INVERSI.ID – Indonesia hanya menempati peringkat 79 dari 130 negara dalam kemampuan bahasa Inggris, berdasarkan hasil riset terbaru dari English Proficiency Index (EPI). Posisi ini tergolong rendah, bahkan jauh tertinggal dari negara-negara Asia Tenggara lain seperti Singapura yang berada di peringkat 2 dunia, dan Malaysia di peringkat 25.
Fenomena rendahnya kemampuan bahasa Inggris di Indonesia menimbulkan kekhawatiran serius, terutama bagi calon generasi emas Indonesia. Pasalnya, di era globalisasi seperti sekarang, bahasa Inggris menjadi keterampilan wajib untuk bersaing di dunia kerja internasional, pendidikan, dan ekonomi digital.
Ahli pengajaran bahasa Inggris, Adrian Permadi, menegaskan bahwa lemahnya penguasaan bahasa asing menjadi salah satu faktor penghambat pertumbuhan ekonomi dan kualitas tenaga kerja di Indonesia.
“Di era globalisasi, bahasa Inggris adalah gatekeeping skill. Tanpa kemampuan ini, generasi muda sulit bersaing di perusahaan multinasional atau mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi,” kata Adrian dalam sebuah episode Podcast Suara Berkelas bersama Bilal Faranov.
Mengapa Bahasa Inggris Begitu Penting?
Di dunia kerja saat ini, banyak perusahaan besar terutama perusahaan multinasional seperti Big 4 (Deloitte, PwC, KPMG, EY) mewajibkan calon karyawannya mengikuti tes bahasa Inggris dalam proses rekrutmen. Kandidat dengan kemampuan bahasa Inggris yang rendah biasanya memiliki peluang lebih kecil diterima, bahkan jika kemampuan teknisnya baik.
Hal ini juga berpengaruh pada besaran gaji. Karyawan yang mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris umumnya lebih dipercaya untuk menangani klien internasional, proyek global, dan posisi strategis yang tentu saja menawarkan penghasilan lebih tinggi.
Rendahnya kemampuan bahasa Inggris juga berdampak pada akses pendidikan. Banyak program beasiswa ke luar negeri, seperti LPDP, mensyaratkan skor TOEFL atau IELTS tertentu. Tanpa persiapan bahasa Inggris yang baik, peluang emas ini sulit diraih.
Dampak Rendahnya Peringkat Indonesia
Peringkat 79 dari 130 negara jelas menjadi alarm bagi Indonesia. Posisi ini menunjukkan bahwa rata-rata kemampuan berbahasa Inggris masyarakat Indonesia berada di bawah standar internasional. Jika tidak segera diperbaiki, Indonesia berisiko kehilangan daya saing global.
Sementara itu, negara tetangga sudah jauh melangkah. Singapura dan Malaysia, misalnya, sudah berhasil memposisikan diri sebagai pusat bisnis internasional di Asia karena mayoritas tenaga kerjanya fasih berbahasa Inggris. Indonesia pun perlu menyusul jika ingin generasi mudanya benar-benar siap menjadi generasi emas pada 2045.
Strategi Belajar Bahasa Inggris untuk Anak Muda
Menurut Adrian, ada tiga strategi penting yang bisa diterapkan anak muda Indonesia untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris secara otodidak:
1. Ubah Mindset: Hilangkan Rasa Takut
Banyak orang Indonesia merasa malu atau takut salah ketika mencoba berbicara bahasa Inggris. Padahal, proses belajar memang penuh dengan kesalahan. Adrian menyarankan untuk membuang rasa takut ini dan menganggap belajar bahasa Inggris sebagai perjalanan, bukan beban.
2. Praktikkan dalam Kehidupan Sehari-hari
Bahasa adalah keterampilan yang harus digunakan. Jadikan bahasa Inggris bagian dari keseharian—mulai dari menulis jurnal harian, berbicara dengan teman, atau menonton film tanpa subtitle. Semakin sering digunakan, kemampuan berbahasa akan meningkat secara alami.
3. Manfaatkan Teknologi
Kemajuan teknologi mempermudah belajar bahasa Inggris. Aplikasi seperti Duolingo, ELSA Speak, atau Grammarly bisa membantu belajar secara mandiri dan terstruktur. Jika memiliki budget lebih, mengikuti kursus bahasa Inggris juga bisa mempercepat progres.
Saatnya Anak Muda Indonesia Bangkit
Rendahnya peringkat bahasa Inggris Indonesia seharusnya tidak hanya menjadi bahan kekhawatiran, tetapi juga menjadi motivasi bagi generasi muda untuk lebih serius mempelajarinya.
Dengan kemampuan bahasa Inggris yang baik, peluang karier di perusahaan global, akses pendidikan internasional, hingga kesempatan menjadi bagian dari ekonomi digital dunia akan terbuka lebar.
Generasi emas Indonesia 2045 tidak hanya membutuhkan anak muda yang cerdas secara akademik, tetapi juga mampu bersaing di panggung internasional. Bahasa Inggris adalah salah satu kunci untuk membuka pintu tersebut.
Kesimpulan: Bahasa Inggris Bukan Pilihan, Tapi Keharusan
Bahasa Inggris kini bukan lagi keahlian tambahan, melainkan keharusan. Dengan menguasai bahasa internasional ini, anak muda Indonesia bisa meraih mimpi yang lebih tinggi, mendapatkan penghasilan lebih baik, dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa.
Jangan biarkan peringkat rendah Indonesia di EPI menjadi permanen. Saatnya kita buktikan bahwa generasi muda Indonesia bisa bangkit dan berbicara di panggung dunia.***