INVERSI.ID – Di tengah pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mendorong generasi muda untuk tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga penggerak inovasi digital. Salah satu profesi yang mulai dilirik adalah Prompt Engineer.
Meski terdengar teknis, profesi ini terbuka untuk siapa saja, bahkan yang tidak memiliki latar belakang di bidang pemrograman.
“Jangan hanya pakai AI untuk prompt sederhana seperti ‘tolong buatkan ini atau itu’. Enggak cukup sampai situ,” tegas Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Komdigi, Bonifasius Wahyu Pudjianto dalam acara edukasi AI di Yogyakarta, Sabtu (28/7), seperti dikutip dari Antara.
Apa Itu Prompt Engineer?
Prompt engineer adalah orang yang ahli dalam menyusun perintah atau pertanyaan (prompt) kepada sistem AI agar menghasilkan jawaban yang relevan, akurat, dan sesuai tujuan. Profesi ini menjadi kunci penting dalam mengoptimalkan penggunaan tools AI generatif seperti ChatGPT, Midjourney, dan lainnya.
“Ini profesi multidisiplin. Siapa saja bisa belajar, yang penting tahu cara menyusun prompt dengan benar,” kata Bonifasius.
Tak Harus Jago Coding, Siapapun Bisa Mulai dari Nol
Bonifasius menjelaskan, dunia AI terbagi menjadi dua jalur besar, developer (pengembang) dan user (pengguna). Menurutnya, menjadi prompt engineer tak mengharuskan seseorang mahir coding.
“Kalau memang suka coding dan pengembangan sistem, bisa jadi developer. Tapi sebagai user, kita pun bisa jadi prompt engineer yang hebat,” tambahnya.
AI Adalah Senjata, Bukan Ancaman
Bonifasius juga menekankan bahwa AI bukanlah musuh, melainkan alat baru yang bisa mendongkrak kreativitas dan produktivitas. Ia mencontohkan penggunaan AI dalam pembuatan film dokumenter tentang Gajah Mada dan Kerajaan Majapahit yang sepenuhnya diciptakan dengan teknologi AI.
Film tersebut bahkan meraih penghargaan Best AI Documentary dalam ajang AI Film Awards Cannes 2025.
“AI bisa bikin gerak wajah, tangan, bahkan detail-detail kecil dengan sangat presisi. Coba cek di YouTube, meski belum tayang penuh, hasilnya luar biasa,” tuturnya.
600 Ribu Talenta Digital Dibutuhkan Tiap Tahun
Pemerintah menargetkan mencetak 9 juta talenta digital hingga 2030. Namun, untuk memenuhi kebutuhan industri yang mencapai 600 ribu orang setiap tahun, Bonifasius menegaskan bahwa jalur pendidikan formal saja tidak cukup.
“Itu sebabnya kita dorong anak muda untuk belajar dari mana saja. Termasuk dengan mengenal profesi-profesi baru seperti prompt engineer,” jelasnya.
Di era digital ini, melek AI bukan sekadar tren, tapi kebutuhan. Profesi seperti prompt engineer menjadi jembatan penting antara kreativitas manusia dan kecanggihan mesin. Tak perlu gelar teknik atau coding tingkat tinggi, cukup keberanian untuk belajar dan mencoba.***