Jagat maya Indonesia kembali ramai setelah publik menemukan bahwa Oxford University merilis publikasi ilmiah terkait Rafflesia hasseltii, namun tidak mencantumkan peneliti Indonesia yang selama ini melakukan riset lapangan, konservasi, dan dokumentasi tanaman langka tersebut. Temuan ini membuat netizen heboh dan ramai melontarkan kritik di media sosial.
Rafflesia hasseltii, salah satu bunga raksasa endemik Indonesia, selama ini menjadi objek penelitian botanikal penting. Peneliti Indonesia bekerja bertahun-tahun menelusuri persebaran, memetakan habitat, hingga melakukan konservasi. Namun saat salah satu universitas top dunia merilis publikasi mengenai spesies ini, nama peneliti lokal justru tidak disebut.
Fenomena itu langsung memicu gelombang komentar tajam dari netizen yang menilai tindakan tersebut mencerminkan ketidakadilan akad
Di X (Twitter), Instagram, hingga TikTok, banyak netizen merasa geram karena kontribusi peneliti lokal justru tidak dihargai. Salah satu netizen menulis:
“Peneliti Indonesia yang susuri hutan, bawa kamera, ambil data berbulan-bulan. Kok malah institusi luar yang dapat panggung? Enggak fair!”
Komentar lain yang ramai dibagikan mengatakan:
“Kalau bicara Rafflesia, itu jelas flora Indonesia. Peneliti lokal punya kontribusi terbesar. Masak nama mereka enggak masuk sama sekali?”
Banyak warganet menyuarakan bahwa kerja lapangan di Indonesia bukan hal mudah. Peneliti lokal harus masuk ke kawasan hutan, menghadapi cuaca ekstrem, risiko hewan liar, serta medan sulit. Data lapangan yang mereka kumpulkan menjadi dasar penelitian ilmiah yang kemudian dipublikasikan dalam jurnal internasional. Karena itu, warganet menilai publikasi yang tak mencantumkan nama peneliti lokal adalah bentuk ketidakadilan.
Salah satu komentar yang viral menyebut:
“Bunga itu tumbuh di Indonesia, dijaga sama masyarakat lokal, diteliti sama ilmuwan kita. Masa catatan akademiknya malah dimonetize pihak luar tanpa kredit? Kurang ajar banget.”
Gelombang kritik semakin membesar ketika sejumlah akun akademisi dan pecinta flora menjelaskan bahwa fenomena seperti ini sering disebut colonial science atau kolonialisme akademik. Yaitu ketika institusi besar dari negara maju menggunakan data lapangan dari negara berkembang, tetapi tidak memberikan kredit atau apresiasi yang layak.
Salah satu komentar netizen yang disukai ribuan orang berbunyi:
“Ini contoh paling nyata colonial science. Data dari lapangan kita, peneliti kita, tapi nama yang nongol justru institusi asing. Capek banget lihat kejadian kayak gini terulang.”
Banyak yang menilai bahwa kejadian ini bukan hanya tentang sebuah bunga, tetapi tentang martabat ilmu pengetahuan Indonesia dan perlunya menghormati kontribusi ilmuwan lokal.
Di tengah ramainya komentar, sebagian netizen mulai menyerukan agar Oxford University melakukan koreksi atas publikasi tersebut. Beberapa tagar seperti #CreditForIndonesianResearchers dan #ProtectIndonesianScience muncul di media sosial.
Komentar yang banyak dibagikan:
“Kita enggak anti kolaborasi internasional, tapi jangan hapus nama peneliti lokal. Itu enggak etis. Oxford harus revisi publikasinya.”
Ada pula yang mendorong agar lembaga akademik Indonesia secara resmi menyurati Oxford untuk meminta klarifikasi. Netizen berpendapat bahwa publikasi ilmiah harus mematuhi prinsip-prinsip kejujuran akademik, termasuk soal pencantuman kontributor data.
Seorang pengguna menulis:
“Riset internasional itu wajib transparan. Kalau ambil data dari Indonesia, ya harus akui peneliti lokal. Itu etika paling mendasar dalam dunia ilmiah.”
Di tengah isu ini, netizen juga banjir memberikan dukungan kepada para peneliti Indonesia yang selama ini bekerja dalam diam dan tidak mendapat eksposur besar. Banyak warganet yang menyoroti betapa kerasnya pekerjaan peneliti lapangan dalam negeri, mulai dari keterbatasan pendanaan hingga minimnya perhatian media.
Salah satu komentar menyentuh hati berbunyi:
“Peneliti lokal kita itu pahlawan. Mereka jaga hutan dan flora kita. Harusnya mereka yang ada di garis depan publikasi, bukan malah dilupakan.”
Ada pula yang menyuarakan agar pemerintah lebih melindungi hak intelektual peneliti Indonesia, terutama dalam riset flora dan fauna endemik.
Sejumlah netizen mengingatkan bahwa pengabaian peneliti lokal oleh institusi riset asing pernah terjadi sebelumnya. Banyak laporan mengenai bagaimana spesies endemik Indonesia dipublikasikan oleh lembaga luar tanpa menyebut peneliti nasional sebagai kolaborator.
Komentar netizen lainnya menegaskan:
“Sudah banyak flora dan fauna Indonesia yang diklaim jadi temuan asing karena data kita diambil tanpa kredit. Sudah saatnya Indonesia punya sistem perlindungan riset yang kuat.”
Hal ini memperkuat argumen bahwa Indonesia perlu memperbaiki tata kelola riset, mekanisme kolaborasi internasional, serta perlindungan hukum bagi kontribusi ilmiah anak bangsa.
Ramainya suara netizen menunjukkan bahwa publik Indonesia semakin sadar akan pentingnya pengakuan akademik dan perlindungan atas kekayaan ilmiah nusantara. Bagi netizen, ini bukan hanya soal bunga Rafflesia hasseltii, tetapi soal bagaimana ilmuwan Indonesia dihargai di mata dunia.
Seperti komentar viral yang merangkum sentimen mayoritas:
“Hargai peneliti kita. Tanpa mereka, tidak akan ada data yang dipakai Oxford. Indonesia berhak atas kredit ilmiah yang jujur.”
Dengan semakin kerasnya suara publik, banyak yang berharap Oxford University memberikan klarifikasi dan memperbaiki publikasinya agar kolaborasi akademik ke depan lebih etis dan adil.