagi yang lain justru jadi peluang bisnis yang kreatif.
Sebagai generasi muda, penting untuk selalu bijak menghadapi tren dan tetap berfokus pada nilai sebenarnya dari aktivitas positif, seperti olahraga dan gaya hidup sehat. Media sosial hanyalah sarana berbagi cerita, bukan satu-satunya tolok ukur nilai diri.