INVERSI.ID – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan tingginya permintaan dolar Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu penyebab utama pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus level Rp17.700 per dolar AS.
Menurut Airlangga, tekanan terhadap rupiah saat ini dipengaruhi kombinasi faktor global dan meningkatnya kebutuhan dolar AS di dalam negeri, terutama selama periode ibadah haji dan musim pembagian dividen perusahaan.
“Faktor global juga sangat mempengaruhi dan seperti yang saya sampaikan selama bulan ibadah haji ini kan demand terhadap dolar juga tinggi,” kata Airlangga di kantornya, Jakarta, Selasa.
Ia menjelaskan, kebutuhan mata uang dolar AS meningkat setelah banyak perusahaan menyelesaikan laporan keuangan tahunan dan mulai melakukan pembayaran dividen kepada investor. Situasi tersebut membuat permintaan dolar di pasar domestik melonjak dalam beberapa waktu terakhir.
Menurutnya, kondisi itu semakin diperberat oleh kenaikan harga minyak dunia yang dipicu ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang belum mereda.
“Sesudah laporan keuangan, pembayaran dividen itu kebanyakan juga di bulan-bulan ini. Jadi memang demand-nya sedang tinggi. Plus harga minyak masih naik,” jelasnya.
Airlangga menilai kombinasi tingginya permintaan dolar dan lonjakan harga minyak global menjadi tekanan eksternal yang cukup besar terhadap pergerakan kurs rupiah.
Meski demikian, pemerintah berharap kondisi nilai tukar rupiah bisa membaik pada semester kedua tahun ini.
“Mudah-mudahan semester II bisa lebih baik lagi,” tambahnya.
Pada penutupan perdagangan Selasa, nilai tukar rupiah tercatat melemah 38 poin atau sekitar 0,22 persen menjadi Rp17.706 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah berada di level Rp17.668 per dolar AS.
Sementara itu, analis Bank Woori Saudara Rully Nova menilai pelemahan rupiah juga dipengaruhi tingginya harga minyak dunia yang masih bertahan di atas 100 dolar AS per barel.
Menurut Rully, pelaku pasar saat ini juga masih menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang akan diumumkan dalam waktu dekat.
“Rupiah pada perdagangan hari ini melemah dipengaruhi faktor domestik menanti hasil RDG BI (Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia) yang diumumkan besok dan ruang fiskal yang masih terbatas akibat subsidi membengkak seiring tren kenaikan harga minyak dunia masih di atas 100 dolar,” ujar Rully.
Kondisi pelemahan rupiah dan kenaikan harga minyak dunia saat ini menjadi tantangan tersendiri bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional, terutama terkait beban subsidi energi dan daya beli masyarakat.