By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Menurut Studi Menyebut Hinaan Lebih Membekas daripada Pujian, Luka Batin Bisa Bertahan Puluhan Tahun
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Menurut Studi Menyebut Hinaan Lebih Membekas daripada Pujian, Luka Batin Bisa Bertahan Puluhan Tahun

Terkini

Menurut Studi Menyebut Hinaan Lebih Membekas daripada Pujian, Luka Batin Bisa Bertahan Puluhan Tahun

Iqbal Prakoso
By
Iqbal Prakoso
9 months ago
Share
5 Min Read
Istimewa
SHARE

Pernahkah kamu merasa lebih terpengaruh oleh satu komentar negatif dibanding sepuluh pujian yang kamu terima? Ternyata, hal itu bukan sekadar perasaan. Menurut studi yang dipublikasikan dalam Journal of Personality and Social Psychology, luka emosional akibat hinaan bisa bertahan hingga 20 tahun, sementara efek pujian hanya bertahan sekitar 30 hari.

Fenomena ini bukan hanya berdampak pada kesehatan mental, tetapi juga memengaruhi cara kita membangun hubungan, mengambil keputusan, dan melihat diri sendiri. Artikel ini akan mengulas secara mendalam temuan ilmiah tersebut, menjelaskan mekanisme otak di baliknya, serta memberikan strategi untuk mengelola dampak psikologis dari kata-kata negatif.

Studi Psikologi: Mengapa Hinaan Lebih Melekat daripada Pujian?

Penelitian yang dilakukan oleh para ahli psikologi menunjukkan bahwa otak manusia memiliki kecenderungan alami untuk lebih memperhatikan dan mengingat pengalaman negatif dibandingkan yang positif. Fenomena ini dikenal sebagai negativity bias.

Saat seseorang menerima hinaan, bagian otak bernama amigdala langsung aktif. Amigdala adalah pusat kendali emosi yang berfungsi mendeteksi ancaman. Aktivasi amigdala memicu hipotalamus untuk melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin, yang membuat tubuh masuk ke mode “fight-or-flight” atau “melawan atau lari”.

Dengan kata lain, otak memproses hinaan seolah setara dengan ancaman fisik. Inilah alasan mengapa satu komentar merendahkan bisa membekas selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun, sementara pujian hanya memberikan efek emosional jangka pendek.

Efek Jangka Panjang dari Hinaan

Menurut studi tersebut, dampak hinaan tidak hanya bersifat emosional, tetapi juga memengaruhi:

  • Memori emosional: Hinaan menciptakan rekaman kuat di otak yang sulit dihapus.
  • Harga diri: Satu komentar negatif bisa menurunkan kepercayaan diri secara drastis.
  • Kesehatan mental: Hinaan berulang dapat memicu gangguan kecemasan, depresi, dan trauma.
  • Hubungan sosial: Orang yang sering dihina cenderung menarik diri dan sulit membangun koneksi yang sehat.

Dalam jangka panjang, luka dari hinaan bisa membentuk pola pikir negatif yang menetap, memengaruhi cara seseorang melihat dunia dan dirinya sendiri.

Baca Juga :

Kuliah Gratis di Kampus Kementerian Pertahanan? Begini Syarat Masuk Unhan 2026
Jadwal Tayang, Sinopsis dan Daftar Pemeran Film Pasar Setan

Mengapa Pujian Cepat Luntur?

Sebaliknya, pujian tidak memicu respons ancaman di otak. Meskipun menyenangkan, pujian tidak menimbulkan aktivasi amigdala yang intens. Efeknya lebih ringan dan tidak menciptakan memori emosional yang kuat.

Studi menunjukkan bahwa pujian hanya memberikan dorongan emosional selama sekitar 30 hari. Setelah itu, efeknya memudar kecuali diperkuat oleh pengalaman positif lainnya.

Hal ini menjelaskan mengapa kita sering merasa tidak cukup dihargai meski mendapat banyak pujian, dan mengapa satu hinaan bisa menghapus semua apresiasi yang pernah kita terima.

Dampak Sosial: Lingkungan yang Tidak Aman Secara Emosional

Dalam konteks sosial, negativity bias bisa menciptakan lingkungan yang tidak sehat. Di sekolah, tempat kerja, atau media sosial, satu komentar negatif bisa merusak suasana dan membuat orang merasa tidak aman secara emosional.

Guru, misalnya, sering menghadapi tekanan dari murid, orang tua, dan kolega. Menurut laporan dari Melintas.id, satu hinaan dari orang tua murid bisa membekas lebih lama dibanding sepuluh pujian dari murid lainnya.

Hal yang sama berlaku di dunia digital. Komentar negatif di media sosial bisa memicu stres, kecemasan, dan bahkan cyberbullying, sementara pujian sering kali dianggap basa-basi dan cepat dilupakan.

Strategi Mengelola Dampak Hinaan

Meski otak kita cenderung menyimpan hinaan lebih lama, ada beberapa cara untuk mengelola dampaknya:

1. Sadari Negativity Bias

Menyadari bahwa otak kita memang lebih fokus pada hal negatif adalah langkah pertama untuk mengatasi dampaknya. Dengan kesadaran ini, kita bisa mulai menyeimbangkan persepsi terhadap pengalaman positif.

2. Perkuat Memori Positif

Catat pujian dan apresiasi yang kamu terima. Simpan pesan-pesan positif, dan baca ulang saat merasa down. Ini membantu memperkuat memori emosional positif.

3. Latih Self-Compassion

Berlatih belas kasih terhadap diri sendiri membantu mengurangi dampak hinaan. Ingat bahwa satu komentar negatif tidak menentukan nilai dirimu.

4. Bangun Lingkungan Aman

Pilih lingkungan sosial yang mendukung dan menghargai. Hindari orang-orang yang suka merendahkan atau menyebar energi negatif.

5. Terapi dan Konseling

Jika luka dari hinaan sudah memengaruhi kesehatan mental, jangan ragu untuk mencari bantuan profesional. Terapi kognitif perilaku (CBT) efektif dalam mengubah pola pikir negatif.

Kata-Kata Bisa Menjadi Luka atau Obat

Studi tentang dampak hinaan dan pujian membuktikan bahwa kata-kata memiliki kekuatan besar. Satu hinaan bisa membekas selama 20 tahun, sementara pujian hanya bertahan 30 hari. Ini bukan sekadar metafora, tetapi fakta ilmiah yang didukung oleh mekanisme otak dan hormon stres.

Sebagai individu dan masyarakat, kita perlu lebih bijak dalam menggunakan kata-kata. Hargai kekuatan pujian, dan berhati-hatilah dalam mengkritik. Karena satu kalimat bisa menjadi luka yang tak terlihat, tapi terasa selamanya.

You Might Also Like

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat
Bola “Meriam” dan Rahasia Banjir Gol di Piala Dunia 2026
Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan
Dramatis! Aljazair Paksa Yordania Angkat Koper Lebih Cepat
Haaland Menggila, Viking Norwegia Meluncur Mulus ke Fase Gugur
TAGGED:Anak Mudagen zHealthlukaPujianremaja
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Karate Antar Pelajar Sibolga 2025 Resmi Digelar Olahraga Jadi Jalan Positif, Karate Antar Pelajar Sibolga 2025 Resmi Digelar
Next Article 5 Kota dengan Penerapan Smart City Terbaik di Dunia Tahun 2025
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

Bahlil Gelontorkan Rp10 Triliun! Ribuan Desa Siap Keluar dari Gelap

Program BPBL Bahlil Terangi 220 Ribu Rumah, Listrik Gratis Tembus Pelosok

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Pildun 2026Terkini

Tak Cuma Mbappe! Trio Maut Prancis Kirim Sinyal Bahaya ke Semua Rival

5 hours ago
Pildun 2026Terkini

Argentina Tanpa Messi? Jawabannya Mulai Terlihat dan Bikin Suporter Was-was

6 hours ago
Pildun 2026Terkini

Belgia Terancam Pulang Lagi, Iran Bikin Kejutan! Grup G Piala Dunia Makin Brutal

1 day ago
Pildun 2026Terkini

Cape Verde Tinggal Selangkah Ukir Sejarah ke Babak Gugur Piala Dunia

1 day ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index