INVERSI.ID – Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyerukan penghentian eskalasi konflik di Timur Tengah di tengah memanasnya operasi militer antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Ia memperingatkan potensi meluasnya perang yang dapat berdampak global.
Dalam konferensi pers pada Kamis, Guterres menyampaikan kekhawatirannya atas situasi yang semakin tidak terkendali dan berisiko memicu konflik berskala besar.
“Kita berada di ambang perang yang lebih luas yang akan melanda seluruh Timur Tengah dengan dampak dramatis di seluruh dunia… Jika genderang perang terus berbunyi, eskalasi hanya akan memperburuk dampak konflik ini,” kata Guterres dalam konferensi pers, Kamis.
Ia menegaskan pentingnya menghentikan siklus kekerasan yang terus berlanjut.
“Lingkaran kematian dan kehancuran harus dihentikan,” ujar dia, menegaskan.
Guterres juga menekankan perlunya dukungan internasional untuk mendorong penyelesaian konflik melalui jalur damai. Ia kembali menyerukan kepada Amerika Serikat dan Israel agar menghentikan serangan yang telah menimbulkan dampak kemanusiaan serius.
Menurutnya, serangan tersebut telah menyebabkan “penderitaan manusia yang luar biasa” dan menimbulkan “konsekuensi yang menghancurkan.”
Selain itu, ia meminta Iran untuk menahan diri dan tidak memperluas aksi balasan di kawasan Teluk Persia guna mencegah situasi semakin memburuk.
Ketegangan ini bermula ketika pada 28 Februari, Amerika Serikat bersama Israel melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan tersebut dilaporkan menimbulkan kerusakan serta korban dari kalangan sipil.
Sebagai respons, Iran melancarkan serangan ke wilayah Israel dan sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, termasuk di Bahrain, Qatar, Uni Emirat Arab, dan Arab Saudi.
Situasi yang terus memanas ini juga berdampak pada sektor ekonomi global. Blokade di Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak dan gas dari kawasan Teluk, memicu lonjakan harga energi dunia.
Seruan deeskalasi dari PBB diharapkan dapat menjadi momentum bagi semua pihak untuk menahan diri dan membuka ruang dialog demi mencegah krisis yang lebih luas.