Dunia marketing dan periklanan tengah mengalami transformasi besar-besaran seiring masuknya teknologi kecerdasan buatan (AI) ke dalam strategi bisnis. MMA Impact Indonesia 2025, yang digelar di The Grand Ballroom, Ritz-Carlton Mega Kuningan, Jakarta, menjadi forum penting bagi para pemimpin industri untuk membahas arah baru pemasaran digital di tengah era AI yang disruptif.
Acara ini diinisiasi oleh Marketing + Media Alliance (MMA) Indonesia dan mengusung tema “Powering Marketing for Growth: Act, Accelerate, and Advance.” Forum ini mempertemukan para chairperson, eksekutif C-Level, direktur utama, pemilik bisnis, founder, dan decision-maker dari berbagai sektor untuk berdiskusi, berkolaborasi, dan merumuskan strategi masa depan.
Dalam sesi pembukaan, CEO MMA APAC Rohit Dadwal menyampaikan bahwa AI bukan lagi teknologi masa depan, tetapi sudah menjadi bagian integral dari kehidupan bisnis saat ini. Ia menyebut AI sebagai “pisau bermata dua”—bisa mempercepat pertumbuhan, tetapi juga menimbulkan tantangan etis dan teknis.
Beberapa tantangan utama yang dibahas:
- Privasi dan keamanan data konsumen
- Kredibilitas konten yang dihasilkan AI
- Kesenjangan skill antara marketer tradisional dan digital-native
- Ketergantungan pada algoritma yang bisa bias
Namun, AI juga membuka peluang besar:
- Personalisasi konten secara real-time
- Otomatisasi kampanye iklan dan analitik
- Prediksi perilaku konsumen dengan akurasi tinggi
- Efisiensi biaya dan waktu dalam produksi konten
Forum ini menghadirkan tokoh-tokoh penting seperti:
- Sutanto Hartono – CEO Emtek Media & Vidio
- Axton Salim – Direktur Indofood
- Amalia Sarah Santi – EVP & Global Chief Business Officer ParagonCorp
- Gunnar Beckers – Direktur Marketing HM Sampoerna
- Yongky Susilo – Consumer & Retail Strategist
Mereka berbagi pengalaman tentang bagaimana AI mengubah cara mereka berinteraksi dengan konsumen, membangun brand, dan mengukur efektivitas kampanye.
“Kami tidak lagi bicara tentang iklan yang menjangkau banyak orang, tapi iklan yang relevan untuk setiap individu,” ujar Amalia Sarah Santi.
Salah satu kekuatan MMA Impact Indonesia adalah kemampuannya menghubungkan berbagai sektor. Diskusi lintas industri menunjukkan bahwa tantangan AI tidak bisa diselesaikan secara silo, tetapi membutuhkan kolaborasi antara:
- Media dan publisher untuk distribusi konten yang etis
- Retail dan FMCG untuk memahami perilaku konsumen secara real-time
- Startup teknologi untuk menyediakan solusi AI yang inklusif
- Regulator untuk menetapkan standar dan etika penggunaan AI
Forum ini juga menyoroti perubahan peran para pemimpin perusahaan. CMO dan CEO kini dituntut untuk:
- Memahami teknologi dan data secara mendalam
- Mengintegrasikan AI ke dalam strategi bisnis
- Membangun tim yang adaptif dan agile
- Menjaga nilai-nilai human-centric dalam pemasaran
Menurut Yongky Susilo, “C-Level tidak bisa lagi hanya mengandalkan intuisi. Mereka harus berbicara dengan data, teknologi, dan konsumen secara bersamaan.”
MMA Impact Indonesia 2025 menjadi forum strategis yang tidak hanya membahas teknologi, tetapi juga nilai, etika, dan masa depan industri marketing. Di tengah era AI yang penuh peluang dan tantangan, para pemimpin bisnis dituntut untuk bertindak cepat, beradaptasi, dan berkolaborasi.
Karena pada akhirnya, marketing bukan hanya soal menjual produk, tetapi tentang membangun hubungan yang bermakna dengan konsumen—dan AI, jika digunakan dengan bijak, bisa menjadi alat yang sangat kuat untuk mewujudkannya.