Inversi. Sektor ekonomi kreatif telah menjelma menjadi motor penggerak ekonomi baru yang berbasis inovasi dan talenta. Anggota DPRD Berau menyoroti pentingnya penanaman literasi kewirausahaan dan peningkatan kapasitas sebagai prasyarat fundamental bagi generasi muda agar dapat bertransformasi dari pemilik potensi menjadi pelaku bisnis yang handal dan matang.
Di tengah pergeseran paradigma ekonomi global, sektor ekonomi kreatif yang mengandalkan kreativitas, ide, dan kekayaan intelektual menawarkan peluang tanpa batas bagi generasi muda. Namun, potensi ini tidak dapat terwujud tanpa bekal pengetahuan dan keterampilan yang memadai.
Anggota Komisi III DPRD Berau, Oktavia, mengajak generasi muda di Kabupaten Berau untuk melihat dunia bisnis bukan sebagai lompatan tanpa persiapan, melainkan sebagai sebuah profesi yang memerlukan perencanaan matang dan pengetahuan memadai.
“Kalau mau terjun ke bisnis, anak-anak muda harus memiliki ilmunya terlebih dahulu. Dengan begitu, bisnis yang dijalankan akan lebih maksimal dan minim risiko kegagalan,” ujar Oktavia, Senin 10 November 2025.
Pernyataan ini menempatkan literasi kewirausahaan (entrepreneurship literacy) sebagai modal utama sebelum modal finansial. Ilmu bisnis, mulai dari manajemen risiko, strategi pemasaran digital, hingga manajemen keuangan dasar, adalah perisai yang melindungi bisnis rintisan dari kegagalan dini.
Membangun Ekosistem Dukungan Tiga Pilar
Politisi Partai NasDem ini melihat bahwa pemuda Berau, yang dijuluki Bumi Batiwakkal, memiliki potensi besar dalam dunia bisnis. Namun, ia menyayangkan bahwa potensi tersebut belum sepenuhnya termanfaatkan karena kurangnya dukungan ekosistem yang terstruktur.
Oktavia menekankan bahwa tugas untuk mengoptimalkan potensi ini bukanlah tugas pemuda semata, melainkan tanggung jawab bersama. Ia berharap instansi terkait dapat merangkul dan membimbing generasi muda untuk mengembangkan keterampilan bisnis mereka.
“Saya yakin anak muda Berau bisa menjadi pebisnis yang handal. Namun, mereka butuh dukungan, pelatihan, dan peningkatan kapasitas agar lebih siap menghadapi tantangan,” tambahnya.
Hal ini menggarisbawahi pentingnya ekosistem kewirausahaan yang melibatkan tiga pilar utama:
- Pemuda (Agen Inovasi): Memiliki semangat, ide, dan kemauan belajar.
- Pemerintah/Instansi Terkait (Fasilitator): Menyediakan program pelatihan, pendampingan legalitas, dan akses permodalan.
- Dunia Usaha/Mentor (Akselerator): Menyediakan sharing knowledge dan jaringan bisnis.
Melalui kolaborasi ini, potensi kreatif yang dimiliki oleh pemuda Berau dapat diubah menjadi produk dan layanan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan daya saing.
Kematangan Ekonomi sebagai Visi Jangka Panjang
Oktavia menunjukkan optimisme yang kuat terhadap dampak jangka panjang dari peningkatan kapasitas ini. Ia percaya bahwa dalam beberapa tahun ke depan, akan muncul kematangan ekonomi dari bisnis-bisnis yang dijalankan oleh generasi muda Bumi Batiwakkal.
Kematangan ekonomi tidak hanya diukur dari jumlah keuntungan, tetapi juga dari:
- Keberlanjutan Usaha: Kemampuan bisnis untuk bertahan dan beradaptasi di pasar yang dinamis.
- Dampak Sosial: Penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat sekitar.
- Inovasi: Kemampuan untuk terus menghasilkan produk atau jasa baru yang relevan dengan kebutuhan pasar.
“Dengan potensi yang dimiliki anak muda, ditambah dukungan dari pemerintah dan instansi terkait, saya yakin ekonomi kreatif di Berau akan berkembang pesat,” tutupnya.
Pesan ini adalah seruan inspiratif bagi seluruh generasi muda: bahwa kesuksesan di dunia bisnis adalah sebuah perjalanan yang memerlukan persiapan intelektual dan dukungan kolektif. Dengan memprioritaskan peningkatan skill dan keberanian berinovasi, pemuda Berau memiliki kunci untuk menggerakkan mesin ekonomi kreatif daerah, mengubah potensi lokal menjadi keunggulan nasional.