INVERSI.ID – Peristiwa ledakan yang terjadi di SMAN 72 Jakarta menyisakan trauma bagi sejumlah siswa dan guru. Kondisi tersebut membuat banyak pihak menyoroti pentingnya penanganan psikologis pascakejadian. Salah satu pakar yang menekankan hal itu adalah Psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Novi Poespita Candra, S.Psi., M.Si., Ph.D.
Novi menilai, sekolah memiliki peran besar dalam membantu proses pemulihan emosional peserta didik. Ia menekankan pentingnya menghadirkan ruang yang aman dan menenangkan di lingkungan sekolah, khususnya bagi siswa yang mengalami kecemasan atau trauma akibat insiden seperti yang terjadi di SMAN 72.
“Anak-anak diminta bermeditasi sejenak, diam tanpa aktivitas tertentu. Ini membantu menenangkan diri dan menurunkan kecemasan,” ujar Novi ketika dihubungi dari Jakarta, Selasa (11/11).
Menurut Novi, kegiatan sederhana seperti memberikan waktu tenang atau “Ruang Jeda” bagi siswa dan guru dapat menjadi langkah awal untuk membantu mereka menata kembali emosi dan pikiran. Waktu jeda itu bisa dilakukan sebelum pelajaran dimulai, setelah jam istirahat, atau menjelang kepulangan sekolah.
Aktivitas Sosial-Emosional untuk Redakan Dampak Psikologis
Dalam penjelasannya, Novi menguraikan bahwa tanda-tanda trauma pada anak bisa muncul dalam berbagai bentuk. Ada siswa yang menjadi mudah takut, menarik diri dari lingkungan sosial, atau bahkan menunjukkan perilaku agresif. Namun, di sisi lain, ada pula yang justru terlihat terlalu ceria sebagai bentuk upaya menutupi luka batin.
Untuk itu, ia mendorong sekolah agar tidak hanya fokus pada pemulihan akademik, melainkan juga memperhatikan kesehatan mental peserta didik. Salah satu pendekatan yang disarankan adalah penerapan kegiatan Social Emotional Learning (SEL) yang terintegrasi dalam aktivitas sekolah sehari-hari.
“Sekolah perlu menyediakan berbagai aktivitas Social Emotional Learning (SEL) seperti melukis, musik, journaling, dialog kelompok kecil (circle time), atau kegiatan di alam untuk membantu siswa mengenali dan menyalurkan emosinya dengan sehat,” tutur Novi.
Melalui kegiatan semacam itu, siswa didorong untuk mengekspresikan perasaan mereka dengan cara yang positif dan konstruktif. Selain menjadi sarana pemulihan, kegiatan SEL juga membantu memperkuat rasa empati, kepercayaan diri, serta hubungan sosial antar siswa.
Novi menambahkan bahwa hasil dari kegiatan SEL dapat dijadikan catatan perkembangan emosional siswa. Catatan tersebut bisa menjadi bahan evaluasi bersama orang tua dalam pertemuan wali murid. Dengan begitu, proses pemulihan anak bisa dipantau secara berkelanjutan, baik di sekolah maupun di rumah.
“Pemulihan pascatrauma bukan sekadar soal akademik, tetapi tentang memberi ruang aman bagi anak untuk terkoneksi dengan Tuhan, sesama, dan alam sehingga anak-anak dapat tumbuh kembali dengan kepercayaan diri dan empati yang lebih kuat,” ujar Novi.
Ia juga menegaskan, apabila gejala trauma tidak menunjukkan perbaikan atau justru semakin berat, maka siswa perlu segera mendapatkan pendampingan profesional.
“Bila gejala trauma tidak kunjung membaik atau semakin berat, anak perlu segera dikonsultasikan ke psikolog,” tambahnya.
Dukungan Psikososial dari Pemerintah
Upaya pemulihan mental pascainsiden di SMAN 72 Jakarta tidak hanya dilakukan di tingkat sekolah, tetapi juga mendapat dukungan dari pemerintah. Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) menyampaikan bahwa kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut kini berjalan kondusif secara daring.
Selain itu, Kemendikdasmen juga telah melaksanakan dukungan psikososial awal berbasis Psychological First Aid (PFA) bagi siswa, guru, dan wali murid. Langkah ini diambil untuk memastikan proses belajar tetap berlangsung tanpa mengabaikan kebutuhan psikologis warga sekolah.
Sekretaris Jenderal Kemendikdasmen, Suharti, menjelaskan bahwa pelaksanaan dukungan psikososial tersebut dilakukan dengan pendampingan profesional dari berbagai lembaga. Tercatat ada 56 psikolog yang terlibat, berasal dari Himpunan Psikolog Indonesia (HIMPSI), Psikolog Polri, Dinas PPAPP, Dinas Sosial, dan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta.
“Layanan psikososial pascabencana bertujuan untuk menghilangkan trauma warga sekolah. HIMPSI merupakan mitra yang kami gandeng untuk melakukan layanan psikososial pasca bencana,” kata Suharti di Jakarta, Selasa.
Pendekatan ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah untuk memberikan perhatian serius terhadap kondisi psikologis peserta didik dan tenaga pendidik yang terdampak insiden.
Membangun Ketahanan Mental di Lingkungan Sekolah
Kasus yang menimpa SMAN 72 Jakarta menjadi pengingat penting bahwa sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi juga ruang tumbuh bagi anak-anak muda dalam membentuk karakter dan ketahanan diri.
Kesehatan mental di lingkungan pendidikan kini diakui sebagai faktor krusial yang menentukan keberhasilan akademik dan kesejahteraan siswa secara menyeluruh.
Dalam konteks ini, sekolah memiliki peran strategis untuk menciptakan budaya yang inklusif, empatik, dan sadar akan pentingnya kesehatan mental. Program seperti Ruang Jeda dan kegiatan SEL bisa menjadi langkah sederhana namun berdampak besar dalam mencegah munculnya trauma berkepanjangan di kalangan siswa.
Selain itu, sinergi antara sekolah, orang tua, dan pemerintah juga menjadi kunci keberhasilan. Dukungan emosional yang konsisten dari lingkungan sekitar dapat membantu siswa kembali menemukan rasa aman, semangat belajar, dan kepercayaan diri setelah melalui pengalaman traumatis.
Pendekatan yang menekankan keseimbangan antara aspek akademik dan emosional seperti ini diharapkan bisa menjadi model baru dalam pengelolaan sekolah pascainsiden. Dengan begitu, setiap anak memiliki kesempatan untuk pulih dan berkembang secara optimal, baik secara intelektual maupun mental.