Halo bro and sis, ada info menarik nih dari daerah Malang, 11 Mei 2025! Hujan gerimis tak menyurutkan sorak-sorai Aula Graha Cakra SMKN 1 Malang.
Nama Rizky Pratama (17) baru saja diumumkan sebagai Juara 1 Lomba Agroinovasi Nasional 2025 yang digelar Balitbang Kementerian Pertanian.
Di balik sorakan tepuk‑tangan itu terselip kisah sederhana: cucu petani yang bosan melihat air terbuang sia‑sia di pematang.
Ide Lahir di Musim Kemarau
Tiga tahun lalu, Rizky menemani kakeknya di sawah Desa Sumberjaya. Pompa diesel menyala seharian, tapi separuh air meresap sia‑sia.
“Kakek bilang, ‘Seandainya air bisa keluar pas tanaman butuh saja’,” kenang Rizky.
Kalimat itu memicu riset kecil‑kecilan: dia bongkar pompa bekas, menelusuri forum Arduino, lalu melakukan uji coba sensor kelembapan di pot cabai belakang rumah.
Meracik ‘Smart‑Drip 2.0’
Prototipe yang ia lombakan—dijuluki Smart‑Drip 2.0—terdiri atas:
- Sensor tanah DHT 11 & kapasitor kelembapan tertanam seperempat meter di bawah permukaan.
- NodeMCU ESP 32 yang mengirim data ke ponsel petani via aplikasi Telegram bot.
- Solenoid valve bertenaga panel surya mini hanya membuka saat kadar air < 30 % dan menutup otomatis bila hujan terdeteksi oleh rain‑sensor.
Hasil uji lapangan di lahan seluas 1 hektare milik kelompok tani setempat menunjukkan penghematan air 38–41 % dan kenaikan produktivitas padi 12 %. “Nilai itu yang bikin juri kagum,” ujar Dr. Widodo, ketua panel lomba.
Kolaborasi Tanpa Modal Besar
Menariknya, biaya riset hanya Rp 1,8 juta didanai patungan teman sekelas, ditambah donatur alumni. “Kami lebih kaya ide daripada dana, jadi kami manfaatkan barang bekas,” kata Rizky.
Mentor sekolah, Pak Anjar, melatih presentasi supaya konsep teknis terdengar ‘ngapak’ bagi petani, bukan cuma insinyur.
Saat nama Rizky diumumkan, ia langsung video‑call kakeknya. “Di layar HP kecil itu, aku lihat air mata beliau. Aku janji alat ini bakal dipakai luas,” tuturnya sambil tersenyum tipis.
Balitbangtan memberi lisensi inkubasi start‑up dan akan memfasilitasi 50 unit pilot project di Malang Raya mulai September 2025.
Langkah Selanjutnya: ASEAN Youth Agri‑Tech Expo
Rizky diundang mewakili Indonesia ke ASEAN Youth Agri Tech Expo di Kuala Lumpur, November mendatang. Targetnya: menyempurnakan algoritma agar valve bisa belajar pola cuaca via machine learning sederhana.
“Gue mau buktiin petani muda bisa ‘ngoding’ dan ‘nyangkul’ sekaligus,” tegasnya.
“Teknologi harus menyelesaikan masalah paling dekat dulu,” kata Rizky saat ditanya tips sukses. Ia menekankan pentingnya trial‑error: “Gagal itu riset murah asal dicatat detail.”
Kata‑kata itu mengakhiri sesi wawancara, memantik decak kagum adik kelas yang sudah berkerumun minta selfie.