By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index
inversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Reading: Prabowo Kebut Penyitaan Uang Korupsi Triliunan untuk Sekolah, Nelayan, LPDP hingga Utang Whoosh
Share
Font ResizerAa
inversiidinversiid
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Search
  • Terkini
  • Politik
  • Ekonomi
  • OLAHRAGA Logo
  • Pendidikan
  • Logo MBG
  • Pildun 2026
Have an existing account? Sign In
Follow US
© 2026 inversi.id - Part of Inversi Media. All Rights Reserved.

Home » Prabowo Kebut Penyitaan Uang Korupsi Triliunan untuk Sekolah, Nelayan, LPDP hingga Utang Whoosh

Terkini

Prabowo Kebut Penyitaan Uang Korupsi Triliunan untuk Sekolah, Nelayan, LPDP hingga Utang Whoosh

Dede isharuddin
By
Dede isharuddin
7 months ago
Share
4 Min Read
Presiden Prabowo Subianto, saat menyaksikan penyerahan uang sitaan korupsi CPO di Kejaksaan Agung, Jakarta, 20 Okober 2025
SHARE

JAKARTA
Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kembali mengirim sinyal keras, uang negara hasil rampasan koruptor tak boleh lagi tidur di brankas negara. Usai Kejaksaan Agung menyerahkan Rp 13,2 triliun, hasil penyitaan kasus korupsi ekspor CPO, Prabowo langsung menetapkan arah penggunaan yang agresif dan strategis—mulai dari renovasi sekolah, pembangunan kampung nelayan, beasiswa LPDP, hingga pembayaran utang Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh.

Dalam pidatonya di Kejaksaan Agung (20/10/2025), Prabowo menyebut uang rampasan korupsi CPO, cukup untuk memperbaiki lebih dari 8.000 sekolah di Indonesia. Angka ini memang spektakuler, mengingat kondisi sekolah yang rusak parah masih tersebar di seluruh provinsi—mulai dari ruang kelas roboh, gedung tanpa sanitasi, hingga fasilitas belajar yang tidak layak.

Tak hanya itu, Prabowo menargetkan pembangunan 600 kampung nelayan modern, bagian dari total proyek 1.100 desa nelayan hingga akhir 2026, dengan tiap kampung mendapat anggaran rata-rata Rp 22 miliar. Program ini, jika dieksekusi tanpa celah korupsi, berpotensi menyasar salah satu kelompok paling termarginalkan, nelayan kecil, yang selama ini hidup dalam bayang-bayang fluktuasi harga ikan, BBM mahal, cuaca ekstrem, dan infrastruktur minim.

Namun sejumlah ekonom menilai, uang sitaan korupsi semestinya diperlakukan sebagai pendapatan non-reguler, sehingga penggunaan yang bersifat jangka panjang harus dipikirkan dengan hati-hati. “Sumber dana yang tidak stabil tidak boleh digunakan untuk program permanen,” ujar Ajib Hamdani, analis kebijakan publik di Jakarta, Selasa (18/11/2025). “Kalau pemerintah ingin revitalisasi sekolah berjalan berkelanjutan, seharusnya didukung dana rutin APBN, bukan hanya mengandalkan uang sitaan yang sifatnya fluktuatif.”

Prabowo juga secara terbuka meminta sebagian dana sitaan korupsi dialokasikan untuk menambah cadangan beasiswa LPDP, salah satu instrumen pendidikan paling prestisius yang dimiliki negara. Dengan kompetisi global yang makin tajam, peningkatan kapasitas SDM memang sangat krusial. Namun, kembali muncul pertanyaan fundamental, apakah penggunaan uang sitaan untuk LPDP tepat secara fiskal? Program beasiswa adalah program jangka panjang, membutuhkan kestabilan pendanaan, prediktabilitas, dan perencanaan multi-tahun.

Di sisi lain, keputusan menggunakan uang sitaan korupsi untuk membayar utang proyek KCJB/Whoosh memantik polemik tersendiri. Dalam peresmian Stasiun Tanah Abang (4/11/2025), Prabowo menegaskan pemerintah “punya uang” untuk membayar utang kereta cepat, dan tidak akan memberi kesempatan koruptor merampok negara.

Namun beberapa pengamat mempertanyakan transparansi struktur utang Whoosh, mulai dari komposisi hibah, pinjaman luar negeri, hingga porsi APBN. Penggunaan dana sitaan untuk menutup utang proyek strategis dinilai sebagian pihak sebagai langkah pragmatis, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran akan preseden soal proyek megaproyek lain yang bisa juga diselamatkan dengan uang sitaan.

Dalam peluncuran program Digitalisasi Pembelajaran di Bekasi (17/11/2025), Prabowo kembali menegaskan komitmennya, yakni setiap kelas di Indonesia akan dipasang smartboard atau Panel Interaktif Digital (PID).

Namun, digitalisasi pendidikan merupakan proyek mahal dan rumit. Banyak kasus menunjukkan smartboard di sekolah rusak tanpa teknisi, dipakai tidak optimal, atau hanya menjadi formalitas. Jika eksekusi pengadaan tidak diawasi ketat, program ini berpotensi menjadi lahan empuk korupsi baru, ironi pahit dari upaya menggunakan uang rampasan koruptor.

Baca Juga :

Ramalan Zodiak Hari Ini: Siapa yang Dapat Kejutan Cinta Hari Ini?
Daftar RUU Provinsi Jadi Undang-undang yang Disetujui Paripurna DPR

Tak ada yang menyangkal bahwa Prabowo sedang mengirim pesan kuat, bahw koruptor tidak hanya dipenjara, tapi hartanya disedot untuk rakyat. Secara politis, ini adalah langkah populis yang sangat efektif; secara kebijakan, ini dapat menjadi terobosan besar. Tetapi tanpa pengawasan publik, audit independen, dan keterbukaan data penggunaan dana, kebijakan ini bisa berubah menjadi jebakan politik yang hanya memperbesar anggaran tanpa memperbaiki sistem.

Kini pertanyaan besarnya. Jika perintah Presiden dijalankan, siapa yang akan mengawasi penyalurannya? Bagaimana mekanisme anti-korupsi di proyek yang dibiayai uang sitaan?Apakah laporan penggunaan dana dibuka ke publik? Dan yang paling penting, apakah kebijakan ini menyasar akar masalah tata kelola?

Jika pertanyaan-pertanyaan itu tidak dijawab dengan serius, maka uang sitaan yang seharusnya menebus dosa koruptor, bisa saja kembali mengalir ke lubang kebocoran yang sama.

You Might Also Like

Alarm Baru Ekonomi! 55 Ribu Buruh Terancam PHK, Pemerintah Diminta Bergerak Cepat
Bola “Meriam” dan Rahasia Banjir Gol di Piala Dunia 2026
Alhamdulillah, Pabrik Baterai Raksasa RI Siap Diresmikan
Dramatis! Aljazair Paksa Yordania Angkat Koper Lebih Cepat
Haaland Menggila, Viking Norwegia Meluncur Mulus ke Fase Gugur
TAGGED:koruptorPresiden Prabowo SubiantoRp 13 trilyun CPOuang korupsi
Share This Article
Facebook Email Print
Share
Previous Article KOPLING (Koplo Keliling) 2025 Harga Tiket Resmi KOPLING 2025 Dirilis, Siap Goyang di Pakansari
Next Article Bobibos (Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos) Kandungan BBM Alternatif Bobibos dan Potensinya untuk Indonesia
Leave a Comment

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


- Advertisement -
Ad image

EKONOMI POLITIK

Trauma Pemadaman Listrik Terulang, Bahlil Bentuk Tim Khusus Awasi Batu Bara PLN

Listrik Nasional Sempat Kacau, Desakan Dirut PLN Mundur Menguat

Bank Dunia Bongkar Fakta! 20 Orang Kaya RI Serakah Ikut Nikmati Pertalite

Bahlil Gelontorkan Rp10 Triliun! Ribuan Desa Siap Keluar dari Gelap

Program BPBL Bahlil Terangi 220 Ribu Rumah, Listrik Gratis Tembus Pelosok

- Advertisement -
Ad imageAd image
[Ruby_E_Template id="102804"]

Berita Terkait

Pildun 2026Terkini

Tak Cuma Mbappe! Trio Maut Prancis Kirim Sinyal Bahaya ke Semua Rival

9 hours ago
Pildun 2026Terkini

Argentina Tanpa Messi? Jawabannya Mulai Terlihat dan Bikin Suporter Was-was

10 hours ago
Pildun 2026Terkini

Belgia Terancam Pulang Lagi, Iran Bikin Kejutan! Grup G Piala Dunia Makin Brutal

1 day ago
Pildun 2026Terkini

Cape Verde Tinggal Selangkah Ukir Sejarah ke Babak Gugur Piala Dunia

1 day ago
inversiidinversiid
Follow US
© 2026 inversi.id - All Rights Reserved.
  • About
  • Redaksi
  • Pedoman Siber
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • General Terms of Service
  • Index