INVERSI.ID – Pemerintah China kembali menyerukan penghentian operasi militer yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran di tengah meningkatnya ketegangan kawasan. Seruan ini disampaikan meski Presiden AS Donald Trump mengancam akan memperluas serangan dalam waktu dekat.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menegaskan bahwa pendekatan militer tidak akan menyelesaikan akar persoalan yang terjadi.
“Cara militer tidak menyelesaikan masalah mendasar. Meningkatkan konflik tidak menguntungkan pihak mana pun, sekali lagi kami mendesak pihak-pihak yang berkonflik untuk segera menghentikan operasi militer,” kata Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing, Kamis.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa pihaknya hampir mencapai target militer di Iran dan berencana meningkatkan tekanan terhadap negara tersebut.
“Kami akan menyerang mereka sangat keras dalam dua hingga tiga pekan ke depan. Kami akan membawa mereka kembali ke Zaman Batu, tempat mereka seharusnya berada,” kata Trump dalam pidato tentang Operasi Epic Fury, Rabu (1/4).
Menanggapi situasi tersebut, Mao Ning kembali menekankan pentingnya jalur diplomasi sebagai solusi utama untuk meredakan konflik.
“Penyelesaian masalah adalah melalui dialog dan negosiasi demi mencegah pukulan yang lebih serius terhadap ekonomi dunia dan keamanan energi global,” ungkap Mao Ning.
Ia juga menilai bahwa ketegangan di Selat Hormuz tidak terlepas dari operasi militer yang dilakukan oleh AS dan Israel terhadap Iran.
“Hanya dengan mengakhiri aksi militer dan memulihkan perdamaian dan stabilitas di Teluk, jalur pelayaran internasional dapat dibuka dan aman. Komunitas internasional perlu bekerja sama untuk deeskalasi guna mencegah gejolak regional lebih lanjut yang dapat berdampak pada ekonomi global dan keamanan energi,” tegas Mao Ning.
Menurutnya, Selat Hormuz merupakan jalur strategis bagi perdagangan global, khususnya distribusi energi, sehingga stabilitas kawasan menjadi perhatian dunia.
“Semua mata tertuju pada apakah stabilitas dapat kembali ke Selat Hormuz dan apakah lalu lintas akan segera pulih. Kuncinya terletak pada penghentian aksi militer,” tukas Mao Ning.
Di sisi lain, Trump menyebut bahwa komunikasi dengan Iran masih berlangsung, meskipun ia tetap memberikan peringatan keras apabila tidak tercapai kesepakatan.
“Kami belum menyerang ladang minyak mereka, meski itu target paling mudah, karena itu tak memberi mereka peluang untuk bertahan. Namun, kami bisa menyerangnya dan itu akan hilang,” katanya.
Trump juga menegaskan bahwa Amerika Serikat saat ini hampir tidak lagi bergantung pada jalur distribusi minyak melalui Selat Hormuz, serta mendorong negara lain untuk menjaga keamanan jalur pelayaran tersebut.
Namun, pernyataan tersebut dibantah oleh pihak Iran. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa Teheran tidak pernah mengajukan permintaan gencatan senjata kepada AS.
Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi juga menyebut bahwa komunikasi yang terjadi antara kedua negara bukanlah bentuk negosiasi resmi, melainkan sebatas pertukaran pesan terbatas, baik secara langsung maupun melalui pihak ketiga.
Ketegangan meningkat sejak akhir Februari ketika serangan militer dilancarkan ke sejumlah wilayah di Iran, yang mengakibatkan korban jiwa dalam jumlah besar. Iran kemudian membalas dengan serangan drone dan rudal ke wilayah Israel serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS.
Konflik yang terus memanas ini juga menimbulkan korban di pihak militer Amerika Serikat, dengan puluhan personel terdampak sejak operasi berlangsung.
Situasi ini membuat komunitas internasional terus mendorong upaya deeskalasi guna mencegah dampak yang lebih luas, baik dari sisi keamanan regional maupun stabilitas ekonomi global.