By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Netizen Geram Oxford University Abaikan Peneliti Indonesia dalam Publikasi Rafflesia Hasseltii
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Netizen Geram Oxford University Abaikan Peneliti Indonesia dalam Publikasi Rafflesia Hasseltii

Terkini

Netizen Geram Oxford University Abaikan Peneliti Indonesia dalam Publikasi Rafflesia Hasseltii

Iqbal Prakoso
By
Iqbal Prakoso
7 months ago
Share
6 Min Read
Oxford University Abaikan Peneliti Indonesia dalam Publikasi Rafflesia Hasseltii. (Foto: X/Chris Thorogood)
Oxford University Abaikan Peneliti Indonesia dalam Publikasi Rafflesia Hasseltii. (Foto: X/Chris Thorogood)
SHARE

Jagat maya Indonesia kembali ramai setelah publik menemukan bahwa Oxford University merilis publikasi ilmiah terkait Rafflesia hasseltii, namun tidak mencantumkan peneliti Indonesia yang selama ini melakukan riset lapangan, konservasi, dan dokumentasi tanaman langka tersebut. Temuan ini membuat netizen heboh dan ramai melontarkan kritik di media sosial.

Rafflesia hasseltii, salah satu bunga raksasa endemik Indonesia, selama ini menjadi objek penelitian botanikal penting. Peneliti Indonesia bekerja bertahun-tahun menelusuri persebaran, memetakan habitat, hingga melakukan konservasi. Namun saat salah satu universitas top dunia merilis publikasi mengenai spesies ini, nama peneliti lokal justru tidak disebut.

Fenomena itu langsung memicu gelombang komentar tajam dari netizen yang menilai tindakan tersebut mencerminkan ketidakadilan akad

Sumber : X/Chris Thorogood

Di X (Twitter), Instagram, hingga TikTok, banyak netizen merasa geram karena kontribusi peneliti lokal justru tidak dihargai. Salah satu netizen menulis:

“Peneliti Indonesia yang susuri hutan, bawa kamera, ambil data berbulan-bulan. Kok malah institusi luar yang dapat panggung? Enggak fair!”

Komentar lain yang ramai dibagikan mengatakan:

“Kalau bicara Rafflesia, itu jelas flora Indonesia. Peneliti lokal punya kontribusi terbesar. Masak nama mereka enggak masuk sama sekali?”

Banyak warganet menyuarakan bahwa kerja lapangan di Indonesia bukan hal mudah. Peneliti lokal harus masuk ke kawasan hutan, menghadapi cuaca ekstrem, risiko hewan liar, serta medan sulit. Data lapangan yang mereka kumpulkan menjadi dasar penelitian ilmiah yang kemudian dipublikasikan dalam jurnal internasional. Karena itu, warganet menilai publikasi yang tak mencantumkan nama peneliti lokal adalah bentuk ketidakadilan.

Salah satu komentar yang viral menyebut:

Baca Juga :

Rekomendasi Perpustakaan di Jakarta dengan Suasana Cozy
Pemeriksaan Richard Lee Ditunda, Polda Metro Jaya Sebut Kondisi Belum Fit

“Bunga itu tumbuh di Indonesia, dijaga sama masyarakat lokal, diteliti sama ilmuwan kita. Masa catatan akademiknya malah dimonetize pihak luar tanpa kredit? Kurang ajar banget.”

Gelombang kritik semakin membesar ketika sejumlah akun akademisi dan pecinta flora menjelaskan bahwa fenomena seperti ini sering disebut colonial science atau kolonialisme akademik. Yaitu ketika institusi besar dari negara maju menggunakan data lapangan dari negara berkembang, tetapi tidak memberikan kredit atau apresiasi yang layak.

Salah satu komentar netizen yang disukai ribuan orang berbunyi:

“Ini contoh paling nyata colonial science. Data dari lapangan kita, peneliti kita, tapi nama yang nongol justru institusi asing. Capek banget lihat kejadian kayak gini terulang.”

Banyak yang menilai bahwa kejadian ini bukan hanya tentang sebuah bunga, tetapi tentang martabat ilmu pengetahuan Indonesia dan perlunya menghormati kontribusi ilmuwan lokal.

Di tengah ramainya komentar, sebagian netizen mulai menyerukan agar Oxford University melakukan koreksi atas publikasi tersebut. Beberapa tagar seperti #CreditForIndonesianResearchers dan #ProtectIndonesianScience muncul di media sosial.

Komentar yang banyak dibagikan:

“Kita enggak anti kolaborasi internasional, tapi jangan hapus nama peneliti lokal. Itu enggak etis. Oxford harus revisi publikasinya.”

Ada pula yang mendorong agar lembaga akademik Indonesia secara resmi menyurati Oxford untuk meminta klarifikasi. Netizen berpendapat bahwa publikasi ilmiah harus mematuhi prinsip-prinsip kejujuran akademik, termasuk soal pencantuman kontributor data.

Seorang pengguna menulis:

“Riset internasional itu wajib transparan. Kalau ambil data dari Indonesia, ya harus akui peneliti lokal. Itu etika paling mendasar dalam dunia ilmiah.”

Sumber : X/Chris Thorogood

Di tengah isu ini, netizen juga banjir memberikan dukungan kepada para peneliti Indonesia yang selama ini bekerja dalam diam dan tidak mendapat eksposur besar. Banyak warganet yang menyoroti betapa kerasnya pekerjaan peneliti lapangan dalam negeri, mulai dari keterbatasan pendanaan hingga minimnya perhatian media.

Salah satu komentar menyentuh hati berbunyi:

“Peneliti lokal kita itu pahlawan. Mereka jaga hutan dan flora kita. Harusnya mereka yang ada di garis depan publikasi, bukan malah dilupakan.”

Ada pula yang menyuarakan agar pemerintah lebih melindungi hak intelektual peneliti Indonesia, terutama dalam riset flora dan fauna endemik.

Sejumlah netizen mengingatkan bahwa pengabaian peneliti lokal oleh institusi riset asing pernah terjadi sebelumnya. Banyak laporan mengenai bagaimana spesies endemik Indonesia dipublikasikan oleh lembaga luar tanpa menyebut peneliti nasional sebagai kolaborator.

Komentar netizen lainnya menegaskan:

“Sudah banyak flora dan fauna Indonesia yang diklaim jadi temuan asing karena data kita diambil tanpa kredit. Sudah saatnya Indonesia punya sistem perlindungan riset yang kuat.”

Hal ini memperkuat argumen bahwa Indonesia perlu memperbaiki tata kelola riset, mekanisme kolaborasi internasional, serta perlindungan hukum bagi kontribusi ilmiah anak bangsa.

Ramainya suara netizen menunjukkan bahwa publik Indonesia semakin sadar akan pentingnya pengakuan akademik dan perlindungan atas kekayaan ilmiah nusantara. Bagi netizen, ini bukan hanya soal bunga Rafflesia hasseltii, tetapi soal bagaimana ilmuwan Indonesia dihargai di mata dunia.

Seperti komentar viral yang merangkum sentimen mayoritas:

“Hargai peneliti kita. Tanpa mereka, tidak akan ada data yang dipakai Oxford. Indonesia berhak atas kredit ilmiah yang jujur.”

Dengan semakin kerasnya suara publik, banyak yang berharap Oxford University memberikan klarifikasi dan memperbaiki publikasinya agar kolaborasi akademik ke depan lebih etis dan adil.

You Might Also Like

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat
Bola “Meriam” dan Rahasia Banjir Gol di Piala Dunia 2026
Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan
Dramatis! Aljazair Paksa Yordania Angkat Koper Lebih Cepat
Haaland Menggila, Viking Norwegia Meluncur Mulus ke Fase Gugur
TAGGED:Oxford UniversityPenelitianRafflesia Hasseltii
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article Jelang Natal 2025 dan Lebaran 2026, Pemerintah Siapkan Cadangan Energi Besar
Next Article Rekrutmen Teroris Lewat Game Online, Ancaman Baru Buat Anak Muda
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

Bahlil Gelontorkan Rp10 Triliun! Ribuan Desa Siap Keluar dari Gelap

Program BPBL Bahlil Terangi 220 Ribu Rumah, Listrik Gratis Tembus Pelosok

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Pildun 2026Terkini

Tak Cuma Mbappe! Trio Maut Prancis Kirim Sinyal Bahaya ke Semua Rival

6 hours ago
Pildun 2026Terkini

Argentina Tanpa Messi? Jawabannya Mulai Terlihat dan Bikin Suporter Was-was

7 hours ago
Pildun 2026Terkini

Belgia Terancam Pulang Lagi, Iran Bikin Kejutan! Grup G Piala Dunia Makin Brutal

1 day ago
Pildun 2026Terkini

Cape Verde Tinggal Selangkah Ukir Sejarah ke Babak Gugur Piala Dunia

1 day ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index