INVERSI.ID – Mandiri Sekuritas mengungkap kekhawatiran terhadap rendahnya partisipasi masyarakat Indonesia dalam pasar modal. Fenomena ini dianggap mengkhawatirkan karena kini popularitas pasar modal kalah saing dibandingkan dengan maraknya judi online (judol), terutama di kalangan generasi muda.
Menurut Head of Literacy & Education Mandiri Sekuritas, Rina Marina, hingga saat ini hanya sekitar 12 juta masyarakat Indonesia yang memiliki Rekening Dana Nasabah (RDN). Padahal, jumlah penduduk Indonesia mencapai lebih dari 284 juta jiwa.
“RDN ini adalah produk utama yang harus kita kenalkan ke masyarakat. Sayangnya, kepemilikannya masih sangat minim. Ini menjadi tantangan kolektif kita semua,” ujar Rina dalam kegiatan edukasi di Bursa Efek Indonesia, Selasa (6/5).
Judi Online Lebih Menarik? Alarm Bahaya bagi Ekosistem Investasi
Rina mengungkapkan bahwa rendahnya literasi keuangan menjadi tantangan utama dalam memperluas cakupan pasar modal. Namun, tantangan ini kini semakin kompleks karena masifnya peredaran robot trading ilegal, teknologi blockchain yang belum teregulasi, serta dominasi judi online.
“Fenomena judol luar biasa. Data menyebutkan ada sekitar 8 juta anak muda yang terlibat. Ini jauh lebih masif dibandingkan pasar modal yang legal dan teregulasi,” tegasnya.
Menurutnya, situasi ini menjadi sinyal bahaya bagi pertumbuhan investasi yang sehat dan berkelanjutan di Indonesia. Banyak anak muda lebih tergoda pada iming-iming keuntungan cepat dari judol tanpa memahami risiko dan hukum yang menyertainya.
Edukasi dan Kesadaran Finansial Jadi Kunci
Rina menekankan pentingnya kesadaran mengelola keuangan secara bijak, termasuk memahami antara kebutuhan dan keinginan dalam konteks keuangan pribadi.
“Financial freedom itu bisa dicapai, tapi kita harus paham kebutuhan kita. Perlu enggak ganti iPhone tiap dua tahun? Itu harus kita tanyakan ke diri sendiri,” ujarnya.***