INVERSI.ID – Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengungkap cerita masa lalunya yang unik sekaligus mengundang senyum. Ia mengaku pernah ditawari jimat Semar Mesem oleh guru silatnya saat masih duduk di bangku SMA. Menurutnya, jimat itu dipercaya bisa memikat hati lawan jenis.
Pengakuan ini dibagikan langsung oleh Dedi Mulyadi dalam kanal YouTube pribadinya, KDM Dedi Mulyadi Channel, yang diunggah pada Minggu (29/6).
Jimat dan Cerita Masa Lalu
Dalam video tersebut, Dedi mengundang seorang pria yang sebelumnya sempat menyiram dirinya saat kunjungan ke Bekasi. Ternyata, penyiraman itu bukan tindakan agresif, melainkan bentuk permintaan tolong karena ada anak kecil yang terjepit.
Saat diperiksa, pria itu kedapatan membawa jimat Semar Mesem dan bulu menjangan dalam tasnya. Hal ini membuat Dedi penasaran dan mulai berdialog soal fungsi serta kepercayaan terhadap jimat tersebut.
“Isim Semar dan bulu menjangan. Dari guru di Cirebon,” jawab pria tersebut.
Semar Mesem: Antara Tradisi dan Usaha
Jimat tersebut diyakini pria itu sebagai sarana untuk mendukung usaha yang dijalaninya. Ia mengaku lebih sering mendapat pekerjaan berkat “ikhtiar” lewat jimat itu.
“Kalau Semar-nya cemberut ya gak dapat proyek,” candanya.
Mendengar hal itu, Dedi Mulyadi tersenyum dan mengingat kembali masa lalunya.
“Ini mah saya waktu SMA. Ketemu guru silat, katanya biar laku sama perempuan,” ungkap Dedi sambil tertawa.
Meski mengisahkan masa lalu dengan ringan, Dedi menegaskan bahwa saat ini ia tidak lagi menggunakan jimat tersebut, seiring dengan berkembangnya pandangan hidup dan spiritualitasnya.
Refleksi Budaya Lokal dan Kepercayaan
Kisah ini menjadi salah satu refleksi bagaimana tradisi lokal seperti jimat masih melekat di kalangan masyarakat sebagai bagian dari ikhtiar atau kepercayaan. Meskipun tidak semua orang mempercayainya, praktik semacam ini tetap eksis dan menjadi warna dalam kehidupan sosial budaya Indonesia.
Melalui cerita ringan ini, Dedi Mulyadi kembali menunjukkan sisi humanis dan dekatnya dengan nilai-nilai tradisional yang berkembang di masyarakat Jawa Barat.***