INVERSI.ID – Investasi anak muda saat ini sedang menjadi tren besar di Indonesia. Banyak generasi muda yang mulai melirik berbagai instrumen keuangan seperti saham, reksa dana, hingga kripto dengan harapan bisa mendapatkan keuntungan besar dalam waktu singkat. Namun, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memberikan pesan penting agar anak muda tidak sekadar ikut-ikutan atau terjebak dalam fenomena fear of missing out (FOMO).
Menurut Purbaya, investasi anak muda seharusnya didasarkan pada pemahaman yang matang, bukan sekadar ikut tren teman atau euforia sesaat. “Jadi kalau mau berinvestasi ya, di instrumen apapun, pelajari instrumen itu apa. Jangan ikut-ikutan orang, jangan FOMO. Pelajari instrumennya, mereka pasti berhasil,” ujarnya, dikutip dari Antara, Rabu (17/9/2025).
Ia menekankan bahwa investasi anak muda akan berhasil jika calon investor terlebih dahulu memahami risiko, mekanisme, dan potensi dari instrumen yang dipilih. Dengan begitu, keputusan finansial bisa lebih bijak dan tidak menimbulkan kerugian besar di masa depan.
Pentingnya Literasi Keuangan Sejak Muda
Fenomena investasi anak muda semakin meningkat seiring berkembangnya teknologi digital. Aplikasi investasi yang mudah diakses membuat siapa saja bisa membeli saham, emas, atau bahkan aset digital hanya dengan ponsel. Namun, Purbaya mengingatkan bahwa kemudahan tersebut justru harus dibarengi dengan literasi keuangan yang memadai.
Tanpa pemahaman, anak muda berisiko salah memilih produk investasi, terjebak skema investasi bodong, atau mengalami kerugian karena keputusan emosional.
“Kalau enggak ngerti, bisa salah langkah. Yang penting belajar dulu, jangan terburu-buru,” tegasnya.
Investasi Anak Muda dan Kebebasan Finansial
Salah satu tujuan utama investasi anak muda adalah mencapai kebebasan finansial lebih cepat. Banyak generasi milenial dan Gen Z yang bercita-cita bisa pensiun dini, traveling keliling dunia, atau memiliki bisnis sendiri dengan modal dari hasil investasi.
Namun, Menkeu Purbaya menekankan bahwa jalan menuju kebebasan finansial tidak instan. Butuh kesabaran, perencanaan yang matang, dan disiplin dalam mengelola keuangan.
“Investasi bukan soal cepat kaya, tapi soal konsistensi. Kalau sabar dan disiplin, hasilnya pasti kelihatan,” katanya.
Perempuan dan Kemandirian Finansial
Dalam pesannya, Purbaya juga menyinggung soal kebiasaan belanja, khususnya bagi perempuan. Ia tidak melarang aktivitas belanja, bahkan untuk barang-barang mahal, asalkan sesuai kemampuan finansial.
“Belanja enggak apa-apa, belanja mau yang mahal, mau yang murah, tapi sesuaikan dengan kantong anda sendiri. Jangan ngutang,” ujar Purbaya.
Pesan ini sejalan dengan pentingnya kemandirian finansial bagi perempuan. Dengan memiliki perencanaan keuangan yang sehat dan kemampuan berinvestasi, perempuan bisa lebih mandiri secara ekonomi dan tidak bergantung pada pihak lain.
Kebijakan Fiskal ala Purbaya
Selain memberikan pesan keuangan kepada anak muda, Menkeu Purbaya juga menanggapi perbandingan gaya kebijakan fiskalnya dengan pendahulunya, Sri Mulyani. Dalam perumpamaan sepak bola, kebijakan Sri Mulyani sering disebut lebih defensif, sementara Purbaya dianggap lebih menyerang.
Namun, Purbaya menegaskan bahwa kebijakan yang diambilnya tetap berdasarkan prinsip fiskal yang wajar.
“Saya enggak tahu, yang saya tahu beginilah cara menjalankan fiscal policy yang baik. Saya enggak pernah main bola juga, enggak jago,” katanya berseloroh.
Ia menambahkan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang sudah didesain memang seharusnya digunakan secara optimal. “Ketika anda punya, anda sudah anggarkan, habisin. Kalau enggak berani habisin, jangan didesain, jangan direncanakan, itu aja,” jelasnya.
Tantangan Investasi Anak Muda di Era Digital
Meski peluang investasi terbuka lebar, anak muda tetap menghadapi berbagai tantangan. Salah satunya adalah derasnya arus informasi di media sosial yang sering menimbulkan hype atau tren sesaat. Misalnya, ketika banyak orang memamerkan keuntungan dari saham tertentu atau aset kripto, tidak sedikit anak muda yang tergoda ikut membeli tanpa memahami risikonya.
Selain itu, masih banyak generasi muda yang memiliki mindset “instan” dalam berinvestasi. Mereka berharap bisa cepat kaya dalam hitungan bulan, padahal investasi pada dasarnya adalah proses jangka panjang.
Tips Investasi Bijak untuk Anak Muda
Berangkat dari pesan Menkeu Purbaya, berikut beberapa tips sederhana agar investasi anak muda bisa bijak:
- Belajar dulu sebelum membeli – pahami instrumen investasi yang dipilih, baik saham, obligasi, emas, atau reksa dana.
- Hindari FOMO – jangan membeli hanya karena orang lain ramai membicarakannya.
- Mulai dari nominal kecil – jangan memaksakan diri, mulailah dari jumlah yang sesuai kemampuan.
- Diversifikasi investasi – jangan taruh semua uang di satu instrumen, bagi ke beberapa aset.
- Jangan berhutang untuk investasi – gunakan uang dingin, bukan dana untuk kebutuhan harian.
Anak Muda, Saatnya Melek Keuangan
Pesan Purbaya bisa menjadi pengingat penting bagi generasi muda Indonesia bahwa investasi bukan sekadar tren, melainkan bagian dari perencanaan hidup. Dengan literasi keuangan yang baik, anak muda bisa menghindari jebakan FOMO, mengelola keuangan dengan sehat, dan menyiapkan masa depan yang lebih cerah.
Investasi bukan hanya soal uang, tetapi juga soal pola pikir. Anak muda yang mampu mengatur keuangan sejak dini akan lebih siap menghadapi tantangan hidup, baik secara pribadi maupun profesional.