JAKARTA – Konflik yang memanas di Timur Tengah ternyata tidak hanya mengguncang pasar energi global. Dampaknya kini merembet ke sektor yang tak disangka, industri plastik. Dalam beberapa pekan terakhir, harga plastik di Indonesia melonjak tajam hingga membuat pelaku industri dan pedagang kecil sama-sama kelimpungan.
Lonjakan ini terjadi karena terganggunya pasokan bahan baku petrokimia dunia yang sebagian besar berasal dari kawasan Timur Tengah. Ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran serta negara-negara Barat memicu gangguan distribusi energi dan bahan baku industri plastik global.
Harga berbagai produk plastik pun langsung terdongkrak di pasar domestik. Seorang pedagang plastik di kawasan Pejaten, Jakarta Selatan, mengaku kenaikan harga sudah terasa sejak menjelang Idulfitri.
“Plastik naik Rp5 ribu dari Rp10.000 ke Rp15.000, yang jumbo dari Rp25.000 ke Rp50.000. Styrofoam dari Rp35.000 ke Rp55.000, gelas plastik dari Rp17.000 jadi Rp23.000,” kata Agus, pedagang toko kelontong tersebut.
Kenaikan harga bahan baku plastik turut memukul sektor industri yang sangat bergantung pada kemasan plastik, seperti industri makanan dan minuman.
Ketua Umum Gabungan Produsen Makanan dan Minuman Indonesia (Gapmmi) Adhi S. Lukman menyebut lonjakan harga kemasan sudah mencapai level yang cukup mengkhawatirkan. “Kenaikan harga kemasan plastik sudah mencapai sekitar 60 persen,” ujar Adhi di Jakarta, Senin (6/4/2026).
Ia menjelaskan bahwa kenaikan tersebut dipicu oleh terganggunya produksi bahan baku plastik di Timur Tengah. Beberapa produk resin utama seperti polyethylene (PE) dan polypropylene (PP) dilaporkan mengalami penurunan pasokan hingga sekitar 30 persen dari kapasitas normal. Gangguan ini membuat biaya produksi industri hilir ikut melonjak.
Di tingkat global, konflik Timur Tengah memang memicu gangguan besar pada rantai pasok petrokimia. Harga berbagai plastik seperti polyethylene dan polypropylene melonjak seiring naiknya harga minyak mentah dan terbatasnya pasokan bahan baku.
Bahkan di sejumlah negara Asia, harga produk plastik sehari-hari seperti wadah, gelas, hingga kemasan makanan dilaporkan naik 10–20 persen akibat mahalnya bahan baku.
Hal ini tidak lepas dari fakta bahwa banyak industri plastik global sangat bergantung pada bahan baku turunan minyak bumi seperti nafta,yang sebagian besar diproduksi di kawasan Timur Tengah. Ketika konflik mengganggu produksi dan jalur distribusi energi, termasuk rute penting seperti Selat Hormuz, pasokan bahan baku plastik langsung tersendat dan harga pun melonjak.
Industri Dunia Ikut Terguncang
Krisis plastik ini bahkan mengubah peta industri global. Di Amerika Serikat misalnya, produsen plastik justru menikmati lonjakan permintaan karena terganggunya produksi di Timur Tengah dan wilayah lain.
Sebaliknya, banyak perusahaan manufaktur di Asia dan Eropa harus menghadapi biaya produksi yang meningkat akibat mahalnya bahan baku plastik. Analis menilai kondisi ini menunjukkan betapa erat hubungan antara konflik geopolitik dan rantai pasok industri global.
Karena plastik digunakan hampir di semua sektor—mulai dari kemasan makanan, otomotif, elektronik, hingga konstruksi—kenaikan harga bahan baku ini berpotensi memicu efek domino di berbagai industri.
Jika konflik di Timur Tengah terus berlanjut, pelaku usaha memperkirakan harga plastik dan produk turunannya masih akan tetap tinggi dalam waktu dekat. Bagi pelaku industri di dalam negeri, kondisi ini menjadi pengingat bahwa ketergantungan pada bahan baku impor masih sangat besar.
Sementara bagi pedagang kecil, lonjakan harga plastik kini terasa seperti pukulan tambahan di tengah tekanan biaya usaha yang terus meningkat.